Cerpen Cinta Terbaru Demi Cinta By Esha Dewandaru

Cerpen Cinta | Selamat siang sahabat alhamdulillah kita masih di berikan kesempatan untuk saling berbagi, Cerpen Cinta ini tema yang akan saya kembali akan angkat pada hari ini. Mungkin cerpen cinta banyak kita dapati dimana-mana termasuk salah satu di antaranya adalah pada blog coretan tintan emas ini. Tapi saya selalu berusaha berikan cerpen yang berbeda dengan yang lainya, saya berusaha agar para pembaca tak pernah bosan membaca tulisan-tulisan yang ada di blog saya. Baik langsung saja berikut adalah cerpenya.



Demi Cinta

Esha Dewandaru

Karenanya aku jadi perkasa. Karenanya aku berani menghadapi semua. Karenanya aku bahagia. Karenanya aku buta….
Keluargaku pindah ke sebuah desa kecil yang mulai berkembang saat aku kelas XI SMA. Papaku dipindah tugaskan ke desa itu sebagai tenaga ahli di perkebunan swasta yang mulai dikembangkan di desa itu. Karena Papa tak bisa hidup tanpa Mama dan Mama tak bisa hidup tanpa aku, maka aku tak bisa menolak untuk ikut pindah ke desa ini. Awalnya kukira kami akan tinggal di desa kecil dan terpencil dan pasti akan sangat menyedihkan, awalnya aku tak rela meninggalkan rumah kami yang terletak di kota metropolitan, tapi ternyata semua pikiran awalku itu salah. Desa ini tak seburuk yang kubayangkan. Bahkan setelah beberapa waktu aku mulai menyukainya.
Perusahaan tempat Papa bekerja menyediakan hunian yang cukup mewah di kompleks perumahan pengelola perkebunan. Kompleks ini sering disebut kompleks induk dan letaknya cukup jauh dari rumah penduduk. Rumah yang kami tempati cukup mewah, di dukung dengan jaringan komunikasi yang memungkinkan penghuni kompleks induk berhubungan dengan dunia luar desa. Cukup mewah untuk ukuran penduduk lokal desa, namun menurutku fasilitas di rumah ini masih tergolong sederhana.
Aku melanjutkan belajarku di SMA terdekat dan merupakan satu-satunya SMA di daerah baruku ini. Sebuah SMA Negeri yang sangat sederhana. Di sekolahku yang baru ini aku tak banyak belajar tentang teknologi karena keterbatasan fasilitas sekolah, namun aku tak pernah menyesal karena aku bisa lebih mendalami pelajaran IPA-ku, sesuai jurusan yang kuambil.

Senin itu, saat istirahat pertama, aku dan Alif pergi ke perpustakaan sekolah. Alif adalah teman sekelasku sekaligus sahabat baruku. Ayahnya bekerja di perkebunan sebagai karyawan biasa. Alif berperawakan tinggi kurus, kulitnya gelap, dan dahinya lebar. Rumahnya di luar kompleks perumahan pengelola perkebunan, namun merupakan rumah penduduk yang paling dekat. Posisi ini membuat aku dekat dengannya, apalagi di kompleks induk tidak ada anak lelaki yang sebaya denganku. Alif menjadi satu-satunya anak yang bisa dikatakan selalu bersamaku.
Hari itu perpustakaan cukup lengang. Tak banyak siswa yang mengunjungi perpustakaan yang tak seberapa luas itu. Sesampai di perpustakaan aku segera menuju rak novel sementara Alif menghampiri rak komik. Mataku nyalang mengikuti gerak ujung telunjukku menelusuri punggung buku-buku yang berjajar di rak. Batinku bersorak ketika mataku menemukan novel yang kucari. Segera saja kutarik novel itu dari deretan buku di salah satu rak di tengah ruangan. Tapi aku merasakan keanehan dengan novel itu. Buku itu sangat susah kuambil, seolah melekat pada rak buku yang telah berusia tua. Aku berusaha menariknya semakin kuat, namun tetap saja novel itu tak bisa aku ambil. Seiring dengan keputusasaanku, kulepaskan novel itu dan….
‘Bruk!!!’
“Aaah….”
Aku terkejut mendengar suara yang muncul tepat di depanku, terhalang oleh rak buku tua di hadapanku. Aku segera berlari ke balik rak buku untuk mengetahui apa yang terjadi. Alif muncul dari sisi yang lain.
