Bagaimana Hukum Orang Muntah Ketika Berpuasa, Batalkah ?

Suatu hari saya sedang berpuasa sunnah senin-kamis bersama ibu saya. Setelah sahur sambil menunggu adzan subuh, ibu melakukan aktivitas biasa. Kemudian ibu menemui saya dan bertanya, “dek tadi ibu muntah-muntah sampai empat kali. kira-kira dilanjutkan atau tidak ya puasanya?”. Kemudian saya kaget, wah sampai empat kali. Saya berpikir nanti jika ibu melanjutkan puasa takutnya malah kenapa-kenapa karena pagi saja sudah muntah dua kali. Lagipula puasa kami adalah puasa sunnah. Jadi tidak mengapa jika tidak dilaksanakan. “ibu puasanya tidak usah dilanjut dulu, takutnya kenapa-kenapa kalo dilanjut puasa. Soal hukum boleh atau tidaknya, nanti adek carikan sumbernya dulu”.

Bagaimana Hukum Orang Muntah Ketika Berpuasa, Batalkah ?


Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

" مَنْ ذَرَعَهُ قَىْءٌ وَهُوَ صَائِمٌ فَلَيْسَ عَلَيْهِ قَضَاءٌ وَإِنِ اسْتَقَاءَ فَلْيَقْضِ "

Barangsiapa yang muntah (secara tidak sengaja) sedangkan dia dalam keadaan puasa, maka tidak ada kewajiban mengqadha’ baginya. Namun apabila dia muntah (dengan sengaja), maka wajib baginya membayar qadha’.” (HR. Abu Daud, no. 2380; Ibnu Majah, no. 1676; Tirmidzi, no. 720. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini dha’if. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Dari hadits di atas dapat disimpulkan bahwa muntah karena ketidaksengajaan, tidak dinyatakan batal dan boleh melanjutkan berpuasa. Dengan catatan bahwa yakin masih bisa melanjutkan. Jangan memaksakan diri untuk melanjutkan puasa apabila memang dalam keadaan sakit,misalnya. Kemudian puasa itu dinyatakan batal apabila muntah tersebut disebabkan dipaksakan muntah atau batalkan puasa sekaligus mewajibkan bagi pelakunya untuk mengganti puasa (wajib) yang batal tersebut.

Dalam islam tak pernah ada paksaan ketika ia tak mampu, maka tak di laksanakan pun tak masalah. Namun jika sudah mampu jika itu kewajiban maka kita harus menggantinya di lain waktu. Begitupun sholat, sholat juga pada dasarnya harus berdiri, namun jika kita tak mampu berdiri maka kita bisa melaksanakan sambil duduk. Jika duduk tak bisa sambil tiduran, sambil tidur tak bisa maka boleh hanya dengan isyarat saja.

Demikian kawan semoga artikel ini bisa menambah wawasan kita tentang agama yang kita anut selama ini. Kita jumpa lagi di lain kesempatan dan tentunya dengan pembahasan dakwah yang lain nya.

Wallahu a’lam bi showwabb.

Oleh : Yuniar Ikhtiarini
Mahasiswi STEI SEBI

0 komentar