Cerpen Cinta Paling Sedih Karya Esha Dewandaru Part2

Cerpen Cinta Paling Sedih


"Sekarang tanggal 30 September. Berarti udah enam hari Satria nggak masuk. Gue kangen sama dia. Dia baik-baik aja nggak, ya? Gue malu mau menghubungi dia....” ujar Rhea lirih di kamarnya. Dia menandari kalender di meja belajarnya. Di luar, hujan masih turun seiring sungai kecil yang mengalir di pipi Rhea.
“Rhe... kok nangis?”
“Eh, Abang. Ada apa, Bang?” tanya Rhea kaget menyadari abangnya sudah berdiri di ambang pintu kamarnya. Cepat-cepat diusapnya air mata.
“Kamu tuh yang ada apa? Lagi mikirin siapa sih, Rhe?”
“Nggak kok Bang. Bang Ari belum tidur?”
“Rhe, Abang tuh bukan baru kemaren sore kenal sama kamu,”ujar Bang Ari lalu mendekati Rhea dengan bantuan tongkat dan duduk di samping adiknya. “Cerita deh sama Abang, ada masalah apa sih Rhe?”
“Nggak ada, Rhea nggak punya masalah.”
“Kok nangis? Coba lihat kalendernya. Ini tanggal apa yang ditandai, Rhe?”
“Bukan apa-apa kok, Bang.”
“Abang kan udah bilang, bukan baru kemaren sore Abang kenal sama kamu, tapi udah sejak kamu lahir Abang udah ada di samping kamu. Ikut ngejagain kamu. Jadi nggak usahlah kamu sembunyikan masalah dari Abang,” bujuk Ari.
“Itu tanggal nggak masuknya temen Rhea, Bang,” ujar Rhea pelan.
“Temen apa demen?” goda Ari.
Rhea menarik napas, lalu menghembuskannya seraya berkata, “Rhea emang suka sih Bang sama Satria, tapi....”
“Ow, ow, jadi namanya Satria? Kayak apa sih rupa cowok yang bikin adiknya Bang Ari yang cantik ini sampe kayak gini? Abang pengen ketemu orangnya,” sahut Ari sebelum Rhea menyelesaikan kalimatnya.
“Dengar dulu, jangan asal sambar aja! Rhea emang suka sama Satria, tapi Rhea nggak berani mengungkapkan sama dia, Bang. Rhea malu.”
“Kenapa harus malu? Tunjukkan dong rasa sayangmu. Kalo nggak, mana bisa dia tau kalo kamu suka sama dia?”
“Tapi Rhea kan cewek, Bang. Masa mau bilang duluan?”
“Apa tadi Abang nyuruh kamu ‘bilang’? Abang minta kamu ‘tunjukkan rasa sayangmu’ bukan ‘bilang sayang’. Ngerti?”
“Ng....gak. Tapi Rhea coba deh. Makasih ya, Bang. Bang Ari emang T.O.P deh.”
“Dasar anak kecil. Eh, ininya mana?” Ari menunjuk pipinya.
Rhea paham. Ia mencium pipi kakaknya sebagai ungkapan rasa sayang.
“Udah ah, Abang keluar gih. Rhea mau bobo’ dulu, kali aja mimpi ketemu Satria.”
“Abang diusir, nih? Tega banget,” protes Ari lalu berdiri dengan bertumpu pada kedua tongkat yang menopang tubuhnya.
“Abang bisa sendiri, nggak?” tanya Rhea khawatir. Dia ikut berdiri dan berjaga-jaga kalau-kalau abangnya jatuh.
“Bisa dong. Abang kan jagoan. Jangan lupa doa sebelum tidur,” pesan Ari mengecup kening Rhea sebelum ke luar dari kamar adiknya yang tercantik itu.
Rhea mengikuti Ari sampai ke pintu kamar dan memandangi Ari yang berjalan tertatih-tatih sampai hilang di balik pintu kamarnya. Setelah yakin abangnya baik-baik saja sampai di kamar, Rhea merebahkan tubuh di kasurnya sambil menerawang langit-langit kamar. Dia mengingat apa yang baru saja disampaikan abangnya. Lama-lama Rhea terpejam dengan senyum tersungging, berharap bertemu Satria walau hanya dalam mimpi.
Sementara Ari, setelah menutup pintu kamarnya, dia duduk di samping meja belajar. Tangannya membuka laci meja, mengeluarkan sebuah buku tebal bersampul gelap. Ari membuka buku itu dan memandang fotonya bersama Rhea yang dia sisipkan dalam buku itu.