“Cinta….” Ujar Alif lalu membereskan buku-buku yang berserakan di antara rak-rak di dalam ruangan.
“Cinta, kamu baik-baik saja, kan?” tanya Alif. Aku hanya diam menatapnya, tak tahu harus berbuat apa. Haruskah aku meminta maaf? Alif membantunya berdiri lalu kami ke luar dari perpustakaan.
“Kamu kok diam saja sih?” Alif menonjok lenganku. Kami duduk berhadapan di bangku kecil di bawah naungan pohon bunga Tanjung, di samping perpustakaan. “Memangnya aku harus berbuat apa?” tanyaku dalam hati.
“O iya Cinta, kamu tidak jadi meminjam novel itu tadi? Itu novel bagus lho, ceritanya seru. Aku pernah baca sampai dua kali.”
Teruslah bercerita, Lif. Aku diabaikan. Aku hanya diam. Alif terus bercerita dan sesekali diselingi dengan tawa, tak sedikit pun ingat aku di depannya.
“Ehm, ehm, di sini masih ada orang lho,” ujarku setelah lama membiarkan Alif mengabaikanku.
“Ya ampun, aku lupa! Kalian belum kenalan ya? Ini sahabatku, Cinta,” ujar Alif sembari menepuk dahinya yang lebar.
Aku mengulurkan tangan sembari berujar, “Tantra.”
“Cinta,” sambutnya. Mata bening itu…untuk beberapa saat aku terpesona. Aku terdiam memandangi gadis di hadapanku dengan pikiran melayang dan baru menginjak bumi lagi ketika Cinta menarik tangannya dari genggamanku dengan lembut.
“Maaf,” ucapku pelan. Aku merasa bersalah telah menggenggam tangannya terlalu lama dan menikmati kelembutannya.
“Maaf? Untuk apa?” tanyanya dengan kerutan samar di dahi.
“Maaf untuk…mmm…maaf membuatmu jatuh tadi.”
“Oh itu, lupakan saja. Malu aku mengingatnya.” Dia tersipu. “O iya, kamu anaknya Pak Wahyu dan Ibu Sasmita kan?”
“Kok tahu? Mirip ya?”
“Siapa yang tak kenal orang tuamu? Aku senang bisa kenal dengan anaknya.”
“Dan aku juga senang kenal dengan gadis semanis kamu” ujarku, namun hanya cukup dalam hati sementara yang meluncur dari bibirku adalah “Ah biasa saja.”
“Cinta, Tantra, sebentar lagi lonceng masuk bun….”
Belum sempat Alif menyelesaikan kalimat peringatannya, guru piket telah membunyikan lonceng tanda berakhirnya waktu istirahat.
“Hmm, aku masuk kelas dulu ya,” ujar Cinta sembari beranjak dari duduknya.
“Aku dan Alif juga mau masuk kelas, jalan sama-sama saja,” ujarku sembari ikut berdiri. Kami bertiga berjalan bersama melintasi lapangan upacara menuju ruang kelas dan berpisah di depan pintu kelas Cinta. Gadis itu masuk ke kelasnya setelah melambai. Aku dan Alif masuk ke ruang kelas tepat saat kulihat guru pelajaran berikutnya ke luar dari ruang guru di sebelah ruang perpustakaan.
***
Kurasa aku jatuh cinta pada teman sekolahku itu. Ia gadis yang baik, cantik, dan hatiku tergelitik oleh pesonanya yang unik. Ayahnya juga bekerja di perkebunan. Posisi ayahnya di perkebunan sama dengan ayah Alif. Rumah Cinta berada di sentral perumahan desa. Bersama dengan kantor kepala desa, masjid, balai desa, dan danau kecil mengelilingi lapangan bola. Seringkali ketika aku main sepak bola di lapangan desa, kulihat Cinta duduk di salah satu cabang pohon di depan rumahnya dengan buku di pangkuan. Terkadang ia juga bertengger di pohon di tepi danau, menikmati suasana yang hening untuk membaca buku.
