Lombok Berduka: Apa Maksud Dibalik Musibah Lombok?

Gempa Lombok


Pada Minggu, 29 Juli 2018 Lombok, Nusa Tenggara Barat dikejutkan dengan bencana alam berupa gempa bumi berkekuatan 6,4 SR. Musibah yang menimpa pulau yang dijuluki pulau seribu masjid ini berhasil mendapatkan banyak simpati dari masarakat seluruh Indonesia. Badan Meteorologi Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan bahwa hingga Sabtu (11/8/2018) total terdapat 521 gempa susulan yang terjadi di Nusa Tenggara Barat.

 Dengan kejadian yang menimpa Lombok, Nusa Tenggara Barat ini, masyarakat ramai melempar tanya, apa maksud dari musibah yang Allah SWT. timpakan pada saudara-saudara kita di Lombok.

Terdapat beberapa kejadian serupa musibah yang terjadi di Lombok, Nusa Tenggara Barat dengan musibah gempa bumi juga pernah terjadi di masa Rasulullah SAW. dan juga para sahabat, diantaranya:

Gempa di mata Rasulullah SAW.


Pada zaman Rasulullah SAW. pernah terjadi gempa bumi manakala Rasul dan sahabat sedang berpijak tepat diatasnya. Analisa pertama tentang gempa menurut Islam adalah bahwa keberadaan orang-orang soleh di sebuah masyarakat membuat bumi tidak layak bergoncang. Jika orang-orang soleh masih banyak yang hidup diatas bumi, maka bumi tidak layak gempa. Sebaliknya, gempa terjadi manakala bumi telah sepi dari keberadaan orang-orang dengan keimanan tanpa ada kabut keraguan dan orang yang meninggal fii sabilillah.

Setelah Rasulullah menenangkan guncangan, beliau berkata kepada para sahabat, “Sesungguhnya Tuhan kalian sedang menegur kalian, maka ambillah pelajaran!”

 Gempa di mata Umar bin Khattab RA.


Gempa juga pernah terjadi di masa kekhalifahan Umar bin Khattab. Pada saat itu Umar segera menempelkan tangannya ke tanah dan berkata kepada bumi “Ada apa denganmu?” begitulah pertanyaan pemimpin tertinggi negeri muslim itu kepada masyarakat pasca gempa.

“Wahai masyarakat, tidaklah gempa ini terjadi kecuali karena ada sesuatu yang kalian lakukan. Alangkah cepatnya kalian melakukan dosa. Demi jiwaku yang ada ditangan-Nya, jika terjadi gempa susulan, aku tidak akan mau tinggal bersama kalian selamanya”.

Dari kejadian-kejadian serupa tersebut, kita dapat mengambil point penting bahwa, faktor utama penyebab musibah yang menimpa manusia adalah dosa dan kemaksiatan mereka. Ini merupakan perkara yang pasti dalam syari’at yang suci ini. Sebagaimana firman Allah .Azza wa Jalla:

ماَ أَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللَّهِ وَمَا أَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَفْسِكَ

“Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu maka dari (kesalahan) dirimu sendiri” (QS. An-Nisaa:79)

Imam Qatadah rahimahullah mengatakan,

“sebagai hukuman bagimu wahai anak adam. Disebabkan karena dosamu” (terdapat dalam tafsir ibnu katsir)

Semoga dengan kejadian yang menimpa saudara-sudara kita ini dapat memberikan contoh nyata, bahwa apa saja yang kita perbuat di bumi Allah ini masing-masing mendapatkan balasan terbaik dari sisi Allah. Sesungguhnya kerusakan yang terdapat di bumi adalah disebabkan oleh tanga-tangan manusia sendiri. Wallahu a’lam bishawwab



(Fathimah Az-Zahro)

0 komentar