Mengobati Kekesalan, Kekecewaan dan Putus Asa

“Ketika urusanmu dengan Tuhan perlahan kau  selesaikan, maka urusanmu dengan sesama manusia, perlahan akan diselesaikan oleh-Nya”
Mengobati Kekesalan, Kekecewaan dan Putus Asa

Bill Gates adalah orang yang bertahun-tahun mendapat predikat sebagai orang terkaya di dunia. Suatu hari, Bill Gates menceritakan semua permasalahan yang selama ini dirasa membelitnya kepada Sang guru. Setelah dia Bill Gates merasa semua persoalan hidup yang membelitnya sudah dikeluarkan semua, ia pun meminta Sang guru untuk memberinya nasihat agar seluruh masalahnya bisa terselesaikan. Sang guru tidak menjawab pertanyaan Bill Gates dengan kalimat-kalimat nasihat, melainkan Sang guru mengajaknya ke suatu daerah yang dimana daerah tersebut tidak ada satu pun oanng yang menghadapi masalah hidup di dunia ini. Daerahnya tenang sekali dan Sang guru berharap Bill Gates bisa belajar banyak di daerah tersebut.

Bill Gates tentu saja sangat antusias menyambut ajakan Sang guru. Dalam perjalanan, ia pun terus berpikir tentang apa rahasia dari orang-orang di daerah itu sehingga bisa bebas dari persoalan hidup di dunia. Setelah menempuh perjalanan hampir 1 jam, mereka pun berhenti di suatu tempat. Bill Gates semakin penasaran, ”Mengapa kita berhenti di sini, guru?” Sang guru lantas menjawab, “Inilah tempat yang aku maksud. Tempat yang tidak ada seorang pun merasakan permasalahan dunia. Suatu saat nanti pasti kau akan merasakan tempat seperti ini.” Ya, tempat yang dimaksud Sang guru adalah MAKAM.

Dari kisah fiktif diatas, dapat kita simpulkan bahwa tidak ada satu pun mahkluk di dunia ini yang tidak menghadapi masalah dalam hidupnya. Semua manusia punya persoalannya sendiri-sendiri. Namun, persoalannya adalah banyak dari kita yang lantas mencari jalan salah dalam menyelesaikan persoalan hidup yang dihadapi. Kita mencari jalan keluar ke tempat yang tidak tepat. Akhirnya masalah yang sebenarnya sederhana menjaddi begitu rumit karena cara kita yang salah dalam mengurai masalah.

Ada satu penyakit ganas yang sangat dikhawatirkan oleh Rasulullah saw. akan menyerang diri seorang mukmin yaitu wahn. Ada banyak sebab mengapa manusia bisa terjangkit penyakit wahn, salah satunya adalah terlalu ambisiusnya diri dalam menggapai kelimpahan materi tanpa mengimbangi  dengan guyuran mata air iman didalam dada. Akibatnya, hatimanusia menjadi gersang. Ia mudah disusupi kegelisahan serta sukar untuk hidup tenang. Karena dalam menghadapi berbagai masalah dan tantangan yang menimpanya, ia tidak memiliki pegangan yang kuat dalam hidup.

Tombo Ati mengajarkan kita untuk mengobati hati dengan cara mendekatkan diri kepada Sang Pemilik hati. Banyak dari kita yang sudah sangat familiar dengan syair Tombo Ati, tetapi masih sulit untuk menenangkan hati. Mudah dihinggapi stres, sakit hati, dendam, dan beragam penyakit hati lainnya. Padahal 5 pesan yang terkandung dalam syair Tombo Ati merupakan jawaban yang selama ini dicari-cari oleh setiap orang yang mendambakan ketentraman jiwa. Tombo Ati ada 5 perkaranya, yaitu :

Pertama, Baca Al-Qur’an dan maknanya. Inilah kitab yang patut dibaca dalam suasana jiwa apapun. Ketika gundah, bacalah Al-Qur’an kemudian renungi maknanya. Sungguh, setiap ayatnya akan menghibur, menyemangati dan membuat hidup kita kedepan lebih optimis. Yakinlah Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Mendekatlah kepadaNya ketika mempunyai masalah, karena Dia-lah Dzat yang paling mampu menyelesaikan masalah kita dan tahu pintu penyelesaian problema hidup kita.

