MENGENAL AL-QUR’AN SEBAGAI PEDOMAN HIDUP

Sayyid Quthb di dalam mukoddimah Fii Dzilalil Qur’an mengungkapkan, “Hidup dibawah naungan Al-Qur’an merupakan suatu kenikmatan. Kenikmatan yang tiada dapat dirasakan, kecuali oleh mereka yang benar benar merasakannya. Itu suatu kenikmatan yang mencakup jiwa, memberikan keberkahan, dan menyucikannya...Alhamdulillah....Allah SWT telah memberikan kenikmatan itu kepada diriku untuk hidup dibawah naungan Al-Qur’an beberapa saat dalam putaran zaman. Disitu aku dapat merasakan kenikmatan yang benar benar belum pernah aku rasakan sebelumnya sama sekali dalam hidupku”.



“Jika sekiranya Kami menurunkan Al-Qur’an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah karena takut kepada Allah. Perumpamaan-perumpaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berpikir.” (Al-Hasyr [59]: 21)

Cukuplah menjadi bukti keindahan bahasa Al-Qur’an ungkapan Sayyid Qutb dan apa yang telah Allah jelaskan dalam Al-Qur’an surat Al-Hasyr tersebut. Menurut istilah definisi Al-Qur’an adalah “Al-Qur’an adalah Kalamullah yang merupakan mukjizat yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW yang disampaikan kepada kita secara mutawattir dan membacanya sebagai ibadah”.

Dari definisi tersebut dapat diambil 4 aspek yang merupakan definisi dari Al-Qur’an, yakni :

1. Kalam Allah
Al-Qur’an merupakan firman/perkataan Allah yang disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW melalui malaikat Jibril AS.

2. Mukjizat
Kemukjizatan Al-Qur’an sudah terbukti sejak zaman Rasulullah SAW dan hingga akhir zaman kelak. Salah satu bukti kemukjizatan Al-Qur’an yaitu, sejak diturunkan AlQur’an senantiasa menawarkan tantangan kepada manusia untuk membuat “Al-Qur’an Tandingan” jika mereka memiliki keraguan bahwa Al-Qur’an Kalamullah. Firman Allah SWT, “Katakanlah, ‘Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa dengan Al-Qur’an, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengannya sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain.” (Al-Isra’ [17]: 88)

3. Diturunkan kepada Muhammad SAW
Bahwa sesungguhnya Allah SWT benar – benar menurunkan Al-Qur’an ini langsung kepada Nabi Muhammad SAW melalui malaikat Jibril AS.

4. Diriwayatkan secara Mutawattir
Mutawattir adalah riwayat yang disampaikan oleh tiga orang atau lebih yang memiliki kualifikasi terbaik sebagai orang – orang yang adil (kredibilitas moral), sempurna hafalannya (kapabilitas), dan tidak mungkin sepakat berbohong. Seluruh ayat – ayat Al-Qur’an sampai kepada kita dengan derajat periwayatan yang demikian.

5. Membacanya bernilai Ibadah
Dalam setiap huruf Al-Qur’an yang kita baca ada nilai ibadah yang tiada ternilai besarnya. Itulah keistimewaan Al-Qur’an yang tidak dimiliki apapun yang ada di muka bumi ini.

“Siapa saja yang membaca satu huruf Kitabullah (Al-Qur’an), ia akan mendapatkan satu kebaikan. Satu kebaikan itu senilai dengan sepuluh kali lipatnya. Aku tidak mengatakan Alif Lam Mim sebagai satu huruf. Alif satu huruf, Lam satu huruf, dan Mim satu huruf.” (HR Imam At-Turmudzi)

Definisi tersebut sudah menjelaskan bahwa Al-Qur’an merupakan pedoman hidup yang ideal bagi seluruh manusia.

Kembalikanlah semua persoalan dalam segala aspek kehidupan kita kepada Al-Qur’an. Mengapa? Karna diantara fungsi Al-Qur’an tidak hanya untuk dibaca melainkan juga sebagai petunjuk (Al-Huda). Semua nabi yang di utus pada masanya pasti dibekali dengan Petunjuk (Al-Huda). Karna pada dasarnya ketika kita hanya membaca dan tidak memahami isinya sebagai petunjuk, maka tidak akan banyak manfaat yang akan kita dapatkan.

Allah berfirman dalam Q.S Al-Baqoroh [2]: 185, “Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang didalamnya diturunkan Al-Qur’an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang bathil). Karena itu, barang siapa diantara kamu ada di bulan itu, maka berpuasalah. Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (dia tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya) sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur.”

Di dalam ayat tersebut sudah jelas dikatakan bahwa, jika kita sudah mengamalkan seluruh isi / kandungan Al-Qur’an, memahami petunjuk – petunjuk kehidupan yang tertuang di dalamnya, maka Allah berkata “...Yuriidullahu bikumul Yusro, Walaa Yuriidu bikumul ‘Usr...” yang bermakna bahwa Allah akan menghendaki kemudahan bagi hamba-Nya dan tidak menghendaki kesukaran / kesulitan bagi hamba-Nya.

Source : Tim Penyusun Modul. 2009. Modul Tarbiyah Islamiyah. Jakarta. Lembaga Kajian Manhaj Tarbiyah (LKMT)

Artikel Oleh :  Fithri Lathifah STEI SEBI, Depok

0 komentar