LINIMASA KEHIDUPAN

Kehidupan didunia ini selalu melaju kedepan dan tak ada yang bisa kembali masa yang telah lalu. Waktu yang barusan kita lewati pun tak bisa kembali. Terus berjalan seperti rotasi yang tak kenal henti pada apa dan siapa pun. Dimensi waktu yang tak bisa kita jelajahi. Bahkan waktu hanya bisa diacukan dalam kehidupan manusia untuk menjadi ukuran hari-hari yang dilewati. Maka kita kenal dengan adanya jam dan kalender.



Berpikir sejenak, kita hanya bisa mengendalikan diri kita untuk berkehendak atas waktu yang diberikan. Lebih misteri adalah ending dari segala kehidupan didunia ini entah dari umur manusia yang tidak tahu kapan akan berakhir ataupun umur dunia ini yang kita yakini bahwa akan ada hari akhir. Tetapi, lagi-lagi kita kita tidak tahu pastinya kapan akan terjadi.

Apakah ini semua tidak memiliki arti dalam mekanisme kehidupan yang terjadi. Pastinya kita bertanya-tanya kepada Allah SWT ada apa dengan merahasiakan misteri dari ending ini. Positifnya menjadikan usaha terus dikerahkan untuk segala kebutuhan dan keinginan manusia yang seiring berkembang yang saat kini bisa kita rasakan bagaimana perkembangannya dari zaman ke zaman. Optimisme menyelimuti dalam benak dan pikiran manusia yang menjadi modal untuk orientasi dan tujuan meski masih akhirnya ada yang menentukan sang takdir.

Simulasi waktu didunia adalah ketika pembaca sedang membaca tulisan ini dan pastinya pembaca yakin bahwa tulisan ini akan berakhir cepat atau lambat tergantung bagaimana kemampuan masing-masing pembaca. Itu kalau dunia serasa dimiliki sendiri. Jika ada suatu acara dalam ruangan pun kita yakin bahwa acara akan berakhir sampai pukul yang ditentukan untuk menjadi acuan. Yang tersedia hanya satu pintu untuk keluarnya seluruh peserta acara tersebut. Setelah keluar dari satu pintu itu masing-masing peserta telah bebas dari agenda acara hanya tinggal mau menikmati kebaikan atau merasakan akibat dari keburukan yang telah dilakukan didalam ruangan selama acara. Menikmati hasil atau menyesal menjadi pilihan ketika setelah acara.

Bayangkan jika selama acara didalam ruangan adalah kehidupan didunia dan pintu yang satu itu adalah kematian yang sesuatu pasti akan dilewati oleh peserta acara setelah selesai. Kehidupan diluar menjadi pilihan akhirat mau masuk surag atau neraka atas apa yang telah dilakukan selama kehidupan didunia.

Waktu tak mengenal siapa kita dan jabatan kita serta harta yang kita punya. Waktu akan menebas apapun yang sudah menjadi ketetapan Allah bahwa ajal datang yang kita tidak tahu kapan itu akan terjadi. Itulah hikmahnya ihsan untuk senantiasa kita selalu diawasi untuk selalu dalam lindungan-Nya.

Pernahkah kita merasa bahwa kini tidak terasa dengan waktu yang terlewati. Misalnya ketika kita mengingat kapan ini mulai serasa cepat sekali terlewati. Begitu pula ketika ajal telah mati, begitu singkatnya hidup ini yang rasanya baru kemarin lahir kini sudah mati.

Pada akhirnya yang ditanyakan ketika dihisab adalah bagaimana sholat serta ibadah-ibadah atasa waktu yang diberikan. Jangan sampai usia yang diberikan kepada kita menjadi sia-sia dan menjadi lebih berat keburukan dibanding kebaikan. Karena yang bisa kita manfaatkan sebaik-baikny adalah ihsan itu sendiri karena waktu yang begitu misteri. Merasa diawasi oleh sang pencipta menjadi mental terkuat atas ciptaan lain bahkan sekalipun waktu. Memanfaatkan waktu adalah hal yang sangat penting dibanding dunia dan seisinya yang kita harapkan dan impikan. 

Artikel by : Ghozi Basyir Amirulloh

0 komentar