Cerpen Cinta Karya Esha Dewandaru BUNGLON Part2

Cerpen Cinta

23 Juli

Puasa Ramadhan tak menyurutkan semangat kerja kami dan terus berkarya. Lagi-lagi aku teringat pada Cacha. Apakah kegiatannya di lokalisasi itu terhenti pada bulan Ramadhan seperti ini? Terlebih lagi dengan banyaknya pihak yang menuntut tempat seperti itu tutup selama Ramadhan. Ah, tapi mereka semua itu bunglon, bisa saja mereka tutup hanya di waktu siang. Malam hari, siapa yang tahu?

4 Agustus

Aku baru pulang dari rumah sakit. Menemani Cacha berbuka puasa di sana. Sungguh semua pemikiranku tentangnya selama ini salah. Ia bukanlah seorang bunglon. Meski selama ini ia dipanggil dengan sebutan ‘Bunglon’, kependekan dari Bunga Lonte. Sejak kemarin pikiranku dipenuhi oleh gadis ini. Untuk memuaskan rasa penasaranku, aku pergi ke tempat tinggalnya. Rumah itu sepi. Maka aku bertanya pada abang tukang bakso yang kebetulan ada di sana. Kata tukang bakso itu, Cacha sudah seminggu dirawat di rumah sakit. Aku segera mencarinya. Ia terbaring dengan sangat lemah di ruang terburuk di rumah sakit ditemani wanita yang dulu menemani teman sekantorku saat pertama kali aku berkunjung ke rumah bordil itu. Ana nama wanita itu, Cacha memanggilnya Tante Ana. Dari Tante Ana aku mengetahui segala hal tentang Cacha. Kata Tante Ana, seluruh organ dalam tubuh Cacha tidak berfungsi secara maksimal karena pengaruh usaha pengguguran yang dilakukan ibunya saat Cacha dalam kandungan. Tidak ada yang tahu siapa Ayah Cacha, sementara ibunya meninggal ketika melahirkan. Tante Analah yang selama ini merawat Cacha. Aku segera meminta agar Cacha dipindahkan ke ruangan yang terbaik dengan pelayanan yang terbaik. Aku ingin Cacha segera sehat kembali.

12 Agustus

Aku memiliki kesibukan baru disamping pekerjaan kantor yang selama ini sudah menyibukkanku, menemani Cacha di rumah sakit setiap akhir pekan. Alhamdulillah, kesehatan Cacha mulai pulih. Meski organ tubuhnya tetap tidak berfungsi maksimal, namun telah ada perubahan pada kondisi Cacha ke arah yang lebih baik. Kabar gembira dari dokter, lusa Cacha sudah boleh ke luar dari rumah sakit.

14 Agustus

Mulai hari ini Cacha tinggal di rumahku, juga Tante Ana. Seminggu lagi Idul Fitri. Kulihat ada kesedihan di mata Cacha karena ia sama sekali tidak berpuasa Ramadhan ini. Bukan hanya Ramadhan ini, tapi juga Ramadhan-ramadhan yang lalu sepanjang hidupnya. Cacha sangat excited melihat bunglon peliharaanku di belakang rumah. Ia tersenyum geli dan katanya binatang itu sama seperti dirinya, sama-sama disebut bunglon. Rupanya panggilan Bunga Lonte itu telah melekat pada dirinya sejak ia lahir.

19 Agustus

Minal aidzin wal faidzin, mohon maaf lahir dan batin. Di hari yang fitri ini , aku kembali terenyuh mengetahui fakta tentang penghuni baru di rumahku ini. Cacha dan Tante Ana. Mereka sama sekali tidak mengenal islam. Tante Ana mengetahui Islam secuil saja, sementara Cacha tidak sama sekali. Astaghfirullah… selama ini mereka hidup di dunia yang mana? Aku bertekad akan memeluk mereka dalam indahnya Islam.

20 September

Alhamdulillah… usahaku tidak sia-sia. Cacha dan Tante Ana telah memeluk Islam dengan erat. Mereka kini memakai jilbab. Subhanallah. Meski awalnya begitu susah, namun mereka kini telah benar-benar ke luar dari dunia kelam prostitusi. Mereka telah mendapat pekerjaan yang halal, namun aku harus selalu mengingatkan Cacha agar tidak bekerja terlalu keras. Sekarang mereka sedang menghadiri pengajian di masjid dekat rumah.

