Hafal Al-Qur'an 30 Juz Bukan Hafiz ? Siapa Yang Pantas Menyandang Gelar Hafiz

Menyandang gelar hafizh agaknya semakin booming akhir-akhir ini, terutama di kalangan remaja. Alasan utamanya terletak pada berbagai macam metode yang digunakan dalam menghafal Al-Quran. Rentan waktu pencapaiannya pun menjadi beragam, ada yang selama 3 sampai 6 tahun, dikarenakan menginduk pada program sekolah atau pondok pesantren tertentu. Ada pula yang dengan hanya 1 tahun bahkan 1 bulan sudah bisa menyelesaikan hafalan 30 juz. Allahu a’lam, begitu banyak kemudahan dalam menghafal Kalamullah.

Siapa Yang Pantas Menyandang Gelar Hafiz


Sesungguhnya Allah mempunyai keluarga diantara manusia, para sahabat bertanya, ‘Siapakah mereka yaa Rasullullah?’ Rasul menjawab, ‘Para ahli Al-Quran. Merekalah keluarga Allah dan pilihan-pilihan-Nya.” (HR. Ahmad).

Namun tahukah kita, apa itu hafizh? Dan siapa itu orang-orang yang dijuluki hafizh?
Secara lughawi hafizh berarti menjaga atau menghafal, huffazh adalah bentuk jamak dari hafizh. Para ulama menyematkan gelar hafizh kepada ahli hadits yang memiliki hafalan hadits sebanyak 20.000 bahkan lebih dari itu. sedangkan penghafal Al-Quran biasa disebut hamilul quran atau hamalatil quran (jamak). Namun pemakaian ini tidak begitu bermasalah. Karena tidak menyimpang dari makna dasar.

Secara menyeluruh kita perlu tahu bahwa yang disebut hafizh bukan sekedar mereka yang telah khatam menghafal 30 juz, atau mereka yang memiliki syahadah tahfizh bagai bukti nyata kekuatan hafalannya. Lebih dari itu, hafalan yang mereka punya sebenarnya menjadi tanggung jawab bagi dirinya sendiri. Sejatinya sang hafizh ialah mereka yang mampu mengaplikasikan Al-Quran dalam kehidupannya.

Salah seorang ulama berkata dalam sya’irnya:

 ٓيآحِفُظ الُقرٰاِنٓلسٓتِبٓحاِفٍظٓحّتىٓتكُوٓنِلٓمآحِفظٓت مطبًقا،ٓمآذاُيفِـيُدٓك آنُتٓسّمىٓحاِفًظآوِكٓتاُبٓربٓكِفى الفؤاِد تٓمّزًقا؟ 

Wahai orang yang menghafal al-Qur’an, engkau tidak pantas disebut Hafizh sehingga engkau mengamalkan kandungan al-Qur’an. Manfaat apa yang engkau dapat untuk bangga disebut Hafizh padahal al-Qur’an telah engkau nodai di dalam hatimu.

Jika kita resapi lebih dalam makna syair ini, sungguh sangat mudah hati sang huffazh digoyahkan dengan sebuah gelar. Maka janganlah kita merasa tinggi dan berbesar hati, jika hafal sekedar hafal, siapapun bisa hafal. Namun hanya jiwa-jiwa terpilihlah yang mampu menyelaraskan apa yang dihafal dengan apa yang menjadi amal. Sepatutnya kita menjadikan hafalan kita sebagai amanah terindah yang Allah letakkan di hati-hati kita, untuk kemudian kita aplikasikan dan kita sebar sebanyak-banyaknya manfaat di muka bumi.

Sekian dahulu artikel dari kami pada kesempatan kali ini, semoga artikel nan singkat ini bisa menambah wawasan kita semua. Jangan lupa berikan saran dan kritik jika apa yang saya sampaikan ada yang salah.
Allahu a`lam

Oleh: Fathimah Az-Zahro
Mahasiswi STEI SEBI

0 komentar