Cinta memang gadis yang unik. Setahuku, ia satu-satunya gadis di desa ini yang suka duduk di batu di tepi danau dengan pancing di tangan, ia bahkan memiliki spot berkualitas untuk memancing. Hanya ia yang tahu posisi spot pribadinya ini. Setelah aku kenal dengannya, ia sering memancing bersama aku dan Alif, namun aku selalu kalah dalam lomba mengumpulkan ikan dengannya. Aku memang orang yang tak pernah mau kalah, namun dengan Cinta aku selalu mau mengalah.
“Cinta!” seruku dari pinggir lapangan bola, aku baru saja mengalahkan tim Alif sore itu.
“Ya, Tantra,” sahutnya sembari menampakkan lambaian di antara dedaunan. Aku segera menuruni undak-undakan dan menghampiri Cinta di bawah sana.
“Baca buku apa sih?” tanyaku setelah mendapat dahan yang nyaman untuk bertengger.
“Nih, novel yang membuatku jatuh di perpustakaan setahun lalu,” jawab Cinta sembari menunjukkan sampul buku yang sedang dia baca. Aku tertawa mengingat kejadian setahun lalu, awal perkenalanku dengan Cinta.
“Hahaha…, masih berminat pada novel itu?”
“Jahat kamu! Kok malah tertawa? Gara-gara kamu, aku jadi tertunda membaca novel ini. Sudah satu-satunya novel di perpus sekolah, kamu hilangkan lagi.”
“Yang penting kan sudah aku ganti, dan sekarang novelnya ada di tangan kamu.”
Novel itu memang sempat hilang saat aku pinjam. Bukan hilang sebenarnya, tapi rusak dan aku tak mau mengakui bahwa aku telah merusaknya. Maka aku meminta pada Papa untuk mencarikan pengganti novel itu di kota. Papa mengabulkan permintaanku, bahkan Papa tidak hanya mengganti novel itu saja, Papa mengirimkan donasi buku-buku lain masing-masing sepuluh buah.
Tiba-tiba aku merasa pohon yang aku naiki berguncang-guncang.
“Cinta, ayo turun!” seruku panik.
“Hehehe…. Kamu tertipu, kamu terjebak, kamu kukerjain kali ini, uo….”
Alif terkekeh sembari menirukan nada ‘Ular Berbisa-Hello Band’, liriknya digubah dengan irama sumbang.
“Sialan kamu Lif, membuat orang kaget saja!” sungut Cinta. Alif hanya menyeringai. Dalam waktu singkat pemuda nonong nan ceking itu telah bertengger juga di pohon, bahkan lebih tinggi dari posisiku.
“Kalian sedang apa sih di sini?” tanya Alif setelah beberapa lama kami saling diam.
“Lihat saja sendiri, kita sedang apa?” sahut Cinta dengan nada ketus.
“Aku sedang duduk sekarang,” ujar Alif menjawab pertanyaannya sendiri.
“Nah, itu tahu sendiri,” Cinta masih menyahut dengan ketus.
“Cinta marah ya? Maaf, Cinta, aku kan bercanda. Bukan maksud hati mau membuatmu terkejut. Cinta, maafkan aku….” Alif memohon dengan memelas.
“Hm.”
“Nanti malam mau ikut pengajian, tidak?” tanya Alif memulai percakapan baru.
“Pengajian apa?” tanyaku.
“Memangnya nanti malam ada pengajian?” Cinta bertanya.
“Yaaah…. Bagaimana ini orang yang rumahnya dekat masjid, masa tidak tahu?”
“Pengajian apa, Lif?” tanyaku lagi.
“Pengajian rutin bulanan, Tra.”
“Bukan tidak tahu, tapi aku lupa.”
“Kamu harus berterimakasih padaku kalau begitu, karena aku telah mengingatkanmu, Cinta.”
“Oke. Terima kasih, Alif. Terima kasih sudah mengingatkanku. Kalau bukan karenamu, aku pasti akan menyesal karena aku belum bersiap-siap,” ujar Cinta dengan irama yang dilembut-lembutkan.
“Terima kasih kembali, Cinta. Aku bersyukur kamu mau bersiap-siap, pasti mau bawa makanan yang enak-enak kan? Asyik….”
“Kamu ini, makan terus tapi tidak gemuk juga, Lif,” ejekku.
“Ya sudah, aku mau pulang,” kata Cinta lalu terburu-buru turun dari pohon dan berlari pulang.
