Efektifitas Filantropi Islam Dalam Meningkatkan Kualitas SDM dan Kesejahteraan Masyarakat

Dalam sistem demokrasi, masyarakat merupakan perangkat tertinggi pada struktur suatu negara. Dimana demokrasi mengizinkan warga negara untuk berpartisipasi dalam menyampaikan pendapatnya, baik secara langsung atau melalui perwakilan, dan akan menjadi acuan dalam pembuatan hukum. Indonesia sendiri merupakan salah satu penganut sistem demokrasi pancasila, dimana demokrasi yang diterapkan di Indonesia berlandaskan pancasila.

Efektifitas Filantropi Islam Dalam Meningkatkan Kualitas SDM  dan Kesejahteraan Masyarakat

Dalam sila kelima yaitu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, merupakan tujuan dari penerapan sistem demokrasi itu sendiri. Dan tujuan ini berkaitan erat dengan sila keempat, yaitu kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan. Dimana untuk mencapai sila kelima perlu adanya struktur lanjutan dari suatu negara yaitu pemerintah, yang akan membantu percepatan pencapaian kesejahteraan masyarakat. Namun seiring berjalannya waktu, masyarakat merasakan lambatnya kinerja dan program-program pemerintah untuk mencapai hal  tersebut. Maka Kondisi seperti itu akhirnya memicu tumbuhnya organisasi-organisasi independen sebagai respon kolektif masyarakat. Salah satunya yaitu adanya lembaga filantropi yang secara tidak langsung membantu pemerintah dalam mempercepat peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Filantropi secara etimologi berasal dari kata philanthropy, yang terdiri dari dua kata, yaitu philos yang berarti cinta dan anthropos yang berarti manusia. Selain itu, filantropi dapat diartikan kedermawanan, kemurahatian atau sumbangan sosial. Filantropi secara harfiah dapat juga didefinisikan sebagai konseptualisasi dari praktik memberi, pelayanan dan asosiasi dengan sukarela untuk membantu pihak lain yang membutuhkan sebagai ekspresi rasa cinta. Secara terminologi, filantropi berarti sesuatu yang menunjukkan cinta kepada manusia.

Dalam Islam keadilan sosial adalah hal paling mendasar yang dijadikan acuan dalam kehidupan bermasyarakat. Jadi secara implisit dapat dilihat bahwa islam mempunyai nilai-nilai filantropi dalam ajarannya. Islam sendiri secara terperinci sudah mengatur tentang hal ini, seperti dalam penerapan zakat, infaq, sedekah dan wakaf. Zakat merupakan harta yang diberikan oleh muzakki kepada mustahik yang sifatnya konsumtif atau langsung dirasakan manfaat harta tersebut oleh para mustahik. Infaq adalah sumbangan sukarela berupa materi yang bisa dikelola penggunaannya untuk kebutuhan umum masyarakat, seperi untuk pembangunan masjid, penunjang pendidikan, dan lain sebagainya. Sedekah adalah sumbangsih sukarela baik berupa materi atau jasa. Sedangkan wakaf adalah perbuatan hukum seseorang, kelompok atau badan hukum yang meyerahkan sebagian dari benda miliknya dan melembagakannya untuk selama-lamanya atau jangka waktu tertentu, guna kepentingan ibadah atau keperluan umum lainnya sesuai dengan ajaran islam. Wakaf sangat bagus untuk diberdayakan, yang mana dalam jenisnya disebut wakaf produktif.

Wakaf produktif adalah harta benda atau pokok tetap yang diwakafkan untuk dipergunakan dalam kegiatan produksi dan hasilnya disalurkan sesuai dengan tujuan wakaf. Seperti harta yang digunakan untuk kepentingan produksi baik dibidang pertanian, perindustrian, perdagangan dan jasa, yang manfaatnya bukan pada benda wakaf secara langsung, tetapi diberikan kepada orang-orang yang berhak sesuai dengan tujuan wakaf. jika melihat maksud dari zakat produktif ini, prospek yang dituju adalah kualitas pemberdayaan SDA dan SDM. Dengan ketersediaannya barang wakaf yang harus diolah, maka SDM dituntut untuk mampu dan ahli dibidangnya dalam pengelolaan  tersebut. Dimana lembaga yang menjadi penyalur wakaf berperan aktif dalam pembinaan sumber daya manusia.

Secara tidak langsung, peningkatan kualitas SDM akan berpengaruh pada tingkat kesejahteraan masyarakat. Tapi yang menunjang hal tersebut sebenarnya adalah zakat, karena zakat itu sifatnya konsumtif dan harus langsung disalurkan kepada pihak mustahik, sehingga mereka mampu untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan dalam jangka waktu pendek, sedangkan untuk jangka waktu panjang, perlu adanya pemberdayaan wakaf, atau wakaf produktif. Dua hal inilah yang menjadi penunjang efektifnya kontribusi filantropi Islam dalam meningkatkan kualitas SDM dan kesejahteraan masyarakat.

Article by : Fatimah Azzahrah, STEI SEBI

Post a Comment

0 Comments