Belajar Dari Sumayyah Menjadi Akhwat Yang Tangguh

Akhwat tangguh? Apa itu? Baru dengar pertama kali? Oke, simak tulisan dibawah ini baik-baik ya sholihah :). Akhwat tangguh atau mungkin kita sering mendengarnya dengan kata wanita tangguh adalah seorang wanita yang memiliki keteguhan terhadap pendiriannya, walaupun berbagai rintangan serta musibah menghadangnya, yang didalam hatinya terpatri keyakinan yang kuat kepada Allah, yang mengharapkan serta menggantungkan segalanya hanya kepada Allah, bahkan dia selalu bersikap husnudzon terhadap apapun yang menimpanya, kenapa dia bersikap seperti itu?  Karena dia yakin bahwa semuanya sudah diatur sebaik mungkin oleh Allah subhanahu wa ta’ala, walaupun dia harus merasakan sakit yang sedikit didunia agar mendapatkan kenikmatan abadi di akhirat sana.

Belajar Dari Sumayyah Menjadi Akhwat Yang Tangguh


Sumayyah Binti Khayyat adalah the real akhwat tangguh. Siapa yang tidak mengenalnya? Bahkan penduduk langit pun mengenal akhwat tangguh yang satu ini. Bukan hanya Sumayyah saja, melainkan suami dan anaknya pun sangat tangguh. Mengapa? Karena perjuangan Sumayyah Binti Khayyat beserta keluarganya yang mempertahankan keimanannya bukanlah perjuangan yang mudah untuk dilewati. Hidup diantara orang-orang kafir dan musuh Allah Bani Makhzum, Sumayyah dan keluarganya ditangkap dan disiksa dengan berbagai siksaan yang sangat menyakitkan agar mereka keluar dari agama islam. Salah satu siksaan yang harus diderita oleh keluarga Sumayyah yaitu dengan cara membuang mereka ke padang pasir yang kala itu keadaannya sangat panas dan menyengat. Bani Makhzum membuang Sumayyah ke sebuah tempat dan menaburi tubuh Sumayyah dengan pasir yang sangat panas, kemudian diletakan di atas dadanya sebongkah batu besar yang berat. Akan tetapi, tiada terdengar rintihan ataupun ratapan yang kelar dari mulut Sumayyah, melainkan ia mengucapkan “Ahad.. Ahad..” Sumayyah terus mengulangi kata-kata tersebut.

Suatu ketika, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyaksikan keluarga muslim tersebut yang tengah disiksa dengan kejam, maka beliau menengadahkan ke langit dan berseru,

صَتْرًاآلَ يَاسِرٍفَإِ نِّ مَوْعِدَكُمُ الْجَنَّةُ

Bersabarlah, wahai keluarga Yasir, karena sesungguhnya tempat kembali kalian adalah surga.

Sumayyah binti Khayyat mendengar seruan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam maka beliau bertambah tegar dan optimis. Dengan kewibawaan imannya, dia mengulang-ulang dengan berani, “Aku bersaksi bahwa engkau adalah Rasulullah dan aku bersaksi bahwa janjimu adalah benar.

Begitulah, Sumayyah binti Khayyat merasakan kelezatan dan manisnya iman sehingga bagi beliau kematian adalah sesuatu yang remeh dalam rangka memperjuangkan akidahnya. Hatinya telah dipenuhi kebesaran Allah subhanahu wa ta’ala, maka dia menganggap kecil setiap siksaan yang dilakukan oleh para tagut yang zalim; mereka tidak kuasa menggeser keimanan dan keyakinannya, sekalipun hanya satu langkah semut.