“Cinta, bawa yang banyak yang enak-enak ya!” teriak Alif. Cinta menoleh sebentar, lalu melanjutkan perjalanannya. Kupandangi ia sampai hilang ditelan puncak bukit.
“Hei, Tra! Jangan melamun!” Alif menepuk bahuku. “Kamu mau datang nanti malam, Tra?”
“Iya. Kamu?”
“Sepertinya tidak.”
“Kenapa? Cinta pasti bawa makanan enak kan? Sesuai yang kamu mau.”
“Aku capek, Tra. Nih, kakiku luka kamu gaprak di lapangan tadi.”
“Ups, maaf Lif. Itu strategi perang, tapi aku tidak menyangka jadinya seperti itu. Kamu maafkan aku, kan?”
“Iya, iya, aku maafkan. Tapi nanti sisakan kue buatan Cinta untukku ya, di antar ke rumahku juga tidak apa-apa. Aku pasti akan sangat berterimakasih padamu.”
“Minta sisa kan? Baiklah, sisa gigitanku ya,” ujarku sambil tertawa lalu turun sesegera mungkin menghindari kemungkinan tendangan Alif.
Sepanjang perjalanan pulang aku memikirkan Cinta. Gadis itu telah mencuri hatiku, membawanya berlari dengan senyum yang anggun dan menggantungkannya di dahan pohon di tepi danau itu. Pohon tempat kami sering menghabiskan waktu bersama.
Aku tahu belum ada seorang pria pun di hati Cinta, dan pengajian malam Minggu memberiku inspirasi untuk memenangkan hatinya sepulang dari pengajian di masjid agung desa. Alif benar-benar tidak datang malam itu, jadi aku leluasa mengungkapkan isi hatiku pada Cinta. Tak usah kuceritakan bagaimana aku bisa mendapatkan Cinta, yang penting sekarang Cinta telah menjadi pacarku. Itu saja.
***
Senja itu aku kembali menikmati matahari tenggelam di danau bersama Cinta. Aku, Cinta, dan Alif baru saja selesai belajar bersama untuk persiapan Ujian Akhir Nasional. Alif sedang pergi sebentar, sementara aku dan Cinta pergi ke danau. Kami segera bertengger di dahannya, seperti biasa mencurahkan segala rasa.
“Setamat SMA nanti, kamu kemana, Tantra?” tanya Cinta.
“Kuliah, di IPB,” jawabku. Papa berharap aku menjadi penerusnya, menjadi seorang insinyur pertanian.
“Kamu akan ke luar dari desa ini. Kamu akan meninggalkan aku, dan semua kenangan tentang kita.”
“Jangan khawatir, Cinta. Aku pasti akan kembali. Aku hanya pergi untuk sementara, bukan untuk meninggalkanmu selamanya.”
“Benarkah?”
“Aku janji. Setamat kuliah, aku akan pulang untuk meminangmu.”
“Tantra…. Apakah kamu benar-benar serius padaku?”
“Kamu meragukan aku?”
“Tidak. Hanya saja aku ingin ketegasan darimu.”
“Jangan pernah ragukan aku, Cinta.”
“Jadi, kalian berdua adalah sepasang kekasih sekarang?”
“Alif?” tanyaku meluncur bersamaan dengan Cinta. Aku tidak menyadari ada Alif di bawah pohon.
“Maaf, aku tidak sengaja mendengar kalian,” ujar Alif. Kulihat ada kekecewaan di matanya. Dari gerak-geriknya selama aku berteman dengannya, sepertinya ia juga menyukai Cinta. Tapi yang penting aku yang memenangkan hati Cinta. Aku yang sekarang menjadi kekasih Cinta, dan aku akan menjalin hubungan yang lebih serius dengan Cinta.
“Iya Lif, aku dan Tantra memang pacaran,” kata Cinta.
“Oh. Ya sudah, aku pergi dulu.” Setelah mengucapkan kata itu, Alif pergi meninggalkan aku dan Cinta.
“Alif kenapa ya, Tra?”
“Tidak tahu, Cinta. O iya, setamat SMA kamu mau kemana?”
“Kemana ya? Kuliah, tidak mungkin. Mungkin ikut kursus, mungkin langsung kerja. Yang jelas aku akan menunggu kamu.”
“Kamu benar-benar serius padaku?”
“Sama dengan jawabanmu tadi, jangan pernah ragukan aku, Tantra.”
