Cerpen Cinta Terbaru By Suprehatin

Cerita cinta | Cerita cinta atau cerpen ini merupakan cerita cinta yang kedua kali saya terbitkan di blog saya jika sebelumnya saya menerbitkan cerpen cinta dia di sampingku karya saya sendiri kali ini saya akan coba berbagi cerpen cinta karya saudara ku, dengan judul rahasia, dalam cerpen ini sangatlah luar biasa ada satu buah hal penting yang bisa kalian ambil dalam cerpen ini yaitu kejujuran, yang mana sebuah kejujuran itu sangatlah penting, karena dengan jujur maka semua masalah yang kamu punya akan lepas, sebenarnya masalah itu akan cepat terselesaikan andai saja kita mau jujur mengatakan apa adanya.

Seperti yang ada pada cerpen cinta ini banyak masalah yang sedang menimpa pekerjaan sang suami kemudian sang istri jujur menceritakan banyak hal tentang masalalunya, kemudian sang suami pun jujur tentang orang selama ini di carinya adalah istrinya sendiri dengan kejujuran keduanya maka kedunaya bisa saling saling memberikan masukan satu sama lain sehinggan di temukanlan sebuah solusi yang terbaik untuk keduanya. oke langsung saja sahabat ini dia ceritanya :

Cerpen Cinta Terbaru

   
RAHASIA

Oleh Suprehatin
A1A010051

Lelaki muda itu duduk seorang diri di serambi belakang rumah mungilnya. Pada salah satu dari dua kursi rotan tua yang dijaraki oleh sebuah meja dari bahan dasar yang sama ditengahnya, menghadap halaman belakang rumah yang tak seberapa luas yang dipenuhi tanaman sayur dan obat tradisional hasil kreasi istrinya. Di serambi belakang rumahnya itulah lelaki muda itu biasa menghabiskan waktu. Terkadang ditemani segelas kopi buatan istrinya beserta kudapan ringan, tetapi lebih sering hanya ditemani bungkusan rokok.

Lelaki muda itu menghembuskan asap rokok dari celah bibirnya yang menghitam, matanya menatap asap rokok yang kelabu itu melayang tipis di udara. Enam tahun sudah dia tinggal di rumah mungil itu sejak hidup bersama wanita muda nan cantik yang dicintainya. Bibir hitam lelaki muda itu membentuk senyum tipis yang samar. Asap rokok yang kelabu melayang tipis di udara, serupa anaknya yang tengah bermain dengan riangnya. Mengingat anaknya yang telah genap empat tahun itu selalu membuatnya tersenyum, apalagi mengingat istrinya yang telah tujuh bulan ini menyimpan benih kedua dalam rahim, membuat lelaki muda itu bersemangat hidup dan menghidupi mereka.
Lelaki muda itu masih menikmati rokoknya. Entah sudah berapa batang yang ia hisap, ia sendiri tidak menghitungnya. Asbak di atas meja di sampinya telah penuh oleh puntung rokok, sementara gelas di samping asbak itu tinggal menyisakan endapan kopi di dasarnya. Lelaki muda itu masih tepekur. Sepasang kakinya bertengger di kursi. Bayangnya melompat menembus batas ruang dan waktu. Ingatannya melayang ke masa-masa yang telah lalu. Masa sebelum ia mengenal wanita muda nan cantik yang kini telah enam tahun mendampingi hidupnya. Semakin asyik pikirannya berkelana, semakin banyak puntung rokok yang ia benamkan ke dalam asbak.

Irfan, nama lelaki muda itu, bukanlah terlahir dari keluarga berada. Masa kanak-kanak hingga remaja ia lalui dalam kesederhanaan, bahkan terlalu sederhana untuk ukuran orang kampung pada masa itu. Bapaknya hanyalah seorang buruh yang menggarap sawah milik orang lain, sementara ibunya  ikut larut dalam ekonomi keluarga dengan berjualan makanan di pasar kampung. Irfan kecil melewatkan masa kanak-kanaknya dengan membantu orang tuanya dalam didikan ayahnya yang keras dan terkesan kejam. Sementara ibunya yang lembut hati itu tak banyak berperan dalam metode pendidikan yang diterapkan sang ayah.