“Adek gue lagi jatuh cinta. Rhea, Rhea.... gue sayang banget sama loe, dek. Tapi mungkin gue ngecewain loe dengan keadaan gue yang kayak gini. Loe nggak bakal pernah tau Rhe, tepat di malam ultah loe, gue keliling cari kado buat loe. Gue pengen jadi orang pertama yang ngucapin ‘Happy Birthday’ sekalian memberi loe kado istimewa. Makanya gue ngebut dan.... gue mengalami kecelakaan sampe jadi kayak gini.
“Maafin Bang Ari ya, Rhe. Sekarang loe udah gede, udah tujuh belas tahun. Abang nggak bisa jagain loe terus-terusan kayak dulu. Selain karena keadaan Abang kayak gini, juga karena loe udah menemukan cinta loe.
“Abang harap loe nggak jatuh cinta pada orang yang salah ya, Rhe. Abang harap Satria orang yang tepat. Meskipun Abang belum pernah ketemu sama dia, tapi Bang Ari harap dia bisa gantiin Abang buat jagain Rhea.
“Maafin Bang Ari, Rhe. Bang Ari belum bisa jadi kakak yang baik buat Rhea. Bang Ari sayang banget sama Rhea.”
Ari menutup buku itu lalu mengembalikannya ke laci dan rebah di tempat tidur. Dia memandangi tongkat yang tersandar di dekatnya, lalu kakinya yang tinggal sebelah, dan matanya mendarat pada foto besar yang digantung di dinding. Di sana ada dirinya, Rhea, dan mamanya, tersenyum di belakang sebuah sepeda motor sport warna biru gelap. Itulah sepeda motor kesayanggannya, ia beli dengan uangnya sendiri.
Tiba-tiba air mata Ari meleleh. Sepeda motor itu kini ada di garasi, entah bagaimana bentuknya. Kunci sepeda motor itu, yang digantung di sebelah foto besar tadi, tidak pernah dia sentuh lagi. Ari tidak bisa lagi menikmati jalan-jalan bersama Rhea dengan sepeda motor itu.
Malam itu rumah kecil itu sudah sepi. Mama sudah tidur, Rhea juga. Tinggallah Ari yang masih melek seorang diri. Mengenang hari-hari bahagia bersama Papa, Mama, dan adiknya. Tapi papa sudah lama meninggal, tinggallah dia yang paling ganteng di rumah mungil itu.
***
“Satria, loe udah sembuh! Syukurlah... gue seneng, Bro, loe udah masuk lagi.”
Rhea kaget mendengar seruan Davy dari dalam kelas. Rhea berlari masuk kelas.
“Satriaaaa....!!!” pekiknya sembari berlari ke arah pojok belakang kelas. Semua pasang mata tertuju ke arah Rhea. Kelas jadi sepi seketika, semua memandangi Rhea yang berdiri di dekat meja Satria.
“Ya, Rhe. Ada apa?” tanya Satria pelan. Rhea jadi malu sudah teriak-teriak, apalagi ditatap heran teman-teman sekelasnya.
“Oh, eh, nggak. Gue Cuma... nggg.... Cuma... pengen bilang selamat datang kembali di kelas ini,” jawab Rhea gugup. Lalu dia berjalan ke mejanya sendiri sambil menundukkan wajah yang memerah.
Selama pelajaran berlangsung, Rhea diam-diam sering menoleh ke pojok belakang kelas. Di sana Satria duduk dengan lesu, karena dia belum benar-benar sembuh dari sakitnya. Tapi dia nekat masuk sekolah diantar ayahnya karena seminggu lagi mau ujian tengah semester. Padahal sudah beberapa hari ini hujan terus turun setiap hari, juga pagi itu awan putih masih setia memayungi, menurunkan titik air bagai untaian tirai manik-manik yang menjuntai dari langit.
“Anak-anak, kalian kerjakan dulu ya, latihan di halaman 13, bagian A nomor 1 sampai 10. Kerjakan di buku tugas. Bapak mohon maaf tidak bisa menemani kalian berlatih saat ini karena ada urusan yang harus Bapak selesaikan. Siapa ketua kelas ini? Davy ya? Kalau sampai pukul 10.30 Bapak belum kembali, tolong Davy kumpulkan semua buku tugas di ruang guru,” perintah Pak Adam, guru matematika yang baik hati dan handsome, dan ramah, dan murah senyum, dan humoris, dan enak cara mengajarnya, dan.... dan pokoknya yang jelas bikin betah belajar matematika, lalu bapak guru muda yang jadi idola itu meninggalkan ruang kelas XII IPA 1.
