Cerpen Cinta Karya Esha Dewandaru BUNGLON Part1

Cerpen cinta | Selamat pagi berjumpa lagi dengan CTE kali ini saya akan berbagi cerita cinta yang sangat menginspirasi kita semua mungkin kisah ini bisa di jadikan sebuah pelajaran berharga buat anda-anda semua, cerpen ini mengisahkan antara dua bunglon bunglon beneran dan bunglon singkatan, saya tak akan jelaskan bunglon disini silahkan sahabat baca sendiri cerita ini dan pasti anda akan menemukan jawabanya, tapi saya akan saya kasih tau siapa tokoh wanita dalam cerita ini chaca namanya dialah yang di panggil bunglon, dia adalah seorang gadis cantik dan cerdas namun tak pernah mengenal yang namanya bangku sekolah.

Cerpen Cinta

BUNGLON


Oleh Esha Dewandaru

31 Desember

Malam pergantian tahun. Percik-percik kembang api sejak senja tadi telah menghiasi angkasa dengan kilauan warna-warni. Suara sayup musik yang ingar bingar juga telah terdengar sejak hari mulai gelap, ditingkah suara terompet di kejauhan. Semua orang bersuka cita menyambut tahun baru. Semua orang menikmati malam pergantian tahun dengan berpesta atau melalui malam pergantian tahun bersama orang-orang yang istimewa. Sejak seminggu lalu telah sampai di tanganku kartu undangan pesta malam tahun baru dari teman-teman. Teman-teman kantor mengadakan pesta di Bali. Mereka sudah berada di sana sejak tiga hari lalu. Sekalian liburan, kata mereka. Tapi aku tidak tertarik ikut pesta bersama mereka. Aku sudah bosan mengunjungi Bali. Jika bukan karena urusan kantor yang sangat penting, rasanya aku malas menginjakkan kaki di sana. Apalagi hanya untuk pesta pergantian tahun seperti malam ini. Meski presiden direktur telah mengundangku secara langsung sebelum pergi, namun aku tetap bertahan untuk tidak ikut serta.

Lelaki muda itu meletakkan punggungnya yang lelah di sandaran sofa yang empuk. Ia memejamkan matanya sejenak, menghapus pedih yang menderanya. Laptopnya masih berada di pangkuan, dengan kursor yang berkedip-kedip. Ia menekan dua tombol pada keyboard laptopnya secara bersamaan untuk menyimpan tulisan yang baru saja ia ketik, lalu meletakkan benda itu  di meja. Lelaki muda itu melangkah menuju balkon, menghirup udara malam sembari menikmati indahnya ribuan percik kembang api yang melukisi langit malam. Sebentar saja ia berdiri di balkon rumahnya yang mewah. Ia lalu kembali duduk di sofa sembari memangku laptopnya seperti yang dilakukannya semula. Alunan musik klasik masih terdengar perlahan sejak ia menyalakannya. Kali ini ia mengutak-atik benda itu untuk mencari folder yang berisi serpihan-serpihan kenangan. Ia suka melakukan itu. Membaca kembali catatan-catatan yang telah ia buat untuk menghadirkan kembali kenangan tentang saat istimewa dalam hidupnya. Terkadang ia akan tersenyum, merenung, bahkan menangis ketika membaca file-file itu. Namun ia selalu menikmatinya. Semua file itu diketiknya dengan model huruf book antiqua ditambah aksen italic.