Suasana baru di dapat Irfan saat ia beranjak remaja. Paman dari pihak ibu mengajaknya ke kota. Pamannya seorang pedagang di pasar, bukan pasar kampung seperti tempat ibunya berjualan, tetapi pasar di kota, pasar yang lebih besar dan maju. Setiap hari membantu pamannya berdagang di pasar membuatnya hafal seluk beluk pasar itu hingga suatu hari ia bertemu seorang.

“Mas!”
Jantung Irfan serasa melompat ke luar dari dadanya, menerobos kemeja yang kancingnya ia lepas tiga pasang. Pangggilan istrinya membuat ia terkejut hingga terlonjak dari posisi duduknya.
“Mas? Mas Irfan? Mas dimana, Mas?” terdengar suara istrinya mendekat. Belum sempat Irfan menjawab panggilan itu, istrinya telah muncul di ambang pintu dapur bergandengan tangan dengan putra pertama mereka. “Ternyata di sini kamu, Mas? Pintu depan itu kok tidak ditutup, sih?”
“Oh… a…a…aku lupa.”

“Aduh, bagaimana Mas Irfan ini? Kalau ada orang yang masuk, bagaimana? Maling, misalnya.”
Tanpa diketahui sebabnya, ada sesuatu yang begitu mengejutkan Irfan mendengar kalimat istrinya. “Ma… maling? Tidak mungkin, toh selama ini kita aman-aman saja di sini, kan?”

“Kita kan tidak tahu, Mas. Maling kan banyak akalnya. Bisa jadi orang yang selama ini kita percayai ternyata seseorang yang sangat jahat. Orang yang sudah bertahun-tahun hidup berdampingan dengan kita ternyata anggota komplotan perampok yang paling kejam. Dan kita juga tidak tahu, orang yang kita cinta ternyata penjahat yang paling kejam, paling bengis, atau buronan polisi. Bisa juga…”

“Sssttt… Ayu…,” ujar Irfan pelan memotong tutur istrinya. Tanpa diketahui sebabnya pula, tiba-tiba ia gemetar. Irfan gemetar mendengar kata-kata yang meluncur dari bibir Ayu.
“Kenapa, Mas? Mas Irfan sakit?” tanya Ayu melihat perubahan air muka suaminya.
“Ti… tidak. Kamu ini terlalu banyak menonton sinetron saja.”
“Lho, tapi kan bisa jadi. Mas Irfan lain kali harus lebih hati-hati.”
“Iya, lain kali Mas tidak akan begini lagi. Mas minta maaf,” ujar Irfan sembari menghadiahi istrinya tatapan mesra disertai senyuman.

“Ya sudah, Mas, sekarang aku dengan dua jagoan kita ke depan dulu, ya. Aku tahu Mas belum mandi. Kebiasaan Mas ini buruk sekali. Cepat siap-siap, Mas, sebentar lagi maghrib.”
Sepeninggal Ayu, Irfan masih belum beranjak dari kursi rotan tua di serambi belakang rumah mungilnya itu. Kalimat-kalimat yang dituturkan Ayu masih melekat erat dalam ingatannya, keras menusuk menghujam jiwanya.

Barisan kalimat yang diucapkan Ayu membawa pengaruh yang begitu besar, selalu terngiang dan membuatnya tidak khusyuk mengimami sholat maghrib istri dan anaknya. Makan malam pun tak dinikmatinya, menimbulkan kerutan-kerutan heran di kening istrinya.

“Mas, ada apa? Ada masalah dengan pekerjaan, Mas?” tanya Ayu menanggapi sikap suaminya yang lain dari biasa.
“Tidak, pekerjaanku baik-baik saja.”
“Mas Irfan sakit?”
“Tidak. Aku sehat, aku baik-baik saja.”
“Lalu ada apa, Mas? Ada yang kurang? Katakan padaku, Mas, biarkan aku tahu dan membantumu.”
“Tidak ada apa-apa. Sudah kukatakan aku baik-baik saja.”

Ayu terus membujuk hingga kalimat terakhir meluncur dari bibir suaminya, “Jangan ajak aku bertengkar di meja makan!” Setelah itu Ayu pun tidak menanyai suaminya lagi. Ia menyuapi Pratama dan hanya bercakap-cakap dengan anak mereka itu.

