Menjadi Aktivis Dakwah Yang Tangguh Dengan Al-Qur’an

Menjadi Aktivis Dakwah berarti menjadi pribadi yang siap, siap menanggung resiko, siap mengorbankan separuh waktu dan kehidupannya untuk dakwah. Dakwah merupakan prioritas utamanya dan mendominasi setiap aktivitasnya, sebagai cerminan dari komitmen dan loyalitasnya. Akan tetapi, alangkah lebih mulianya seorang aktivis dakwah yang seluruh aktivitasnya dinaungi dengan rahmat Al-Qur’an, seorang aktivis dakwah yang juga merupakan keluarga Allah dimuka bumi.

Menjadi Aktivis Dakwah Yang Tangguh Dengan Al-Qur’an


Al-Qur’an merupakan pedoman bagi umat muslim yang paling utama. Di dalam Al-Qur’an surat An-Nisa : 59 yang artinya adalah, “Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan Taatilah Rasul (Muhammad), dan Ulil Amri (Pemegang Kekuasaan) di antara kamu. Kemudian jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (Sunnahnya), Jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu, lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” Di dalam ayat tersebut sudah sangat jelas menerangkan kepada kita bahwasanya satu satunya pedoman hidup bagi seorang manusia adalah Al-Qur’an. Dan Al-Qur’an merupakan satu satunya kitab samawi yang benar benar Allah janji akan menjaga kemurnian isinya.

Janji Allah untuk menjaga kemurnian Al-Qur’an adalah dengan adanya para huffadzul qur’an, keluarga Allah di muka bumi. Dan benar adanya, sampai saat ini banyak para penghafal Al-Qur’an bertebaran terutama di tanah pertiwi Indonesia ini. Banyak pula para aktivis muda yang bercita cita ingin menjadi seorang penghafal Al-Qur’an.

Akan tetapi pada realitanya, banyak para aktivis muda yang mengeluhkan penuhnya aktivitas mereka di organisasi sebagai kendala dalam menggapai impian mereka sebagai seorang penghafal Al-Qur’an. Padahal, seorang penghafal Al-Qur’an bukanlah seorang pengangguran.

Mari kita lihat dan kita ingat ingat bahwa para aktivis dakwah dan ilmuwan-ilmuwan terdahulu adalah orang-orang yang hafal Al-qur’an. Beberapa contoh para pemimpin yang hafal Al-Qur’an diantaranya:


  1. Perdana Mentri Palestina “Ismail Haniya”.
  2. Raja Saudi Arabia “Faisal bin Abdul Aziz” .
  3. Presiden Mesir “Mohammed Mursi”.
  4. “Umar bin Abdul Aziz” seorang khalifah di masa Bani Umayyah yang terkenal dengan kemampuannya memakmurkan negara dan bangsanya dalam waktu yang sangat singkat.

Beberapa diantara ilmuwan-ilmuwan yang hafal Al-Qur’an sejak usia remaja :


  1. “Imam Syafi’i” salah satu imam dari 4 imam madzhab yang hafal Al-Qur’an sejak diusianya yang ke 7.
  2. “Imam Ath-Thabari” seorang ahli tafsir yang hafal Al-Qur’an sejak usia 7 tahun.
  3. “Ibnu Sina” yang merupakan peletak dasar ilmu kedokteran dan juga ahli dalam ilmu fisika yang hafal Al-Qur’an disaat usianya yang ke 5 dan menjadi doktor profesional disaat umur 17 tahun.
  4. “Ibnu Khaldun” yang merupakan bapak Ekonomi Islam dari Tunisia yang juga hafal Al-Qur’an sejak diusianya yang ke 7.

Beberapa contoh figur diatas merupakan para aktivis dakwah yang mengabdikan dirinya dengan Al-Qur’an, yang aktivitas dakwahnya selalu berlandaskan rahmat Al-Qur’an, mereka menselaraskan kedua amal mulia tersebut demi mencapai ridho Allah SWT.
Apakah bukti itu belum cukup bahwa justru para aktivis dakwah dianjurkan untuk menjadi seorang penghafal Al-Qur’an, dan bukan sebuah hal yang mustahil seorang aktivis dakwah juga bisa berhasil dalam menghafalkan Al-Qur’an.

Itu sebabnya, aktivitas organisasi dakwah bukanlah suatu halangan dalam menghafal Al-Qur’an! Tidaklah seharusnya bagi seorang aktivis dakwah islam menjadikan aktivitas organisasi sebagai alasan tidak tercapainya hafalan Al-Qur’an. Tidak adil rasanya. Karena sejatinya yang menjadi penyebab sulitnya menghafal bersumber dari diri kita sendiri. Mengapa??

Banyak sekali faktor-faktor yang menyebabkan susahnya menghafal, yang itu semua bersumber dari pribadi kita masing-masing. Diantara faktor-faktornya ialah,


  1. Rusaknya niat seorang dalam melakukan suatu pekerjaan. Dalam menghafalkan Al-Qur’an, niat seseorang sangat mempengaruhi kemudahan orang tersebut dalam proses menghafal. 
  2. Kurangnya Tekad dan Azzam dalam menghafal. Karna, ketika sesorang menghafal dalam keterpaksaan, maka pasti tidak adanya kesertaan hati di dalamnya. Sedangkan dalam menghafal Al-Qur’an, kesertaan 5 panca indera kita itu sangat mempengaruhi proses kemudahan dalam menghafal.
  3. Tidak adanya motivasi yang besar dalam menghafal Al-Qur’an. Ketika sesorang tidak memiliki motivasi ataupun tujuan dalam menghafal, maka proses yang ia jalani akan cepat membosankan yang menyebabkan munculnya rasa susah dalam menghafal.
Dari ketiga point diatas dapat disimpulkan bahwa yang seharusnya disalahkan atau bahkan di kambing hitamkan ketika mengalami rasa sulit dalam menghafal Al-Qur’an bukanlah aktivitas organisasi itu, melainkan dari diri kita sendirilah yang harus terus mengevaluasi diri. Manajemen waktu yang apik dan teratur, kesinambungan dalam menghafal (Keistiqomahan), metode menghafal yang sesuai dengan kapasitas kemampuan yang terbaik bagi seseorang. Karna sesungguhnya menghafal Al-Qur’an itu MUDAH, Allah sudah menjanjikan itu. Allah sebutkan berulang kali di dalam Al-Qur’an surat Al-Qomar : 22, 32 & 40, “Dan Sungguh, telah Kami mudahkan Al-Qur’an untuk peringatan, Maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?”.

Artikel By : Fithri Lathifah
Mahasiswi STEI SEBI

0 komentar