Harta Kita, Aset atau Liabilitas? (Di Akhirat)

Allah Ar-Razzaq, Sang Pemberi Rezeki memberikan kepada kita suatu kenikmatan yang tiada habisnya. Termasuk nikmat diberikannya harta. Sebenarnya, harta tidak diberikan-Nya, tetapi dititipkan-Nya kepada kita manusia yang akan mengelola harta tersebut sebagai keperluan untuk mempertahankan kehidupannya serta untuk dinafkahkan kepada yang berhak mendapatkan.

Harta Kita, Aset atau Liabilitas? (Di Akhirat)

"....Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: “Yang lebih dari keperluan”. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir." (Al-Baqarah: 219)

Ketika Rasulullah SAW mendapatkan pertanyaan dari sahabatnya tentang apa yang harus dinafkahkan, Allah menurunkan wahyu kepada Rasul-Nya untuk menjawab pertanyaan tersebut dengan jawaban Al-Afwa seluruhnya (yang lebih dan keperluan) Al-Baqarah ayat 219. Kemudian di ayat-ayat lain Allah mengancam orang-orang yang tidak menafkahkan hartanya di jalan Allah.

Dengan perintah menafkahkan harta di jalan Allah beserta ancamannya apabila tidak melakukan yang demikian, tidak juga berarti juga kita boleh menelantarkan diri, keluarga dan ahli waris kita. Ada empat penggunaan harta yang dibatasi seperlunya, yaitu :

1. Untuk diri sendiri. Rasulullah SAW bersabda “Sungguh jasadmu punya hak atas kamu, matamu punya hak atas kamu, istrimu punya hak atas kamu, dan tamumu pun punya hak atas kamu.” (HR Bukhari)

2. Untuk keluarga sebagaimana dalam hadist “Mulai sedekahmu pada orang yang menjadi tanggunganmu.” (HR Bukhari)

3. Untuk mengantisipasi kebutuhan darurat sebagaimana pada hadist, “Pegang sebagian hartamu, hal ini dianjurkan untukmu (sebagai cadangan untuk kebutuhan masa depan") (HR Bukhari)

4. Untuk ahli waris sebagaimana ayat, “Hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka” (An-Nisa : 9) dan juga hadist Rasulullah yang berbunyi “Meninggalkan tanggungan (keluargamu) dalam kemakmuran adalah lebih baik daripada meninggalkan mereka dalam kondisi miskin dan bergantung pada belas kasihan orang lain. Setiap pengerluaranmu untuk keluargamu adalah sedekah meskipun hanya sesuap makanan yang engkau suapkan ke mulut istrimu.” (HR Bukhari)

Empat hal tersebut boleh dan bahkan dianjurkan, namun kriteria batasannya adalah seperlunya. Penggunaan harta yang tidak dibatasi dengan kriteria ‘seperlunya’ adalah hanya untuk kebutuhan Fi Sabilillah seperti dalam surat Al-Baqarah 219 tersebut di atas.

Lantas bagaimana kita mengetahui kebutuhan yang seperlunya tersebut? Setiap diri kita dilengkapi ilham oleh Allah SWT sebagaimana ayat, “Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya.” (At-Taubah: 8) Ilham ini juga berlaku untuk mengetahui tingkat ‘keperluan’ harta kita untuk empat hal tersebut di atas. Mata hati kita tahu sebenarnya berapa yang kita butuhkan untuk diri sendiri, keluarga, dan ahli waris.

Hanya saja untuk mengantisipasi kebutuhan keluarga kita, kebutuhan anak kita untuk sekolah 18 tahun yang akan datang menjadi sulit kalau kita menggunakan alat ukur yang tidak adil, tidak memiliki nilai daya beli tetap dalam rentang waktu yang menengah panjang. Untuk rencana pendidikan anak kita sampai selesai sarjana, yang sekarang baru lahir kita butuhkan berapa? Tentu tidak mudah apabila kita gunakan nilai Rupiah ataupun Dollar dalam perhitungannya, karena daya beli nilai uang kertas terus mengalami penurunan dari waktu ke waktu.

Di sinilah perlunya Umat Islam menggunakan uangnya sendiri yang adil sepanjang zaman Rasulullah SAW sampai sekarang yaitu Dinar dan Dirham. Yang tahan terhadap inflasi (Emas) dan dapat diandalkan untuk masa depan.

Dengan menggunakan harta uang atau timbangan yang adil, kita dapat mengalokasikan harta kita secara adil pula untuk empat hal yang dibatasi ‘keperluan’ tersebut di atas dan sisanya kita harus infakkan di jalan Allah atau terus diputar dalam usaha, namun hasilnya memang diniatkan untuk infak di jalan Allah.

Dengan timbangan yang adil berupa Dinar dan Dirham tersebut kita berharap semoga aset kita di dunia tetap menjadi aset di akhirat, karena kita infakkan sesuai haknya. Kita juga berlindung dari aset dunia yang menjadi liability di akhirat. Seperti harta yang tidak dinafkahkan kepada yang berhak.

Post a Comment

0 Comments