“Va, hari ini tanggal 1 Oktober, kan?” tanya Rhea sebelum menuliskan tanggal di sudut atas buku tugasnya.
“He-eh,” jawab Iva.
“Eh, ya ampun salah tulis. Va, pinjam tip ex dong.”
“Tadi dipinjam Satria,” kata Iva tanpa mengalihkan pandangan dari buku.
Sambil senyum-senyum Rhea menghampiri tempat duduk Satria.
“Satria, gue pinjam dong tip ex-nya Iva,” ujar Rhea.
“Sebentar,” sahut Satria pelan.
“Loe masih sakit, ya?”
“Iya nih masih pening. Gue juga belum kuat jalan, masih lemas banget. Ini tip ex-nya.” Satria mengulurkan botol tip ex.
‘Drrrttt... drrrttt... drrrttt... grrrttt... grrrttt... grrrttt...’
Terdengar suara aneh yang makin lama makin keras. Botol tip ex yang dipegang Satria terjatuh bersamaan dengan jatuhnya jam dinding di dinding belakang kelas.
“Gempa!!! Gempa!!!”
Semua terpekik dan berlarian panik ke luar kelas tanpa peduli apa-apa lagi selain menyelamatkan diri sendiri-sendiri. Rhea juga merasakan getaran itu. Getaran yang makin lama menjadi guncangan hebat. Ingin ia lari ke luar bersama yang lain, tapi dia kasihan melihat pangerannya.
“Larilah Rhe, cepetan! Selamatkan diri loe! Ngapain loe masih di sini?!” ujar Satria.
“Nggak! Gue nggak mau ke luar kalo loe di sini!”
“Jangan bodoh Rhea! Biar gue mati ketimpa, gue nggak bisa gerak, gue udah pasrah...”
Rhea jadi bingung. Dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan di tengah guncangan hebat itu.
“Ayo Satria, kita harus cepat-cepat ke luar!” ujar Rhea lalu dengan susah payah dia berusaha memapah Satria ke luar kelas. Dia tidak peduli pada penolakan Satria, dia terus menariknya ke luar.
Gedung sekolah mulai runtuh saat Rhea dan Satria baru mencapai pintu. Tapi guncangan yang dahsyat itu meruntuhkan gedung sekolah sebelum Rhea dan Satria bergabung bersama para guru dan teman-teman yang lain di tempat yang aman. Rhea sempat mendorong tubuh Satria sebelum bangunan sekolah runtuh menimpanya.
“Rheaaaaa!!!”
Rhea masih sempat mendengar teriakan itu. Ada suara Satria di antar suara-suara yang berteriak. Sebongkah pecahan dinding menghantamnya dan tiba-tiba semua gelap. Guncangan yang dahsyat itu berangsur pelan hingga akhirnya tidak terasa sama sekali. Bangunan sekolah runtuh dan Rhea terjepit di salah satu bagian reruntuhannya.
Beberapa orang berdatangan berusaha memberikan pertolongan.
“Teman saya, Pak... Rhea... dia kejepit di bawah sana,” ujar Iva diantara isak tangisnya.
“Iya dek, tenang dulu. Kami berusaha menolongnya. Adek tenang dulu, berteduhlah dulu dek,” sahut orang itu.
“Nggak Pak, saya mau nunggu sahabat saya...”
Iva berdiri di bawah guyurn hujan dengan air mata yang tidak berhenti mengalir.
Sementara Satria sudah terbaring di ranjang rumah sakit. Dia tidak sadarkan diri tak lama setelah kepalanya membentur batu pembatas taman sekolah. Tapi itu lebih baik. Kalau saja Rhea tidak mendorongnya mungkin dia tidak selamat karena tertimpa bangunan sekolah yang runtuh.
Hujan yang mengguyur menambah sulit proses evakuasi. Setelah lama berlalu barulah Rhea bisa dikeluarkan dari timbunan reruntuhan bangunan kelasnya dengan keadaan utuh, hanya kakinya yang patah dan banyak luka di sekujur tubuhnya. Iva langsung memeluk tubuh Rhea yang digolekkan di halaman sekolah. Semua orang berpikir Rhea sudah tiada. Iva menangis histeri sambil memeluk tubuh Rhea erat.
“Pak, dia masih hidup!” pekik Iva setelah beberapa saat merasakan detak jantung Rhea.
Setelah diperiksa, memang jantung Rhea masih berdetak dengan sangat pelan, nyaris tidak terasa. Seseorang yang sudah menenteng kantung jenazah melemparkan kantung yang dibawanya dan membantu menggotong tubuh Rhea ke rumah sakit.