Kedua, Dirikanlah shalat. Ketika beban hidup terasa berat dan kesusahan, ketika masalah sedang memupuk, Allah menawarkan sebuah solusi yang sangat manjur yaitu shalat. Jadikan shalat sebagai penolongmu. Karena shalat adalah media kita untuk berkomunikasi dengan Allah. Shalat khusyu merupakan penawar yang dapat menyembuhkan hati dan ketegangan, serta kelemahannya. Jiwa menjadi tenang setelah dicekam kekhawatiran, dengar berdzikir hati menjadi sejuk, jiwa menjadi stabil dan membangkitkan ketenangan bagi orang yang beriman.

Ketiga, Berkumpulah dengan orang shaleh. Berhati-hatilah dalam mengakrabkan diri dengan seseorang, karena tidak semua orang baik untuk dijadikan sahabat. Betapa bahagianya apabila kita diberi rezeki oleh Allah berupa sahabat yang shaleh. Sahabat yang selalu menasihati kita untuk tetap istiqamah dijalan kebaikan, menguatkan tatkala kita suntuk, mengingatkan kita kepada kebenaran sehingga kita selamat dari api neraka. Itulah sahabat dunia dan akhirat kita.

Keempat, Perbanyaklah berpuasa. Dari segi kesehatan, puasa ternyata memenuhi 4 standar kesehatan yang ditetapakan oleh World Health Organization (WHO). Dari segi fisik, puasa memiliki manfaat yang menakjubkan. Dari segi psikis, puasa mengajarkan kita untuk lebih cerdas mengontrol emosi. Dari segi sosial, dengan puasa kita diajari oleh Allah untuk berempati kepada sesama, merasakan orang-orang diluar sana yang belum bisa menikmati makan secara teratur. Dari segi spiritual, kita semakin yakin akan kebesarann Allah. Dibalik syariatnya selalu tersimpan rahasia-rahasia dahsyat yang tak pernah ada habisnya untuk digali.

Kelima, Dzikir malam perpanjanglah. Rasulullah SAW. bersabda, “Hati adalah alat untuk mengingat Allah. Ada hati yang lebih kuat mengingat dari hati yang lain. Maka, apabila kamu meminta sesuatu kepada Allah, maka mintalah dengan penuh keyakinan akan diperkenankannya, sebab Allah tidak akan memperkenankan permintaan orang yang hatinya lalai.” Allah tetap Maha Besar tanpa kita besarkan. Allah tetap Agung tanpa harus kita agungkan. Allah tetap Mahasuci tanpa kita sucikan. Semua ungkapan itu pada hakikatnya hanya sebuah pengakuan dari pribadi lemah seperti kita. Manusi dengan segala keterbatasannya hanya bisa mengungkapkan segala rasa tunduk dengan memuji dan mengingat Dzat-Nya.

Tombo Ati terbukti memberikan sebuah solusi yang bijak untuk mengatasi berbagai penyakit hati. Dengan mengamalkan 5 petuah tombo ati, insyaAllah kita akan memperoleh hati yang damai sepanjang waktu. Hati kita akan dilindungi oleh Allah dari kotoran-kotoran yang dapat merusak hati. Semoga dengan mengamalkan Tombo Ati, Allah akan menganugerahkan kita jiwa yang tenang, hati yang damai, hati yang bahagia, hingga menginjakkan kaki kita di pelataran surga. Aamiin..
”Wahai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jemaah hamba-hambaKu. Masuklah ke dalam surga-Ku.” (Qs. Al-Fajr : 27-30)

Oleh: Asri Yasirotunnabilah, Mahasiswa STEI SEBI - Manajemen Bisnis Syariah 2017
Sumber: Ahmad Rifa’i Rif’an. 2015. Me + God = Enough, Jakarta: PT. Elex Media Komputindo

0 komentar