Aku lega dan bahagia mendengarnya. Aku benar-benar mencintai Cinta dan aku tak rela jika aku tidak memilikinya. Aku akan menepati janjiku, memenuhi harapan Papa kemudian pulang meminang Cinta. Aku akan memiliki Cinta, dan jika aku tak dapat memilikinya maka tak ada seorang pun yang boleh memilikinya.
Sejak sore itu, aku merasa ada yang berubah dari Alif. Ia menjadi sangat pendiam. Ia menjauh dari aku dan Cinta. Ketika aku bertanya mengenai sikapnya, ia hanya menjawab sedang cemas menyambut Ujian Akhir Nasional. Ia hanya sibuk mempersiapkan ujian. Aku mengangguk maklum. Aku memahami kemampuannya di bawahku, aku juga maklum ia menolak berlajar bersama aku dan Cinta.
Setelah UAN selesai, sikap Alif masih belum berubah seperti sediakala. Ia masih menghindar dari aku dan Cinta. Namun aku tak bisa terlalu lama mencoba mendekatinya kembali, karena dua minggu setelah UAN usai aku pindah ke Bogor. Kali ini Mama harus rela hidup tanpa aku. Di Bogor aku tinggal bersama keluarga Oom dari pihak Mama. Dua kali dalam setahun aku bisa pulang melepas kerinduan Mama. Ah, Mama memang melankolis. Kadang aku malu dengan sikapnya yang overprotektif dan memanjakanku.
Hanya dua kali dalam setahun pula aku bisa bertemu Cinta. Aku memberinya telepon seluler agar mudah berhubungan denganku. Aku juga memberi satu pada Alif, namun ia tak pernah menghubungiku. Selalu aku yang lebih dulu menghubunginya, itu pun selalu dijawabnya dengan singkat. Kata Cinta, Alif kini sibuk bekerja membantu ayahnya. Sementara Cinta sendiri telah tamat kursus menjahit, ia membuka butik kecil di rumah orang tuanya.
***
Tak terasa aku telah menyelesaikan pendidikanku. Aku telah lama menanti-nanti saat ini. Tamat kuliah, kemudian pulang meminang Cinta. Aku tersenyum membayangkan Cinta. Kupandangi fotoku bersama Cinta yang memenuhi desktop personal komputerku. Ah ya, aku ingin ia menjadi pendampingku dalam upacara wisuda nanti. Akhir-akhir ini aku sibuk menyelesaikan studiku. Sudah setahun aku tidak pulang, sibuk dengan skripsi hingga tak sempat menghubunginya. Aku segera menghubungi nomor Cinta yang terletak pada urutan pertama phonebook-ku.
“Halo….” Suara Cinta terdengar dari seberang sana.
“Apa kabar, Cinta?”
“Baik, Sayang. Kamu bagaimana?”
“Aku…sangat bahagia, karena aku akhirnya bisa mendengar suaramu lagi. Maaf ya, Cinta Sayang, aku sudah lama tidak menghubungimu.”
“Iya, tak apa. Aku mengerti kesibukanmu.”
“Terima kasih atas pengertianmu, Cinta. Sekarang aku tidak sibuk lagi, dan aku ingin menghabiskan waktu bersamamu.”
“Kamu akan pulang, Tra?”
“Ya, dan aku tak akan pergi meninggalkanmu lagi. Aku akan menepati janjiku padamu.”
“Janji untuk?”
“Meminangmu.”
“Itu berarti kamu….”
“Sudah tamat kuliah, seperti yang kukatakan di pohon tepi danau dulu.”
Cinta diam.
“Cinta? Kamu masih di sana?” tanyaku karena selama beberapa saat aku tak mendengar suaranya.
“Iya, Tantra. Aku masih di sini.”
“Kamu kenapa, Cinta?”
“Tidak. Tidak apa-apa.”
“Cinta, aku ingin kamu mendampingiku dalam upacara wisuda minggu depan. Besok aku akan pulang menjemputmu bersama orang tuaku.”
“Mendampingimu?”
“Ya. Kamu bersedia kan?”
“Aku….”
“Cinta, tolong jangan menolak.”
Aku menanti jawaban Cinta dengan cemas. Aku tak ingin ia menghancurkan harapan dan mengecewakanku dengan penolakannya.
“Baiklah, aku bersedia.”
