Sebuah Ironi Pendidikan Di Negri Ini

Kita tahu bahwa program wajib dua belas tahun adalah salah satu program yang dicanangkan pemerintah untuk rakyatnya, bahkan pemerintah berusaha menghadirkan berbagai bantuan yang menunjang program tersebut, pun program beasiswa lanjutan S1, S2, ataupun S3.

Sebuah Ironi Pendidikan Di Negri Ini

Ini adalah salah satu solusi menaikkan SDM yang menjadi faktor majunya sebuah negara. Namun dewasa ini kita sadari bersama bahwa meski program ini telah digalakkan sejak juni 2015, namun hingga tahun 2019 ini kita justru berhadapan dengan masalah yang sama, yakni tingginya angka pengangguran.

Penulis sendiri merasakan ketika lulus dari sekolah menengah akhir tahun 2017, persaingan tidak dimulai saat kita mencari kerja, tetapi sejak seleksi masuk perguruan tinggi. Penulis pun sempat mencoba mendaftar lowongan ke perusahaan BUMN (PT.PLN, PT.KAI) saat gagal masuk fakultas yang diidamkan, yang kesemuanya membuat penulis tercengang. Ternyata yang menjadi saingan adalah para sarjana fakultas yang diidamkan penulis. Dari sepenggal pengalaman ini, benar-benar membuat fikiran penulis tersadar, pun saya yakin pembaca faham dengan baik meski hanya di gambarkan dalam satu paragraf.


Saya kira selain faktor kebijakan pemerintah yang terkadang tidak masuk akal, seperti sudah menyiapkan SDM dengan berbagai program beasiswa tetapi malah mendatangkan TKA yang jelas-jelas merugikan rakyatnya, ada faktor seperti kurangnya lapangan kerja dan penanaman mindset yang salah dalam sistem pendidikan bahkan pembelajaran di lingkup keluarga. Kalimat seperti ,”cepat besar ya nak, sekolah yang pintar agar kelak bisa dapat kerja”, atau “belajar yang giat, nilai mesti bagus biar bisa dapat kerja” adalah sangat keliru. Dari kecil telah ditanamkan agar kelak bisa cari kerja, jadi karyawan, bukan membuka lapangan pekerjaan.

Pemikiran inilah yang membuat penulis break selama satu tahun dan baru mantap melangkah di tahun berikutnya, yakni dengan memilih jurusan manajemen bisnis syariah fakultas muamalah di STEI SEBI depok, dengan motivasi setelah lulus tidak akan mencari kerja tetapi membuka bisnis yang akan menjadi lapangan kerja bagi banyak orang. Aamiin. 

Article by : Agung Aji Purwasis, STEI SEBI

Post a Comment

0 Comments