Beberapa hari ini Ayu merasa ada yang aneh dengan Irfan. Seringkali ia dapati suaminya duduk seorang diri di kursi rotan di serambi belakang rumah mungil mereka, di dekat pintu dapur. Di sana suaminya berdiam diri, menghabiskan berbatang-batang rokok ditemani kopi yang diseduhnya sendiri. Terkadang suaminya diam-diam menyelinap pergi ketika mereka sedang bercanda dengan Pratama. Ketika Ayu menghampiri dan menanyakan sikapnya, Irfan tak pernah memberi jawaban yang memuaskan. Ia merasa ada sesuatu yang disembunyikan suaminya, namun ia tak berani menanyakan lebih lanjut karena ia merasa sangat bersalah kepada suaminya. Ada sesuatu yang juga ia sembunyikan dari Irfan. Ayu ingin segera mengatakannya pada suaminya, ia tak sanggup menyimpan rahasia itu lebih lama lagi. Namun Ayu tak tahu kapan waktu yang tepat untuk berbicara dengan suaminya dalam keadaan seperti itu.

Malam itu pun, setelah menghabiskan makan malamnya, Irfan segera beranjak meninggalkan Ayu yang masih menyuapi Pratama. Namun Ayu segera meraih tangannya sembari berkata, “Mas, aku ingin bicarakan sesuatu denganmu.”
“Baiklah.”

Mereka berdua tahu, jika ada hal penting yang ingin dibicarakan, mereka akan bicara setelah Pratama tidur. Demikian pula malam itu, Irfan kembali menyendiri sementara Ayu menemani Pratama hingga bocah balita itu terlelap dibuai mimpi.

“Mas,” panggil Ayu di pintu dapur.
“Pratama sudah tidur?” tanya Irfan sembari menatap wajah cantik istrinya.
“Sudah, Mas,” Ayu menjawab lalu dengan perlahan melangkah bersama perutnya yang besar menghampiri kursi rotan di seberang meja.

“Kamu sendiri belum mau tidur?”
“Belum, kan ada yang ingin kubicarakan denganmu, Mas.”
“Oh, iya. Kita bicara di dalam saja, ya,” ujar Irfan sembari membenamkan puntung rokok terakhirnya ke dalam asbak. Setelah itu ia beranjak membantu Ayu berdiri dan melangkah ke dalam rumah.

“Jangan lupa kunci pintu, Mas.”
“Iya, Ayu. Mas tak akan lupa lagi.”
Ayu menunggu Irfan di tempat tidur. Ia memejamkan mata, memantapkan hati untuk menumpahkan semua yang ingin disampaikannya pada sang suami malam itu. Setelah selesai mengunci semua pintu dan jendela dan menjenguk Pratama di kamarnya, Irfan menghampiri Ayu yang duduk di tepi tempat tidur. Irfan duduk di kursi menghadap istrinya. Ia mengagumi kecantikan wanita muda yang telah hidup bersamanya selama enam tahun itu.

“Mas,” Ayu menggenggam tangan Irfan.
“Ya?”
“Aku minta maaf, Mas.”
“Ada apa ini, Ayu? Kenapa kamu tiba-tiba minta maaf seperti ini?”
“Mas, sudah enam tahun lamanya kita tinggal bersama. Mas telah mengenalku dan Mas tahu segalanya tentang aku. Tapi… aku minta maaf Mas, karena semua yang Mas ketahui tentang aku itu palsu. Maafkan aku, Mas. Aku  telah menipu Mas Irfan. Selama ini aku menyembunyikan rahasia darimu, Mas.”

“Aku tidak mengerti maksudmu, Ayu,” ujar Irfan bingung. Benaknya kemudian bertanya-tanya dan menebak-nebak apa yang akan dikatakan istrinya. Rahasia apa yang disembunyikan darinya.
“Kupikir sudah saatnya Mas tahu segalanya. Enam tahun lalu Mas Irfan menikah dengan Ayu Langsari yang sekarang ada di hadapan Mas. Tapi semua itu palsu, Mas. Ayu sebenarnya bukan namaku. Demikian pula dengan mertua Mas, mereka bukanlah orang tuaku”