“Terima kasih, Cinta. Aku akan pulang besok.”
“Ya, Tantra.”
“Cinta, I love you….”
“I love you too.”
Aku memutuskan sambungan dengan dahi sedikit berkerut. Suara Cinta tak seceria biasanya. Aku juga menangkap kesan ia akan menolak mendampingiku, lalu ia mengiyakannya dengan terpaksa. Ada apa ini? Ah, semoga saja Cinta hanya kelelahan karena banyak orang yang mengunjungi butiknya. Sebaiknya aku bersiap-siap untuk menjemput orang tua dan Cintaku besok.
***
Hiruk pikuk upacara wisuda telah berlalu. Acara salam-salaman, ucapan selamat, dan foto bersama juga telah usai. Kini hanya ada suasana hening dan romantis. Kupandangi wajah Cinta yang duduk di seberang meja bundar di hadapanku dalam keremangan cahaya lilin. Suara jangkrik memenuhi halaman belakang rumah Oomku. Sesekali kecipak ikan di antara daun-daun teratai mengacau air, membuat belasan lilin yang terapung di permukaan kolam menari gemulai, dan bayangan bulan serta bintang pun mengabur.
“Tantra, jangan pandangi aku seperti itu, ah. Malu aku,” ujar Cinta memecah kesunyian gazebo di tengah kolam.
“Kamu cantik.” Ujarku. Cinta tersipu, mengalihkan pandang ke luar. Aku urung memasukkan tangan ke saku ketika Cinta beranjak dari duduknya. Ia berdiri bersandar pada pagar gazebo menghadap ke kolam, memunggungiku.
“Ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu,” aku dan Cinta mengucapkan kalimat itu bersamaan. Kemudian sama-sama terdiam karena terkejut.
“Kamu dulu, Tra.”
“Kamu dulu, Cinta.”
“Kamu dulu saja, Tantra.”
“Lady first.”
“Baiklah.” Cinta menghela napas panjang. Aku menunggu, namun tak sepatah kata pun meluncur dari bibirnya.
“Cinta, kamu baik-baik saja? Mungkin kamu perlu minum dulu,” ujarku seraya mengulurkan gelas berisi air putih.
“Kita putus.”
“Apa? Jangan bercanda, Cinta.”
“Aku tidak sedang bercanda, Tantra. Aku serius.”
“Apa maksud kamu, Cinta?”
“Kita putus, Tantra. Apa kata itu masih kurang jelas untuk kamu? Kita putus. Kita akhiri hubungan yang selama ini telah kita jalin.”
“Kenapa, Cinta?”
“Karena perbedaan kita terlalu jauh.”
“Perbedaan? Perbedaan dalam hal apa, Cinta?”
“Dalam segala hal. Aku tak sepadan denganmu, Tantra. Aku hanya akan mempermalukan keluargamu. Aku hanya akan mencemari birunya darah keluargamu. Aku….”
“Cukup, Cinta! Pernahkah aku mempermasalahkan semua itu? Pernahkah aku malu memilikimu? Cintaku padamu tidak memandang kasta, Cinta. Aku benar-benar mencintaimu, apa adanya.”
“Tantra, aku….”
“Aku tahu kamu pun mencintaiku,” dengan penuh percaya diri kalimat itu meluncur dari bibirku. Aku berusaha tetap tenang. Aku tahu ini bukan sifat Cinta. “Cinta, pandang aku.”
Perlahan Cinta berbalik dengan wajah menunduk. Kusentuh dagunya, ada anak sungai mengalir dari kedua matanya. “Pandang aku, izinkan aku tahu isi hatimu.”
“Tantra, maafkan aku. Aku mencintaimu, tapi kita tetap harus mengakhiri hubungan ini. Ayah…. Ayah menjodohkanku dengan Alif,” ujar Cinta pelan. Bulir bening kembali meluncur di pipinya.
Alif? Alif sahabatku itu? Tega sekali ia merebut Cintaku! Aku tidak rela! Akan kuhabisi ia nanti!
Cinta terisak. Aku menariknya ke dalam pelukan. Kurasakan hangat air matanya merembes membasahi kemejaku, kemeja yang dijahitkannya untukku.
“Kamu menerimanya, Cinta?”
