Puisi Ironi Ramadhan Oleh Ismail Lubis

IRONI RAMADHAN


tak terasa
kerinduanku padanya tak lama lagi terobati
rajab telah mengabarkan datangnya bulan kekasihku itu
tapi entah mengapa rinduku terbalut was -was
karena aku tak yakin mampu menjaga keagungannya
karena aku sendiri pun tak mampu menjaga kesuciannya
sebab seperti pertemuanku dengannya di masa lampau
aku masih saja mencintai dosaku
bahkan mungkin aku lebih mencintainya daripada bulan kekasihku itu
tak jarang aku bermaksiat padanya
benar aku masih mampu lapar dan haus
tepat jika aku masih bisa tak marah
tentu pula aku tak mengumbar naluri kelelakianku
tapi itu hanya terjadi ketika aku disengat matanya hari
tetapi ketika matanya hari itu terpejam
dan berganti menjadi malam yang kelam
hatiku ikut terpejam
dan aku kembali buta pada apa itu benar dan apa itu salah?
sebagaimana matanya hari yang tadi kukatakan terpejam secara temporal
sebagai seseorang yang agak berilmu
tentunya aku tahu bagaimana pedoman hidupku memandangya
tetapi apalah arti ilmu tanpa amal
bak pohon rindang tak berbuah
sngguh ironi ramadhnan itu nyata adanya bagiku
semoga kalian tidak sama sepertiku
itulah secerca doaku pada kalian
karena aku yakin kalian jauh lebih mulia dariku
yang bodoh lagi hina ini

Puisi by : Ismail Lubis

0 komentar