Belanja Online? Bagaimana sudat pandang fikihnya

Dalam perkembangan yang sudah modern ini, teknologi semakin hari semakin canggih hingga memudahkan masyarakat dalam melakukan aktifitas, contohnya saja aktifitas transaksi jual beli yang dahulu masyarakat masih menggunakan sistem on the spot antara pembeli dan penjual sekarang beralih menjadi jual beli online. Mudahnya dengan jaringan Internet, jarak tidak lagi menjadi kendala untuk bertransaksi, dan tidak menyita waktu untuk berpergian dan sebagainya. Transaksi seperti inilah yang populer disebut dengan jual-beli online.


Populasi penduduk Indonesia saat ini mencapai 262 juta orang. Lebih dari 50 persen atau sekitar 143 juta orang telah terhubung jaringan internet sepanjang 2017, setidaknya begitu menurut laporan teranyar Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII). Mayoritas pengguna internet sebanyak 72,41 persen masih dari kalangan masyarakat urban. Pemanfaatannya sudah lebih jauh, bukan hanya untuk berkomunikasi tetapi juga membeli barang, memesan transportasi, hingga berbisnis dan berkarya.

Menurut data Google & Temasek pada 2017, pembelian produk via e-Commerce di Indonesia mencapai US$ 10,9 miliar atau sekitar Rp 146,7 triliun, meroket 41 persen dari angka US$ 5,5 miliar atau sekitar Rp 74 triliun pada 2015.
Dilihat dari data tersebut Indonesia termasuk negara yang masyarakatnya cukup banyak dalam menggunakan akses internet yang sekaligus digunakan untuk jual beli secara online, Dan penduduk Indonesia mayoritas agama islam namun tidak sedikit dari masyarakat belum memahami terkait fikih transaksi jual beli secara online.

Dan saat ini munculah pertanyaan bagaimanakah ketentuan fikih dari belanja online yang sekarang masyarakat lakukan. Jual beli online itu dibolehkan dengan ketentuan barang yang dibeli halal dan jelas spesifikasinya, barang memang dibutuhkan (tidak ada unsur tabdzir), ada hak pembeli untuk membatalkan atau melanjutkan (menerima) jika barang diterima tidak sesuai pesanan, serta sesuai dengan skema jual beli. Kesimpulan ini berdasarkan telaah terhadap standar syariah Internasional AAOIFI, fatwa DSN MUI terkait dengan jual beli dan ijarah, serta kaidah-kaidah fikih muamalah terkait.

Tentunya dalam bertransaksi ataupun jual beli online saat ini terdapat 4 rambu-rambu ataupun acuan untuk kita transaksi online sesuai dengan fikih islam. Pertama, barang apa yang akan kita beli? Disini kita bisa membagi menjadi 4 kriteria barang yang akan kita beli :

1. Barang/jasa yang kita beli halal hukumnya sesuai dengan syariat islam
2. Barang/jasa yang diprioritaskan untuk dimiliki. Tidak membeli yang tidak dibutuhkan atau tersier agar tidak mengakibatkan pemubaziran yang dilarang. Sesuai firman Allah Swt; "Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan..." (QS Al-Isra' : 27).
3. Barang yang dibeli harus jelas kriteria dan spesifikasinya seperti gambar, harga dan ukurannya seperti proses yang terjadi di lapak online karena tidak berwujud atau tidak terlihat saat transaksi pembelian agar terhindar dari ketidakjelasan atau gharar.
4. Pembeli diberikan hak (khiyar) untuk membatalkan jual beli atau menerima dengan kerelaan apabila barang yang diterima tidak sesuai dengan pesanan.

Kedua, bagaimana cara membelinya? Transaksi jual beli antara penjual dan pembeli, baik jual beli tunai maupun tidak tunai (barang diserahkan secara tunai, sedangkan harga diterima oleh penjual secara tidak tunai) itu dibolehkan. Hal ini berdasarkan hasil keputusan Majma’ Al-Fiqh Al-Islami (Divisi Fikih Organisasi Kerja sama Islam/OKI) No. 51 (2/6) 1990 yang membolehkan jual beli tidak tunai dan Fatwa DSN MUI No.04/DSN-MUI/IV/2000 tentang Murabahah.

Ketiga, diprioritaskan berbelanja pada tempat berbelanja/lapak yang bisa memberikan kontribusi terhadap penguatan ekonomi masyarakat dan tidak melanggar peraturan perundang-undangan.

Keempat, berbelanja diniatkan beribadah kepada Allah Swt. Sehingga, setiap berbelanja itu untuk keperluan ibadah kepada Allah Swt, seperti membeli mainan untuk anak-anak maka dipilih mainan yang kira-kira mendidik anak. Bukan sekedar bermain, apalagi merusak pendidikan anak-anak.

Itulah 4 fikih terkait transaksi jual beli online menurut syariat islam, dan ketentuan diatas merujuk pada pendapat ulama ahli fikih yang membolehkan jual beli yang dimana penjual dan pembeli bertransaksi dengan berbeda tempat juga bisa disebut secara online. Juga keputusan standar internasional AAOIFI yang memperkenankan ijab kabul dan serah terima melalui online apabila tradisi pasar dan otoritas mengakui hal tersebut. Semoga Allah senantiasa memudahkan kita semua.

Post a Comment

0 Comments