“Aku tak bisa menolak, Tantra, meski aku tak berkehendak. Aku dan Alif, kami berdua terjebak dalam situasi ini. Kami berdua terjebak dalam sumpah kakek kami. Tantra, jangan salahkan Alif. Alif tidak salah. Ia pun sama denganku. Ia hanya ingin menuruti sumpah kakeknya dan kakekku untuk menjodohkan cucu-cucu mereka. Percayalah padaku, ia tak pernah berpikir untuk mengkhianatimu.”
“Benar begitu, Cinta?”
“Ya, Tantra. Jangan menaruh dendam pada Alif. Ia sahabatmu. Ia tak bermaksud mengkhianatimu. Sekarang, relakan aku. Aku mencintamu, namun aku tak bisa hidup bersamamu.”
“Baiklah, Cinta. Kita akhiri hubungan kita. Aku rela melepasmu, demi keluargamu.”
“Terima kasih, Tantra.”
Kulepaskan pelukanku dan kuhapus air mata di pipi Cinta. sesungguhnya aku tidak rela, namun aku tak bisa berbuat apa-apa. Aku tak mungkin mendatangi orang tua Cinta dan memaksa mereka memutuskan tali perjodohan antara Cinta dan Alif. Satu-satunya hal yang bisa kulakukan hanyalah melepaskan Cinta, merelakan Cinta meski sesungguhnya aku tak rela.
Malam itu, seharusnya menjadi malam yang penuh suka cita. Papa mengadakan pesta kecil merayakan keberhasilanku. Ketika aku dan Cinta kembali ke rumah Oom, telah banyak teman-teman Papa yang datang bertamu memenuhi undangan Papa. Tapi bagiku malam itu adalah malam duka cita. Aku jadi tidak tertarik ikut berpesta. Padahal awalnya aku ingin memperkenalkan Cinta sebagai kekasihku kepada semua yang hadir, aku ingin memberi Cinta cincin di gazebo sebagai tanda keseriusanku. Namun belum sempat semua itu aku laksanakan, Cinta telah memutuskan hubungan kami berdua. Dengan lunglai aku melangkah ke kamar, tidak memedulikan pesta yang masih berlangsung. Kukatakan pada Mama bahwa aku lelah dan ingin beristirahat saja.
Aku tak banyak berkata-kata selama sisa waktuku di rumah Oom, demikian juga setelah aku pulang ke desa, ke desa Cinta. Aku menyibukkan diriku dengan membantu Papa menyelesaikan tugas-tugasnya. Aku banyak memberi masukan terkait ilmu yang telah kukuasai untuk memajukan perkebunan. Aku jarang ke luar dari kompleks induk dan jarang bertemu dengan orang-orang desa. Aku bersyukur karena selama ini hubungan cintaku dengan Cinta tak banyak diketahui orang sehingga tak ada orang yang tahu sakit hatiku mendengar kabar Cinta akan menikah dengan Alif.
***
Sore itu aku merasa rindu pada lapangan desa tempat aku dulu sering bermain sepak bola, juga pada pohon di tepi danau yang sering kutenggeri bersama Cinta. Aku baru selesai membantu Papa, masih dengan celana jeans dan kemeja aku mengayuh sepedaku perlahan menuju tempat itu. Aku memang tidak berniat bermain sepak bola, aku hanya mengitari lapangan melihat sekilas permainan anak-anak. Dari tepi lapangan kulihat Cinta duduk sendiri di bawah pohon yang dulu menjadi tempat kami memadu kasih. Cinta tak lagi bertengger di dahan pohon, tapi ia duduk manis di bawahnya. Aku ingin menghampirinya, namun baru saja aku hendak turun dari sepeda aku melihat Alif datang kepadanya. Aku pun mengurungkan niatku. Aku sengaja melintas di depan rumah Cinta. Tenda-tenda sudah didirikan dan orang-orang sudah sibuk mempersiapkan pernikahan mereka. Mereka akan menikah esok pagi.
Aku mengitari lapangan bola sekali lagi sebelum aku membawa sepedaku pulang. Ketika aku sampai di dekat rumah Alif, kulihat sepeda Alif ada di depan rumah. Maka aku putuskan untuk menemuinya. Baru saja aku hendak mengetuk pintu, aku mendengar suara Alif dan Ayahnya.
“Darimana kamu, Lif?” tanya Ayah Alif.
“Bertemu Cinta, Pak, di danau. Danau dekat lapangan.”