21 Oktober

Cacha dan Tante Ana meninggalkan rumahku. Memang menimbulkan fitnah apabila ada wanita tinggal di rumah seorang perjaka yang hidup sendiri. Meski di rumahku ada pasangan suami istri tua yang bekerja sebagai pembantu, namun tetap saja fitnah itu merebak. Terlebih lagi orang  lebih memandang pada tempat mereka berasal. Masyarakat telah mengenal Cacha dengan baik sebagai ‘Bunglon’, tidak melihat Cacha yang sekarang.

30 November

Aku bertemu Cacha di Masjid Agung sore tadi setelah mengikuti kajian Ustadz Kondang yang dilaksanakan selepas dzuhur tadi. Aku sengaja sholat Jumat di masjid ini agar tidak terlambat mengikuti kajian sang Ustadz. Aku masih sering bertemu Cacha meski ia tidak tinggal di rumahku lagi. Gadis itu membuatku kagum. Ia memiliki otak yang cerdas dan semangat belajar yang tinggi. Setiap kali bertemu aku selalu membawa buku-buku untuk ia pelajari, dan setiap kali bertemu pula ia selalu melontarkan pertanyaan yang menjadi bahan diskusi kami. Ia hanya kurang beruntung karena lahir di tempat yang tidak normal dan berkembang dengan tidak normal pula. Meskipun ia tak pernah merasakan bangku sekolah, namun beruntungnya di tengah kesibukannya Tante Ana masih sempat mengajarinya baca, tulis, dan hitung.

30 Desember

Sejak pagi tadi Cacha berada di rumahku. Ia asyik bermain dengan bunglon peliharaanku. Ia suka sekali reptil itu. Aku telah menyusun rencana untuk memboyongnya kembali ke rumah ini tanpa menimbulkan fitnah. Bunglon ini akan menolongku melancarkan rencana itu. Lelaki muda itu menutup file lalu mematikan laptop di pangkuannya. Ia lalu meraih buku bersampul biru di meja.  Dibaliknya lembar demi lembar buku itu, sembari menyelami rangkaian huruf yang ditulis dengan tinta hitam dalam buku itu. Tante Ana yang memberikan buku itu sore tadi, dengan pipi yang basah. Lelaki muda itu menerimanya tanpa kata. Ia juga membacanya tanpa kata.


31 Desember

Hari ini aku ulang tahun, Tante Ana ngasih kado buku diary lengkap sama pulpennya yang lucu. Kata Tante Ana aku bisa nulis apa aja di buku ini, biar aku ngerasa punya temen. Jangan lupa dikasih tanggal. Aku pernah nonton film yang kayak gini, ada cewek yang nulis-nulis di diary. Aku juga mau nulis, tapi tulisan aku jelek banget ya. Gak papalah, nanti aku belajar lagi nulis yang bagus. Tapi sekarang aku mau nulis apa? Apa ajalah yang penting nulis.
Aku mulai dari biodata aku dulu. Namaku Chamila Leonita. Tapi orang-orang manggil aku bunglon, artinya bunga lonte. Mungkin karena aku tinggal sama para lonte alias pelacur. Cuma Tante Ana yang manggil aku Cacha. Umurku sekarang 19 tahun. Aku tinggal di rumah orang yang kupanggil Mami, tapi dia bukan ibuku. Rumah Mami besar dan bagus. Di lantai dasar ada kamar luas tempat aku tidur sama 20 orang pelacur, ada dapur, dan kamar mandi. Di lantai dua tempat buat nerima tamu. Ada tempat pesta dan minum-minum. Di lantai atas ada kamar-kamar buat tidur sama tamu. Kerjaanku di rumah ini ngeberesin semua ruang yang ada, semuanya.
Besok tahun baru, malam ini semua orang lagi pada pesta di ruang utama. Aku sendiri yang diem di kamar, Tante Ana gak ngijinin aku ikut, aku dikurung sendirian di kamar. Besok pagi aku harus beres-beres ngebersihin sisa pesta orang-orang. Aku sedih, aku gak ikut pesta tapi aku yang bersih-bersih. Tapi kalo gak gitu, aku gak bisa tinggal disini. Aku sama Tante Ana bakalan diusir sama Mami.