“Aku makin bingung.”
“Aku lahir sebagai putri bungsu dalam sebuah keluarga berada. Namaku Purnama Ratri. Aku punya seorang kakak laki-laki. Aku masih ingat setiap liburan orang tuaku selalu mengajak kami semua berlibur, bahkan beberapa kali pergi ke luar negeri. Aku hidup berkecukupan dan sangat bahagia. Orang tuaku memiliki puri megah sebagai tempat tinggal kami. Ayahku memang jarang berada di rumah karena sibuk dengan bisnisnya, namun aku dan kakakku tak pernah kekurangan kasih sayang dari Ibuku. Dulu, apa pun yang aku minta pasti segera tersedia di depan mata.
“Namun, semua keindahan hidupku musnah ketika sekawanan perampok menyerang rumahku dan membantai keluargaku. Sore itu Ayah baru pulang dari luar negeri. Beliau membawakan banyak oleh-oleh untukku, ibu, dan kakakku. Waktu itu umurku lima belas tahun. Ayah memberiku sebuah kado yang ternyata isinya adalah sebuah kalung dengan liontin berbentuk anak kunci.
“Di rumah, aku punya tempat istimewa yang sering kugunakan sebagai sarang rahasia. Orang yang tahu tempat itu hanya aku dan Ayah. Malam itu entah kenapa setelah makan malam yang sangat istimewa, aku pergi ke sarang rahasiaku untuk mengagumi kado dari Ayah sampai aku tertidur di sana.

“Aku terbangun ketika aku mendengar suara gaduh dari luar sarangku. Aku tak tahu apa yang terjadi, tapi suara-suara itu sangat mengerikan. Aku tak berani ke luar dari sarangku. Aku merangkak pelan-pelan mencari lubang untuk mengintip dan aku melihat… aku melihat ibuku telah meringkuk tak bergerak bersimbah darah di bawah kaki seseorang yang aku tak tahu wajahnya. Kakakku ada di kursi di sebelah ibu, ada lubang di keningnya. Aku mendengar jeritan pilu Ayah yang menahan sakit. Para pembantu rumahku bernasib sama dengan Ibu dan kakakku.
“Aku menahan diriku agar tidak berteriak. Aku mencari jalan ke luar dan menghindari para perampok itu. Aku lari menembus malam, tanpa arah. Suara jeritan Ayah perlahan hilang seiring jarakku yang semakin menjauhi rumah. Beberapa orang laki-laki dari komplotan perampok itu mengejarku, namun mereka kehilangan jejakku ketika aku menceburkan diri ke parit di tengah sawah. Aku berdiam diri di sana dengan menggigil dan ketakutan.

“Aku meringkuk ketakutan dan semakin membenamkan tubuhku ke dalam parit yang sempit ketika seorang laki-laki yang membawa parang tajam menemukanku. Kupikir ia salah satu perampok itu. Tapi ternyata bukan. Bapak tua itu pemilik sawah yang kupakai untuk bersembunyi. Beliau membawaku ke rumah, mempertemukan aku dengan istrinya. Suami istri itu menyembunyikan aku di rumah mereka. Mereka tidak memiliki anak, maka aku diangkat sebagai anak mereka. Mereka mengubah Purnama Ratri menjadi Ayu Langsari. Mereka itulah mertuamu, Mas, yang menikahkan aku denganmu.

“Maafkan aku, Mas. Selama ini aku dan orang tua angkatku telah membohongimu. Aku tahu sampai sekarang para perampok itu masih memburuku karena mereka menginginkan ini. Liontin ini adalah kunci pembuka ruang rahasia milik Ayah. Aku sendiri tak tahu dimana letak ruang itu dan apa isinya. Aku hanya yakin tempat itu tersembunyi di antara puing-puing puriku yang telah dihancurkan para perampok. Setelah kejadian itu aku tak pernah kembali ke tempat puriku dulu berdiri. Aku tak tahu apa yang terjadi di sana sekarang. Aku tak ingin kembali ke sana.

“Sekarang kamu tahu siapa sebenarnya aku, Mas. Maafkan aku.”
Ayu mengakhiri ceritanya dengan isakan. Menceritakan kembali pengalaman pahit yang telah lama dipendamnya adalah menggali kembali luka lama yang pernah membuatnya trauma. Terlebih lagi mengingat keluarganya dibantai di depan mata, hampir saja membuatnya gila jika saja kedua orang tua angkatnya tidak memberinya terapi mental dalam wujud kasih sayang yang tulus.
“Aku memaafkanmu, Ayu. Bukan kesalahan jika kamu harus menyimpan luka itu,” ujar Irfan lembut sembari menghapus air mata yang meleleh dari sudut mata istrinya.

