Larangan Bersifat Imma’ah atau Ikut-ikutan Apa Yang Di Katakan Orang

Lisan bagaikan senjata bagi manusia yang tak pandai menjaganya. Akan menjadi pedang bila berdampak luka pada hati seseorang, akan menjadi boomerang bila tak pandai menyiasati kata, juga menjadian perpecahan bilamana salah guna. Dengan lisan pula seseorang dapat menyampaikan kebaikan maupun kebathilan. Maka posisikanlah lisan agar selalu mengarah kepada kebaikan, dan rujukanlah kebaikan kepada sumber sebenarnya yakni Al-Quran dan As-Sunnah. Perkataan yang tidak memiliki sumber yang valid akan menjadi sebuah kebohongan dan akan mempengaruhi pendengar, baik terletak pada ucapannya nanti maupun perbuatannya.

Larangan Bersifat Imma’ah atau Ikut-ikutan Apa Yang Di Katakan Orang


Begitupun bagi telinga, fungsikanlah untuk ruang masuknya kebaikan. Kajilah apa yang mungkin terasa abu-abu dan belum tentu kebenarannya. Karena tidak semua perkataan tersimpan kebaikan, maka pandai-pandailah memfungsikannya. Jangan sampai kita memiliki sifat imma’ah karena mengikut-ikuti perkataan yang belum jelas kebenarannya.

Al-Maqshidi mengetengahkan sebuah hadits , Rasulullah SAW bersabda:

Berikan penafsiran terbaik tentang apa yang kau dengar dan apa yang diucapkan saudaramu. Sampai engkau menghabiskan semua kemungkinan dalam arah itu

Imma’ah secara bahasa berarti ikut-ikutan. Maksudnya adalah mengikut-ikuti apapun dari yang dikabarkan seseorang, baik dalam hal kebaikan maupun keburukan. Dalam hal baik saja kita dilarang ikut-ikutan, artinya seseorang hanya meniru apa yang orang lain bilang atau lakukan dalam hal baik namun tanpa tahu ilmunya. Amal baik yang dikerjakan tanpa ilmu tidak akan berkekuatan lama, selain itu akan mudah terpengaruhi oleh perkataan-perkataan yang lain. Terlebih ikut-ikutan dalam keburukan.

Dijelaskan pula dalam sabda nabi,

عَنْ حُذَيْفَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لاَ تَكُونُوا إِمَّعَةً، تَقُولُونَ: إِنْ أَحْسَنَ النَّاسُ أَحْسَنَّا، وَإِنْ ظَلَمُوا ظَلَمْنَا، وَلَكِنْ وَطِّنُوا أَنْفُسَكُمْ، إِنْ أَحْسَنَ النَّاسُ أَنْ تُحْسِنُوا، وَإِنْ أَسَاءُوا فَلاَ تَظْلِمُوا.

Dari Hudzaifah berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Janganlah kalian menjadi Imma’ah; kalian berkata: jika orang-orang baik, kami pun ikut baik. Dan jika mereka dzalim kami pun ikut dzalim. Tetapi siapkan diri kalian (untuk menerima kebenaran dan kebaikan); Jika orang-orang baik, kalian harus baik dan jika mereka rusak kalian jangan menjadi orang dzalim.” (HR. Tirmidzi dan berkata: Ini hadits hasan ghorib).

Kewajiban kita sebagai hamba yang fakir ilmu adalah menguasai dan bersandar kuat hanya kepada Allah, bukan kepada yang lainnya. Dan menjalankan sesuatu berdasarkan panduan ilmu Allah, bukan dengan mengikut-ikuti seseorang. In syaa Allah dengan begitu seseorang tidak akan dengan mudah mengelabui kita dengan hal yang bersifat syubhat.

Nama: Fathimah Az-Zahro 
Mahasiswi STEI SEBI

0 komentar