2 Januari 

Aku baru pulang dari Jogja. Terpaksa memenuhi undangan pesta tahun baru di rumah Kakek. Ya, terpaksa. Karena sesungguhnya aku tak ingin. Apalagi disana mereka mengungkit-ungkit tentang Papa dan Mama. Selama ini aku selalu menghindari pesta tahun baru karena aku tak mau kembali menggali memori tentang mereka. Setiap menghadiri pesta tahun baru aku selalu teringat pada pesta serupa yang diadakan pihak kantor dua tahun lalu. Aku mengajak Papa dan Mama untuk ikut, bahkan membujuk mereka yang sebenarnya tak ingin. Di tengah pesta yang meriah, tiba-tiba lampu padam dan kegelapan total menyelimuti ruangan pesta. Semua berpikir itu adalah kejutan pesta. Namun ketika lampu kembali menyala, semua benar-benar dibuat terkejut dengan kehadiran dua sosok yang tergantung di tengah-tengah ruang pesta. Dua sosok itu adalah Papa dan Mama, dalam keadaan tubuh penuh sayatan dan darah segar yang terus menetes! Sudahlah. Aku tak ingin melanjutkan cerita tentang kematian mereka. Biarlah detail kenangan tentang mereka hanya hidup dalam memoriku saja. Kembali pada kunjunganku ke Jogja, aku bertemu dengan Om Bimo, adik bungsu Mama. Aku diberi seekor bayi bunglon. Kata Om Bimo agar aku punya teman, agar aku tak berlarut-larut dalam kenangan kesedihan karena aku punya kesibukan merawat si bunglon.

4 Februari

Benar kata Om Bimo, dengan memelihara bunglon aku jadi memiliki kesibukan lain selain rutinitas kantor yang melelahkan (dan membosankan). Setelah sebulan hidup bersama, aku dan bunglon telah saling memahami. Apalagi aku telah merawatnya sejak ia bayi. Aku sudah seperti ayah kandungnya. Setiap kali aku mengajaknya bermain, dia selalu bisa menirukan warna baju yang kupakai. Keunikan ini yang selalu menghiburku.

5 Maret

Bunglon itu seperti manusia. Berubah karena maksud-maksud tertentu. Bunglon mengubah warna kulitnya ketika merasa terancam, untuk menyesuaikan suhu, atau karena pengaruh emosinya. Manusia juga demikian. Manusia mengubah wajahnya ketika harga dirinya terancam, untuk menyesuaikan prestise lingkungan, atau karena pengaruh kejiwaan. Perubahan warna kulit bunglon dikenal dengan mimikri, perubahan wajah manusia dikenal dengan munafik.

7 April

Teman sekantor mengajakku ke rumah bordil. Gila! Dia mengajakku bersenang-senang sepulang kerja. Ke Bali saja aku malas, apalagi ke sarang bunglon lokal seperti ini. Aku benci dengan gaya semua penghuni tempat ini. Mereka semua berwajah manis manja yang menjijikkan, sama menjijikkannya dengan pekerjaan mereka. Sempat terjadi keributan kecil ketika temanku itu memilih wanita yang akan menemaninya. Mungkin mereka berebut, aku tak peduli. Aku memilih ke luar ketika temanku yang telah terjangkit kerusakan moral itu meniti tangga ke lantai dua bersama seorang wanita yang nyaris telanjang. Aku tidak betah berlama-lama di sana, aku ingin segera meninggalkan tempat itu. Namun ketika aku baru akan membuka pintu mobil, aku melihat seorang gadis yang tengah menikmati semangkuk bakso di pelataran rumah mewah yang kudatangi. Gadis itu terlihat akrab dengan abang penjual bakso yang mangkal tak jauh dari tempatku berdiri di parkiran mobil. Kuperhatikan gadis itu. Dandanannya sama dengan para wanita di dalam rumah, hanya saja pakaiannya tidak terlalu minim. Gaya bicaranya juga sama seperti mereka. Setelah menandaskan bakso di mangkuknya ia segera menghisap sebatang rokok. Mungkin karena menyadari aku sedang memperhatikannya, ia menoleh ke arahku. Pada saat itulah aku segera masuk ke dalam mobil dan segera meluncur meninggalkan tempat itu.