Sampai akhirnya para tagut itu menyerah mendengar ucapan yang senantiasa diucapkan berulang kali oleh Sumayyah, maka Abu Jahal menusukkan sangkur yang berada dalam genggamannya kepada Sumayyah. Terbanglah nyawa Sumayyah dari dari raganya yang beriman serta suci bersih. Beliau gugur setelah memberikan contoh baik dan mulia bagi kita dalam hal keberanian mempertahankan keimanan, beliau telah menyerahkan segalanya yang ia miliki dan menganggap kecil perkara kematian dalam memperjuangkan imannya. Beliau telah mengorbankan nyawanya yang berharga demi meraih keridhaan RabbNya. Beliau adalah wanita pertama yang syahid dalam islam. 

Yang harus kita ketahui bahwa sesungguhnya orang-orang yang syahid itu tidak mati, melainkan mereka hidup dengan rezeki yang diberikan oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Surga firdaus telah menunggu para syuhada, untuk hidup kekal abadi dengan kenikmatan surgawi. Mereka adalah dambaan para mujahid surga. Mereka rela melewati itu semua, demi mendapatkan kebahagiaan untuk selamanya. Walaupun harus merasakan sakit dan penderitaan didunia, tapi itu hanya sementara saja. 

Banyak sekali pelajaran yang bisa kita ambil dari kisah Sumayyah binti Khayyat. Beliau adalah seorang wanita yang sangat tegar, sabar, teguh pada agamanya, tangguh, dan sangat yakin dengan janji Allah subhanahu wa ta’ala. Mempertahankan keimanan itu tidaklah mudah, sholihah. Mungkin di jaman ini kita tidak bisa merasakan manisnya perjuangan Sumayyah, tapi justru di jaman inilah Allah subhanahu wa ta’ala menguji kita dengan kemudahan yang Ia berikan. Miris rasanya, ketika menyaksikan keimanan seseorang dijual dengan harga yang sangat murah bahkan dengan cuma-cuma mereka rela menggadaikan keimanannya hanya karena ingin mendapatkan harta dunia yang sebenarnya tidak ada apa-apanya. 

Mereka lupa bahwa keimanan mereka akan dipertanggungjawabkan dengan seadil-adilnya. Lantas apa yang ada difikirannya? Tidakkah mereka berfikir bagaimana perjuangan para pendahulu kita yang luar biasa dengan susah payah mempertahankan keimanannya? Yah, mungkin Allah belum memberikan hidayah kepada orang-orang tersebut atau mungkin kita yang selama ini terlalu terbuai oleh kenikmatan dunia yang fana. Astaghfirullah, mari bersama-sama kita beristighfar kepada Allah atas semua kekhilafan yang kita lakukan. 

Lantas apa yang bisa kita lakukan untuk memperjuangkan dan mempertahankan keimanan kita? Tenang sholihah, setiap ada permasalahan pasti ada solusi, setiap ada pertanyaan pasti ada jawaban dan setiap ada kesulitan pasti ada kemudahan. Langkah pertama yang harus dilewati dan tantangan paling besar adalah diri sendiri. Mulai dengan mengendalikan hawa nafsu, perkuat ibadah dengan niat hanya untuk Allah, dan yang paling penting adalah belajar yakin dan percaya pada janji Allah swt bahwa apapun yang Allah janjikan pasti akan ditepati, baik itu di tepati di dunia ataupun di akhirat nanti.

Sholihah, Jangan biarkan surgamu sepi! karena Akhwat Tangguh yang sebenarnya itu adalah akhwat yang tidak pernah lelah untuk mengajak orang kepada kebaikan, dan mengajak orang lain untuk masuk ke surga bersama-sama, dan kemampuan itu ada didalam diri kita. Hanya saja banyak dari kita tidak menyadari itu. Yuk sholihah, bersama-sama menyadari  kemampuan terpendam kita, dan dengan segera kita memgambil langkah pertama yang dimulai dari diri sendiri. Jangam khawatir, Ingat, janji Allah itu pasti !

Asri Yasirotunnabilah
Mahasiswi STEI SEBI 
Manajemen Bisnis Syariah 17 

0 komentar