1 Januari

Capek banget rasanya habis bersih-bersih. Rumah masih sepi, orang-orang masih pada molor di kamar di lantai tiga. Kayaknya Cuma Tante Ana yang pulang ke kamar di lantai dasar. Tapi pulangnya pas aku udah tidur, aku disisain setengan botol vodka, pasti Tante Ana dapat Om-om yang kaya tadi malam. Kalo gini terus aku bisa dimarah sama Mami. 20 kamar di atas harus aku beresin sebelum sore, tapi kalo sampe tengah hari begini mereka belum bangun, mana bisa selese coba? Eh, untung pesta tadi malam lancar-lancar aja. Gak kayak pesta yang dua tahun lalu, itu tuh yang ada dua mayat orang kaya digantung di tengah ruang pesta. Hiii…aku gak bisa bayangin gimana jadi tukang bersih-bersih di sana.

6 Januari

Tiap hari Jumat aku punya kerjaan dobel. Selain bersih-bersih rumah ini, aku juga bantuin teman-teman di kamar  bersih-bersih. Kalo hari Jumat mereka dikasih libur sama Mami soalnya gak ada tamu yang datang. Tapi besok bejibun. Enaknya aku diajakin lulur-lulur juga. Ada sih yang bersih-bersih di salon, kalo mereka punya banyak duit. Tante Ana juga sekali-sekali ke salon, kalo habis ngelayani orang kaya. Tapi Tante Ana jarang dapat orang kaya, dia kan udah tua. Salah sendiri aku gak boleh ikutan mereka. Aku disuruh bersih-bersih tiap hari. Kalo aku gabung sama mereka kan aku pasti dapat pelanggan yang kaya, aku kan cantik, lebih cantik dari mereka semua. Tapi Tante Ana selalu bikin aku gak bisa tampil cantik. Tante Ana jahat. Aku dikurung, gak boleh ikut dia, gak boleh dekat-dekat sama temen-temen.

9 Januari

Mulai hari ini aku kerja jadi pelayan di restoran, Tante Ana yang nyuruh. Biar aku punya penghasilan sendiri, padahal aku tahu Tante Ana pengen aku jauh dari dia. Aku kerja dari pagi sampe sore. Malamnya aku harus diem di kamar.

10 Februari

Benar kata Tante Ana, buku ini jadi teman curhatku biar aku bisa nulisin semua yang aku rasain, semua yang aku alamin. Buku ini harus dirahasiain, gak ada yang boleh baca selain aku. Tante Ana juga gak boleh.
Soal nyuruh aku kerja, ternyata aku salah terima. Tinggal di rumah Mami tuh gak gratis. Semua pelacur yang tinggal di sana harus bayar dari sebagian hasil kerja mereka. Selama ini aku bayar pake tenaga. Aku kerja bersih-bersih di sana gak pernah di bayar. Sekarang karena umurku udah 19 dan aku punya body menarik, Mami pengennya ngejual aku juga. Tapi Tante Ana ngelarang aku ikut kerja kayak dia. Makanya dia masukin aku kerja di restoran itu, biar aku bisa bayar biaya tinggal di rumah Mami. Aku udah gajian. Tante Ana nyuruh aku nabung sebagian gajiku, setengahnya lagi Tante Ana kasih ke Mami.

10 Maret

Aku baru pulang kerja di restoran. Kamar sepi. Kayak biasanya setiap Sabtu dari siang udah banyak tamu yang datang ngajak nginap di hotel. Besok sore mereka baru pulang, biasanya bawa barang-barang bagus dibeliin sama tamu-tamu yang booking mereka. Tapi aku gak boleh ikut-ikutan kayak gitu sama Tante Ana.
Mumpung orangnya lagi gak ada, aku mau cerita tentang Tante Ana. Dia itu sobatnya Mama. Mama dulu juga anak buah Mami, pelacur di rumah Mami ini. Mamaku dan Tante Ana sama-sama dari kampung, tapi Tante Ana gak pernah ngasih tahu lengkapnya. Mama meninggal waktu ngelahirin aku. Sejak itu Tante Ana yang merawat aku, bukan di sini tapi di tempat lain. Tante Ana gak ngasih tahu juga lengkapnya. Waktu Tante Ana kehabisan uang, dia bawa aku balik lagi ke sini, kerja sama Mami lagi sampe sekarang. Tante Ana yang ngajarin aku baca, nulis, soalnya aku gak boleh sekolah. Sebelum kerja di restoran aku malahan gak boleh ke luar gang, kecuali bantuin si Mbok belanja di pasar.


0 komentar