21 April

Aku ingin tahu apakah para penghuni rumah mewah itu mengenal hari ini. Ternyata tidak. Malam ini bahkan lebih banyak pria yang datang untuk berpesta karena ini malam Minggu. Ruang utama di lantai dua penuh, apalagi ruang pesta di sebelahnya. Di tangga yang menuju kamar-kamar di lantai tiga tak henti orang berpasangan berseliweran, naik dan turun. Rupanya tempat ini telah dikelola secara profesional sebagai tempat memuaskan nafsu. Aku kembali mendapati gadis yang kemarin berada di luar rumah. Kali ini ia duduk di sebelah gerobak sate. Aku tergerak untuk makan sate bersamanya untuk berkenalan dengannya. Aku tak mengerti mengapa aku melakukan ini. Padahal sebelumnya aku tak pernah melakukan hal bodoh seperti ini, apalagi mengajak berkenalan seorang wanita di dekat rumah bordil. Namanya Chamila Leonita, dipanggil Cacha. Nama yang cantik, pintar ia memilih nama, sama seperti nama-nama cantik para wanita pemuas di dalam sana. Usianya dua puluh tahun. Lima tahun lebih muda dariku. Dia tinggal di dalam rumah mewah itu bersama dua puluh wanita lain di bawah asuhan seorang Mami. Dia teman berbincang yang menarik. Namun dia tak pernah menggodaku, bahkan ketika aku mencoba menggoda ia justru mengalihkan pembicaraan. Aku mencoba mengajaknya pergi jalan-jalan seperti yang dilakukan teman-temanku, namun dia menolaknya kemudian meninggalkanku. “Huh, dasar bunglon. Pura-pura kagak mau padahal ngebet.” Kudengar abang tukang sate bicara, namun aku tidak tertarik untuk membahasnya.

30 April

Aku bertemu Cacha di sebuah restoran. Aku berencana mengadakan rapat ringan dengan kolega kantor di restoran itu besok siang. Tak kusangka ternyata Cacha bekerja sebagai pelayan di sana. Aku menunggunya selesai bekerja untuk mengajaknya mengobrol. Dia mulai terbuka padaku dengan menceritakan tentang pekerjaannya. Aku pun menceritakan pekerjaanku padanya. Entahlah, kurasa aku tertarik padanya.

8 Mei

Ternyata ia seorang bunglon. Seperti yang dikatakan abang tukang sate tempo hari. Aku terpaksa mengurungkan niat merayakan ulang tahunku bersamanya karena kudapati ia tengah melayani seorang laki-laki hidung belang di rumah mewah itu. Aku memang salah telah menaruh hati padanya dan menganggapnya istimewa. Aku lupa bahwa ia berasal dari lokalisasi. Semula kupikir ia berbeda dengan wanita lain di tempat itu. Tapi ternyata sama saja. Ia menolakku karena ia menginginkan yang lebih dariku. Aku tak akan pernah menemuinya lagi.

8 Juli

Lega kembali memijakkan kaki di bumi pertiwi. Selama lebih dari sebulan aku menjelajah sebagian dunia untuk urusan kerja sama internasional. Berkeliling benua Asia, Eropa, dan Amerika. Mengenal budaya baru yang membuatku semakin memahami adanya perbedaan unik antar manusia dan membuatku semakin sadar akan kebesaran Sang Pencipta. Meski otakku diperas untuk berpikir agar kerja sama perusahaan kami dengan orang-orang asing itu berjalan lancar, tapi pihak penyelenggara cukup pengertian mengadakan acara jalan-jalan yang menyegarkan. Berkunjung ke tempat-tempat bersejarah dunia. Kembali ke Indonesia membuatku kembali teringat pada Cacha. Tapi untuk apa aku mengingatnya? Dan untuk apa pula aku bersusah payah membelikan ia oleh-oleh kecil dari setiap kota yang kukunjungi? Aku tak tahu. Ketika kuaktifkan telepon, banyak pesan permintaan maaf darinya selama kutinggalkan. Aku tak peduli dengan semua kata-kata maafnya. Ia adalah seorang bunglon. Gadis munafik. Kata-katanya hanya manis di bibir saja. Segera kuhapus semua pesan yang berasal dari nomornya tanpa kudengarkan lagi.