“Bagaimana perasanmu, besok mau menikah dengan Cinta?”
“Seperti ketiban ndaru, Pak. Terima kasih, Pak, kalau bukan karena Bapak Alif mungkin sekarang sedang patah hati melihat Tantra menikah dengan Cinta.”
“O yo ndak bakal Bapak biarkan anak Bapak patah hati tho, Lif. Cinta itu memang sudah seharusnya menjadi milik kamu, kamu sudah suka dia dari kecil tho, Le? Kamu yang sudah lama kenal dia kok anak baru itu yang mau nikah sama Cinta. Yo Bapak ndak rela. Meskipun Tantra itu anaknya wong gedean, tapi dia itu tetap penghalang buat kamu, yo harus kita singkirkan dengan berbagai cara.”
Telingaku mulai panas mendengar percakapan itu. Tapi aku berusaha menyabarkan diriku untuk mendengar yang selanjutnya.
“Terus Pak, apa benar Simbah dulu pernah bersumpah mau menjodohkan aku dengan Cinta?”
“Hahahaha…. Kalau yang itu asli karangan Bapak, Lif. Bapak saja tidak pernah tahu simbahnya Cinta. Simbahmu sudah meninggal sebelum Bapak pindah ke sini, sebelum Bapak kenal dengan orang tua Cinta. Bagaimana Simbah mau bersumpah jodoh-jodohan kalau kenal saja tidak? Hahaha….”
Dengan penuh emosi aku meninggalkan rumah Alif. Sahabat macam apa yang mengkhianati sahabatnya sendiri? Ternyata begitu caranya merebut Cinta dariku. Aku tidak rela kalau begini caranya. Jika aku tak dapat memiliki Cinta maka tak ada seorang pun yang boleh memilikinya.
Malam itu aku tidak tenang. Aku terus memikirkan pengkhianatan yang dilakukan Alif. Ia tega mengkhianati aku dan Cinta. Malam itu aku tidak bisa tidur. Pikiranku dipenuhi dengan detik-detik waktu yang telah kulalui sejak aku datang ke desa ini. Bagaimana pertemananku dengan Alif, bagaimana aku jatuh cinta pada Cinta, dan bagaimana Alif mengkhianati aku dan Cinta.
Malam itu adalah malam pernikahan Cinta dan Alif. Aku menembus dinginnya udara dini hari dan diam-diam menyelinap ke kamar Cinta. Pada sepertiga malam terakhir itu kujumpai Cinta sedang sholat tahajjud. Aku datang dari arah belakangnya sehingga ia tidak menyadari kehadiranku. Kamarnya telah dihias dengan indah, beberapa jam lagi ia akan menjadi istri Alif yang sah. Aku tidak sabar menunggu beberapa jam lagi untuk menyaksikan senyum bahagia tersungging di bibir Alif. Dari pantulan cermin kulihat air mata Cinta meleleh. Kugenggam erat tangkai pisau pada rokaat terakhir sholat malam Cinta.
“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,” bisik Cinta pada akhir sholat malamnya.
“Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh,” jawabku. Kubekap mulut Cinta dengan erat. “Semoga kamu bahagia, Cinta. Aku mencintaimu. Bismillah…,” bisikku dambil menutup mata.
Kusujudkan Cintaku pada sajadah. Kutopang tubuhnya dengan beberapa bantal agar tidak jatuh dari posisi sujudnya. Kuusahakan agar darah Cinta tidak tampak berceceran, darah yang ke luar dari celah yang kugoreskan di leher Cinta dengan pisauku. Celah yang menjadi jalan bagi nyawa Cinta untuk terbang meninggalkan raganya.
Aku ke luar dari rumah Cinta, berlari ke arah pohon di tepi danau. Cinta telah tiada. Sampai sudah maksudku. Jika bukan aku yang memiliki Cinta, maka tak ada seorang pun yang boleh memilikinya.
Dengan pisau yang berlumuran darah Cinta, kugores leherku sendiri. Aku berharap darahku dan darah Cinta menyatu, dan dengan begitu maka aku dan Cinta akan bersatu pula.
Demi Cinta aku rela melakukan apa pun, mengorbankan apa pun, bahkan nyawaku sendiri untuk bersatu dan memiliki Cinta.

SELESAI 

0 komentar