Mujahidah yang Melindungi Nabi Muhammad SAW pada Perang Uhud

Ummu Umarah Nusaibah binti Ka’ab bin Amr bin ‘Auf bin Mabdzul ikut andil dalam peristawa bai’at Aqabah, perang Uhud, perjanjian Hudaibiyah, perang Hunain dan perang Yamamah. Dia adalah sosok mujahidah yang tangguh di medan perang, hingga tangannya terputus saat berperang. Selain itu, ia juga turut andil dalam meriwayatkan hadits Nabawi.



Ummu Umarah merupakan istri Zaid bin ‘Ashim Al-Mazini An-Najjari. Ia dikarunia dua anak; Abdullah dan Hubaib. Keduanya merupakan sahabat Nabi. Setelah suami pertamanya meninggal, ia menikah dengan Ghaziyyah bin ‘Amr Al-Mazini An-Najjari. Darinya dikarunia anak bersama Khaulah. Garis keturunan dan keluarganya memiliki peran besar dalam perkembangan Islam.

Sungguh kita sedang mengisahkan seorang wanita mulia, yang tidak cukup tinta-tinta ini menorehkan kemuliaan demi kemuliannya. Dan sungguh, Allah telah memberikan baginya banyak kemuliaan dan kehormatan. Kaum Quraisy belum merasa ketika meraka harus  memikul kekalahan pada perang Badar. Sesungguhnya kekalahan telah menyalakan kobaran dendam. Setelah berlalu satu tahun, berkumpullah kaum musyrikin di kota Mekah dan setiap orang yang ingin balas dendam terhadap Islam dan pengikutnya ikut bergabung bersama mereka.    Sehingga berangkat sebuah pasukan yang jumlah mereka 3000 orang lebih, ketika itu Abu Sufyan komandon mereka mengikut sertakan kaum wanita bersamanya, supaya kaum pria berjuang mati-matian; menjaga kehormatan istri-istri mereka.

Berlangsung peperangan dan pertumpahan darah, dan kemenenganlah bagi prajurit Allah yang mengesakan-Nya, sehingga kaum Muslimin mulai mengumpulkan harta rampasan. Ketika itu pasukan pemanah meninggalkan posisi merka dan turun ke medan pertempuran. Kemudian prajurit kaum musyrikin mencari-cari Nabi guna membunuhnya. Seketika itu berkumpullah beberapa sahabat untuk melindungi Rasulullah dan di antara mereka yang paling terdepan adalah Ummu Umarah bin Ghaziyyah, ia berkata, “Ummu Umarah berkata, ‘Aku melihat banyak di antara kaum Muslimin yang lari kocar-kacir dan meninggalkan Rasulullah. Hingga tinggal tersisa beberapa orang yang melindungi beliau. Aku dan anakku berusaha mrenjaga beliau, sedangkan suamiku berada didepan beliau untuk melindunginya.

Rasulullah melihat aku tidak bersenjata. Saat melihat seorang tentara Muslim yang mundur, Rasulullah pun bersabda, “Berikan senjatamu kepada orang yang sedang berperang”  Ummu Umarah pun lalu mengambil pedang dan perisai yang dilemparkan tentara yang lari tersebut dan segera melindungi Nabi dari gempuran musuh. Berikutnya, mulailah pasukan berkuda menyerang kami. Selama mereka sama seperti kita, maka kita pun dapat mengalahkan mereka, tentunya dengan kehendak dari Allah.

Datanglah seorang musuh berkuda sembari menyabetkan pedang ke arahku, lalu aku tahan dengan perisai tersebut. Dengan begitu ia tidak dapat melukaiku. Ketika itu aku pukulkan pedang pada tumit belakang kudanya, musuhpun terhempas, lalu Nabi berteriak “Wahai putra Ummu Umarah. Ibumu, Ibumu”  Ia berkata “ Maka ia membantyuku sehingga aku selamat dari kematian”.

Dari Abdullah bin Zaid, ia berkata “Aku terluka pada perang Uhud, ketika itu darah terus mengalir, lalu Nabi bersabda, ‘Balutlah lukamu itu’.  Lalu ibuku menemuiku sembari membawa kain ikat pinggang untuk membalut lukaku, katika itu Nabi berdiri di dekatku lalu bersabda, “ Bangunlah wahai anakku, lawanlah musuh!”  Lalu beliau berkata, “Siapa yang hendak engkau lawan wahai Ummu Umarah”  Lalu datanglah prajurit yang memukul putraku, maka Rasulullah bersabda “Itulah orang yang memukul putramu”  Ummu Umarah berkata  “Aku pun menghadangnya dan aku pukul betisnya dan ia pun terjatuh”.

Aku melihat Rasulullah tersenyum sampai-sampai terlihat gigi gerahamnya, sembari bersabda “Selamat wahai Ummu Umarah!” Kemudian kami memukulnya kembali dengan senjata, hingga kami mendatangi beliau, lalu Nabi bersabda, “ Segala puji hanya milik Allah yang telah memenagkan

Sumber : Biografi 35 Shahabiyah Nabi, Syaikh Mahmud Al-Mishri
Artikel Oleh : Oleh: Sajidah Istiqomah

0 komentar