Rumah sakit itu penuh. Dokter dan para susternya sibuk mengurusi pasien yang luka-luka karena bencana itu. Di rumah sakit itu Iva bertemu orang tuanya dan orang tua Satria, namun tidak ada orang tua Rhea.
***
Rhea bersimpuh di bawah pohon kamboja. Kerudung hitamnya melambai ditiup angin sementara air matanya belum berhenti mengalir sejak ia berangkat ke tempat itu. Gundukan tanah merah di hadapannya sudah berjam-jam dia remas-remas. Juga papan nisan putih bertuliskan nama Ari Ekananta itu tak luput dari usapannya.
“Bang Ari....” panggilnya entah sudah berapa ratus kali. “Bang Ari, kenapa secepat ini Bang Ari pergi? Tiga hari lalu Rhea masih bercanda sama Bang Ari. Tiga hari lalu Rhea curhat tentang  cinta Rhea. Tiga hari lalu... rupanya terakhir kalinya Rhea mencium pipi Bang Ari, terakhir kalinya Rhea rasakan kecupan sayang Bang Ari.
“Bang Ari... sekarang nggak ada lagi orang yang ngejagain Rhea, nggak ada lagi teman dekat Rhea. Cuma tongkat ini Bang, tongkat Bang Ari. Sekarang tongkat ini yang menggantikan Bang Ari, tongkat ini menopang tubuh Rhea.
“Rhea sayang Bang Ari. Sekarang siapa yang menemani Rhea, yang bisa menjadi teman Rhea kayak Bang Ari?”
“Gue, Rhe. Gue yang akan jagain loe,” sebuah suara menjawab pertanyaan Rhea.
“Satria???”
“Iya, gue.”
Satria menunjukkan buku milik Ari. Buku yang diambil dari reruntuhan rumah Rhea. Buku itu utuh tertimpa serpihan meja belajar Ari.
“Ini catatan pribadi abang loe. Gue ambil waktu loe masih belum sadar, dan gue akan jadi orang kayak yang terakhir ditulis abang loe di buku itu.”
“Loe...”
Satria mengangguk mantap. Dipeluknya Rhea dengan erat dan penuh rasa sayang dan... cinta.
“Makasih...” bisik Rhea pelan.
“Sekarang loe bangun deh. Hapus air mata loe. Bang Ari pasti lebih senang kalo loe semangat.”
Rhea mengusap air matanya. Ia menyampaikan salam terakhir pada kakak tersayangnya. Satria membantunya berdiri kemudian mendampinginya berjalan pelan meninggalkan pekuburan.
“Loe tau nggak Rhe, cerita Bang Ari waktu gempa?”
“Nggak. Mama belum cerita apa-apa, gue langsung kesini begitu gue boleh ke luar dari rumah sakit dan tau Bang Ari... udah nggak ada.”
“Mama loe bilang, waktu gempa Bang Ari masih di kamar. Mama udah teriak-teriak panik. Bang Ari dah mau ke luar, tapi karena panik tongkat Bang Ari terlepas masuk ke kolong tempat tidur. Bang Ari jatuh, dan....”
“Ketimpa. Sama kayak gue,” potong Rhea. “Dan mama selamat.”
Pesan Ari yang terakhir kalinya ada berkahnya juga untuk Rhea. Tunjukkan rasa sayangmu ke orang yang kamu suka. Kalo nggak, gimana dia bisa tahu kalo kamu sayang dia. Rhea telah melakukannya. Sekarang dia mendapat pengganti abangnya yang sangat dia sayang. Orang itu adalah Satria, cowok pojokan yang diam-diam dia perhatikan.
Rhea melangkah dengan tertatih ditopang tongkat milik Ari, sementara Satria dengan erat menggenggam tangannya, memperhatikan setiap langkah kaki Rhea yang terpincang. Di depan sana, ada dua remaja seumuran mereka menanti dengan senyum lebar, dan tangan yang saling berpegangan.
“Iva? Davy?”
Iva melepas pegangan tangan Davy untuk memeluk Rhea. “Sssttt... besok kalo sekolah kita udah jadi, kita berdua pindah ke pojok belakang kelas ya, biar bisa dekat yayang terus...” bisik Iva mengurai kerutan di dahi Rhea.
Antara September dan Oktober. Sepertinya mentari masih akan enggan singgah sampai akhir Februari nanti. Tapi sore itu, matahari bersinar keemasan di ufuk barat, mengiringi langkah Rhea, Satria, Iva, dan Davy pulang, menghapus duka. Secerah mentari senja, seceria senyuman mereka, siap mengukir berjuta cerita...

Selesai

0 komentar