“Biarkan hal ini tetap menjadi rahasia ya, Mas.”
“Iya, tentu saja. Aku akan selalu melindungimu, juga rahasiamu. Sekarang tidurlah.”
“Tapi, Mas…” Ayu ingin menanyakan perihal perubahan sikap suaminya akhir-akhir ini, namun ia berpikir ini bukan saat yang tepat.
“Ya?”
“Ah, tidak. Tidak, Mas. Aku hanya ingin mengatakan bahwa aku mencintaimu.”
“Aku juga sangat mencintamu.”

Dengan penuh kelegaan Ayu mengistirahatkan dirinya yang lelah. Ia membaringkan diri di samping suaminya, menatap wajah tampan itu hingga terlelap dengan bibir yang menyunggingkan senyum samar. Ia merasa lega karena sekarang tak ada lagi rahasia yang ia sembunyikan dari suaminya, lelaki tampan tempat ia menggantungkan hidup.

Tidak seperti kelegaan yang memancar dalam hati Ayu, Irfan justru merasakan gejolak ketika mendengar kisah Ayu yang disembunyikan darinya. Berbagai pikiran berkecamuk meronta-ronta dalam benaknya. Setelah Ayu terlelap, perlahan ia melepaskan genggaman tangan mereka. Ia terduduk dengan air mata meleleh sembari menatap wajah cantik istrinya yang terbaring dalam kelelapan istirahat yang lena.

“Apa yang harus aku lakukan?” bisik hatinya. Dia ingat pada selembar foto yang pernah ditunjukkan seseorang padanya, kini ia baru sadar bahwa wajah dalam foto itu sangat mirip dengan wajah yang kini ada di hadapannya. Menyadari hal ini membuat air matanya kembali meleleh.

Lima tahun sebelum ia menikah dengan wanita yang kini lelap di hadapannya, ketika ia membantu pamannya berdagang, ia bertemu dengan seorang pria berwajah bengis di pasar. Pertemuan itu terjadi tanpa ia sangka. Ia tak tahu bahwa orang itu telah merencanakan pertemuan mereka. Yang ia ingat adalah ketika itu ia berjalan seorang diri melewati suatu tempat sepi setelah mengantar pesanan pelanggan pamannya. Ia tak tahu apa yang terjadi, tiba-tiba ia telah berada dalam sebuah ruangan dengan tangan dan kaki terikat. Di depannya seorang lelaki berwajah bengis menyeringai.

Lelaki berwajah bengis itu ternyata adalah pimpinan komplotan perampok yang kekejamannya telah di kenal di seluruh penjuru daerah itu. Mereka sangat licin, selalu berhasil lolos. Mereka bekerja dengan bersih, tidak meninggalkan jejak mencurigakan selain sisa kekejaman yang mengerikan. Mereka selalu melakukan pembantaian setiap kali menjarah. Prestasi terbesar mereka saat itu adalah berhasil merampok rumah orang paling kaya di suatu daerah lima tahun sebelumnya. Mereka telah membantai semua orang yang berada di puri dan sekitarnya, kecuali seorang gadis kecil yang berhasil lolos.

Merupakan suatu kesialan jika hari itu Irfan dipaksa menjadi bagian dari mereka. Irfan tertekan di bawah ancaman. Ia tak bisa menolak ketika ia ditugaskan mencari Purnama Ratri yang berhasil lolos itu. Nyawa keluarga menjadi taruhannya. Ia terpaksa meninggalkan seluruh kehidupan masa lalunya untuk menjadi seorang pemburu gadis berwajah rupawan. Dalam menjalankan tugasnya ia mendapat sedikit keistimewaan. Ia diizinkan menjalani kehidupan normal, namun kehidupannya akan selalu dipantau. Tanpa sepengetahuan orang-orang di sekitarnya, ia tetap membantu para perampok itu.
Tak sedikit pun ia menyangka, istrinya sendiri yang selama ini diburunya. Gadis kecil yang selama ini dicarinya untuk diserahkan kepada pimpinan perampok ternyata ada di hadapannya. Ia tak dapat mengira-ngira apa yang akan mereka lakukan kepada istrinya jika mereka menemukannya. Namun apa pun tindakan itu ia tak akan rela. Ia tak rela jika harus kehilangan Ayu, apa lagi ia tahu bahwa para perampok itu pasti akan membantai wanita yang sangat ia cintai itu.

