Kumpulan Puisi Created By Ismail Lubis

INI SEMUA SALAHKU

entah aku harus berkata apa?
pada dunia yang memang nyata
pada luka - luka yang masih terpampang dan terngiang
menghiasi dinding imaji yang ternyata keji
apakah hidup ini tak lebih dari sekadar menunggu mati?
awalnya aku cukup menikmati caci maki itu
tapi menikmati caci itu tak senikmat sebatang rokok yang bagai oksigen bagiku
dan menikmati maki itu tak senikmat secangkir kopi hitam legam
ah sudahlah....apalah guna mencaci nyata dan imaji?
toh semua telah terjadi
ku tahu itu hanya mecampakkan waktu yang sesungguhnya teramat berarti bagi siapapun
apalagi yang masih ingin menyandang gelar "waras"
ya gelar "waras"
sungguh ini semua salahku
dan aku bisa memahami mengapa kalian atau mereka begitu
akulah manusia entah dari dimensi berantah
tapi lupakah kalian
bahwa Tuhan selalu punya alasan
mengapa begini?
mengapa begitu?
ah pongahlah aku
karena aku sendiri tak mampu memahami itu
aku memang salah
tapi bukankah mulia sekali
jika ada sesorang
yang dengan setengah hati saja memberiku secarik peta
untuk sekadar keluar dari hutan kemelut
aku tahu kalian adalah manusia sama sepertiku
cobalah untuk menjadi aku
apakah itu itu mudah?
cobalah untuk menjadi aku
apakah itu indah?
aku tak ingin munafik dibalik senyum palsu
karena aku sendiri muak pada kepalsuanku
aku hanya berharap ada dari kallian
yang sudi memberi secarik peta
untuk keluar dari situasi ini
meski dengan menutup hidung
tanda betapa menjijikkannya aku
setelah itu mungkin aku akan menjauhi kalian
karena kalian memang tak butuh seorang aku

Puisi by :  Ismail Lubis


JUMAT TRAGIS, SABTU MRINGIS, MINGGU TERIRIS

di mulai dari hari jumat
adzan berkumadang sementara ada yang masih berdendang
sambil berselendang dalam balut dosa yang terbalut riang
ketika para khotib datang
mereka masih berdendang dalam alunan dosa yang terus berkumandang
entah berapa yang akhirnya sial bukan kepalang
karena mereka berhutang
karena mendustakan ibadah wajib di jumat siang
sungguh tragis
sabtu pun datang
senjapun mulai berkumandang
lalu para pemuda
bicara " halo sayang nanti ketemuan dimana?"
"di tempat biasa yang"
yang ini apa sih?
eyang,peyang atau sayang?
kalau sayang kok malah mengajak dosa melayang
bukaankah yang ketiga itu setan sayang?
apa kamu pikir yang bisa mati cuma eyang?
wajarlah kepalamu kan peyang
dimana aya mereka
dimana ibu merekA
oh ternyata shoping
oh ternyata nogkrong di warung
oh ternyata ngrumpi di tetangga sebelah
oh ternyata lagi main remi
para setan senang dan mringis
kalapun berganti
minggupun siap dinikmati
saaatnya bangun siang
terus subuhnya gimana ya?
bagamiana kita tak teriris?

Puisi by :  Ismail Lubis

0 komentar