Gulaku Pahit, Petaniku Malang

Gula merupakan bahan kebutuhan  pokok yang  penting bagi kehidupan masyarakat.setiap orang pasti membutuhkan gula dalam kehidupan sehari hari. Rasanya yang manis menambah cita rasa pada setiap makanan dan minuman yang kita konsumsi . industri gula sekarang ini sedang hangat diperbincangkan semenjak kejadian penyegelan gula produksi petani tebu di Cirebon oleh kementerian perdagangan ( kemendag ) mendapatkan protes dari para petani tebu seluruh Indonesia.

Gulaku Pahit, Petaniku Malang

Terdapat kejanggalan dalam proses penyegelan tersebut ,gula seharusnya di cek terlebih dahulu apakah telah sesuai  dengan standar atau belum .jika memang tidak sesuai ,barulah pabrik dapat di segel. Namun praktik yang terjadi di lapangan ,tiba tiba pabrik disegel begitu saja tanpa dilakukan pengecekan terlebih dahulu . Setidaknya ada sekitar 18 pabrik gula yang di segel pemerintah diantaranya adalah adalah 4 pabrik gula milik PTPN X ,5 pabrik gula milik PTPN X, 4 pabrik gula milik PTPN XII dan 5 pabrik gula milik Rajawali Nusantara Indonesia ( RNI).

Kejadian tersebut memicu respon  para petani tebu untuk menyuarakan aspirasinya  pada Senin,28 Agustus 2017 kemarin di depan istana Negara .para petani yang menanamkan diri dari andalan petani tebu rakyat Indonesia  ( APTRI ) ini menggelar aksi dengan longmarch ,lalu orasi dan tebar gula dijalanan sebagai bentuk protes atas kebijakan pemerintah yang tidak pro pada petani tebu.

Dari rilis pernyataan sikap yang kami terima ada kurang lebih 13 tuntutan yang disampaikan APTRI pada aksi tersebut. Tuntutan terkait kebijakan impor pemerintah, untuk impor sesuai kebutuhan saja .karena pada tahun 2016 disaat kebutuhan gula Indonesia mencapai 2,7 juta ton sedangkan produksi lokal hanya mencapai 2,3 juta ton . Terdapat  kekurangan 400.000 ton, sehingga pemerintah mengambil langkah impor sabnayak 1.6 juta ton, tentu ada kelebihan 1.2 juta ton yang mengakibatkan pada tahun 2017 gula produksi lokal tidak laku karena pasar dibanjiri produk impor.

Selain itu, para petani juga menuntut kebijakan harga pembelian oleh Bulog menjadi 11.000/Kg dari 9.700/Kg karena terlalu jauh dari HET yang di tentukan sebesar 12.500/Kg sehingga margin distribusi terlalu besar. Harga acuan gula tani juga masih sangat rendah Rp.9.100/Kg dibawah biaya pokok produksi BPP. Sementara BPP gula tani sebesar  Rp.10.600/Kg , maka akibat dari remendemen rendah , produktifitas  juga rendah , dan biaya garap yang naik, para petani menuntut untuk menaikan HPP menjadi 11.000/Kg.

Kemudian, remendemen yang sangat rendah yaitu rata rata 6,5%- 7,5% dengan produksi rata rata 60 – 70 ton / ha . Disebabkan karena mesin pabrik yang sudah tua . Hal ini menunjukkan bahwasanya kinerja dari BUMN tidak profesional . Bahkan dulu pabrik dari BUMN sering menggembor gemborkan akan adanya revitalisasi mesin pabrik,tetapi   kenyataannya sampai sekarangpun masih belum ada perubahan , padahal ketika petani tebu menggiling di pabrik swasta ,bisa mendapatkan atau mencapai randemen yang tinggi . Sehingga para petani telah kehilangan pendapatannya . Dan petani menuntut kompensasi jaminan rendemennya minimal sebesar 8,5% . Ketika ditahun 2016 Mentri dari BUMN telah berjanji akan memberikan jaminan rendemen terhadap petani sebesar 8,5% sebagai kompensasi impor raw sugar 381.000 ton. Tetapi sampai sekarang pun janji itu tidak ditepati ,maka para petani menuntut untuk kompensasi segera di realisasikan.
            
Para petani menuntut persyaratan kredit KUR yang mana alokasi dari kredit KUR tiap petani adalah 5 hektar , karena hal ini jelas memberatkan pihak petani yang mana petani tebu hanya bisa panen satu kali dalam setahun . Selain itu ada pupuk bersubsidi yang mana disamakan dalam luasan lahan yaitu seluas 5 hektar karena saat ini pemberian pupuk subsidi  dan kredit KUR tidak sama dalam luasan lahan sehingga tidak sinkron. Maka petani juga menuntut agar pupuk bersubsidi dikembalikan pada aturan yang lama karena lebih simpel dan tidak memberatkan petani.

Kemudian,para petani setuju terkait rencana pendirian pabrik gula baru berbasis tebu yang memproduksi gula putih , tetapi dengan syarat tidak menghilangkan raw sugar impor serta dibarengi pembangunan / perluasan lahan.

Article by : Seltika, STEI SEBI

Post a Comment

0 Comments