Beberapa hari lalu beberapa dari kawanan perampok mendatanginya di tempat kerja. Mereka mengingatkan untuk segera menemukan Purnama Ratri. Hal inilah yang membuatnya beberapa hari ini sering menyendiri di serambi belakang rumah sembari menghisap rokok, ia memikirkan ancaman mereka. Ia tak mungkin lari. Pergi kemana pun sejauh apa pun untuk menghindar percuma saja bahkan justru semakin merunyamkan urusan di antara mereka karena dengan mudah ia pasti dapat ditemukan. Ia bisa saja melepaskan dirinya sendiri dengan menyerahkan Ayu begitu saja kepada mereka. Tapi itu adalah tindakan terbodoh yang pernah ia lakukan. Tak mungkin ia akan mengorbankan orang yang sangat dicintainya untuk dibantai oleh perampok.

“Mas!” suara Ayu mengejutkan Irfan yang tengah tergugu. “Mas, kenapa?”
Irfan berusaha menyembunyikan air matanya, namun istrinya telah terlanjur melihatnya. Ayu terus membujuknya, hingga akhirnya Irfan menceritakan rahasia yang selama ini juga disimpannya dari Ayu.

“Akulah orang yang memburumu. Akulah orang yang ditugaskan untuk menemukan Purnama Ratri dan menyerahkannya pada pimpinanku. Tapi aku tak sanggup, Ayu… aku tak sanggup. Aku tak sanggup kehilangan kamu. Aku bagaikan makan buah simalakama. Jika aku tidak menyerahkan dirimu pada mereka, maka aku yang akan dibunuh. Tapi aku tak mungkin menyerahkanmu begitu saja.”

Dengan gemetar Ayu menjawab, “Kuserahkan hidup dan matiku pada keputusanmu, Mas. Serahkan saja aku pada mereka jika itu yang terbaik. Mereka telah memburuku selama bertahun-tahun, Mas. Kamu orang baru dalam masalah ini.”
“Tidak!”
“Tapi, Mas…”
“Sudahlah, jangan bodoh. Tunggu! Aku tahu apa yang mereka inginkan. Mereka mengincar harta milik orang tuamu,” ujar Irfan sembari melirik liontin yang tergantung di leher istrinya.
“Ini? Ya, Mas, aku mengerti maksudmu,” sahut istrinya sembari menyerahkan kalungnya pada Irfan.
“Kenapa kamu berikan ini padaku?”
“Mereka mencari harta orang tuaku, itu adalam kunci ruang rahasia tempat Ayah menyimpan hartanya. Aku rela kehilangan semua itu asal aku tak pernah berpisah denganmu, Mas.”
“Tapi mereka pasti akan tetap memburumu, Ayu. Karena kamu adalah saksi kunci kekejaman mereka.”
“Tidak, Mas. Saksi kunci itu adalah Purnama Ratri, bukan Ayu Langsari. Aku akan tetap aman selama aku masih sebagai Ayu Langsari.”
“Dan selama kamu hidup bersamaku, aku akan selalu melindungimu.”

Mereka berdua tersenyum. Senyum penuh kelegaan. Dalam benak Irfan telah terbayang sebuah rencana yang akan dilakukan dengan kunci di tangannya. Setelah itu sederet rencana telah tersimpan di benaknya siap dilaksanakan untuk menyelamatkan keluarganya.

“Kita akan bersama-sama mengubur rahasia ini selama-lamanya,” pungkas Irfan sembari mengecup kening istrinya. Mereka melewatkan sisa malam itu dan bersiap menghadapi hari esok dengan senyuman dan semangat baru. Semua kisah malam itu akan tetap menjadi rahasia yang tak akan pernah terungkap sampai kapan pun.

selesai

Sahabat sekian cerita cinta dari saya semoga cerita ini bisa menjadi salah satu inspirasi kita bersama dan semoga cerita yang singkat ini bisa menjadi salah cerita yang bermanfaat untuk orang lain dan kemudian jika sahabat-sahabat semua suka dengan cerita cinta berikut ini maka silahkan di share ke akun media sosial sahabat masing-masing oke terima kasih untuk yang membaca semoga bisa di mengambil hikmah dari cerita ini wassalam.