Hijrah Setengah Matang

Wahai orng-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahanbakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perinthkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan ” (QS. At-Tahrim: 6)


Begitu cintanya Allah pada makhluqnya, sebab itu Ia beri rambu-rambu selalu pada setiap aktivitas kita, guna menghindarkan kita dari segala bentuk kemadharatan. Hakikat manusia di muka bumi hanyalah beribadah kepada Allah, mencari bekal sebanyak-banyaknya demi mempersiapkan hidup yang sesungguhnya, yakni mati dengan keridhaan di sisi Allah.

Dia (Allah) berfirman, Berapa tahun-kah lamanya kamu tinggak di bumi?”(23:112)

Mereka menjawab, Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari, maka tanyakanlah kepada mereka yang menghitung.”(23:113)

Dia (Allah) menjwab, Kamu tinggal di bumi hanya sebentar saja, jika kamu benar-benar mengetahui”(23:114)

Maka apakah kamu mengira bahwa Kami menciptakan kamu main-main (tanpa maksud) dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada kami?”(23:115)

Sebagai seorang yang hanya sedang bersinggah di bumi, kita seharusnya paham bahwa tidak ada cara selain membawa diri ini menjadi lebih baik. Sebab persinggahan ini tidaklah lama. Terkhusus pada kaum wanita, kelak akan tiba pada masing-masing masanya, kita akan menjadi pembentuk sebuah generasi. Maka bangunlah generasi dengan mempersiapkan bekal yang cukup, yang juga akan membawa merka ke tempat kembali yangAllah ridhai.

Derajat Perempuan

Hijrah adalah wujud syukur kita kepada Allah sebagai perempuan. Pada zaman jahiliyah dulu, anak perempuan yang lahir memiliki 2 pilihan yang tidak sama-sama mengenakan bagi kehidupannya. Yang pertama, ia akan dikubur secara hidup-hidup. Pilihan kedua adalah dibesarkan hingga usia 6 tahun kemudian dibunuh dengan tega. Dahulu anak perempuan adalah aib bagi keluarganya.

Ingatlah pada kisah Qais yang membunuh 8 anak perempuannya, kemudian saat hijrah ia membayar dosa tersebut dengan memerdekakan 8 budak. Juga pada kisah Kabirah yang membunuh 4 anak perempuannya, kemudian ia bayar kesalahannya pada masa jahiliyah dengan memerdekakan 4 budak wanita. Pemikiran jahiliyah mereka adalah ketika mereka sudah susah payah membesarkan anak perempuan mereka, namun ketika anak-anak perempuan itu tiba pada masa balighnya, mereka harus menjadi budak bagi orang lain. Perempuan bahkan tidak dihitung sebagai penduduk di kotanya sebab mereka digolongkan sebagai iblis. Hingga tiba pada zaman cahaya Islam hadir menjadi penerang pada kejahiliyahan di masanya, 

Wahai orang-orang yang beriman! Tidak halal bagimu mewarisi perempuan dengan jalan paksa...” (4:19)

Wanita tidak lagi dipandang hina di mata manusia lainnya. Maka bersyukurlah kaum wanita sekalian karena telah Allah muliakan derajatmu dalam Islam.

Konsep Hijrah

Tertulis pada hadits arba’in ke-satu tentang niat. Bahwa apabila sebuah niat ditujukan hanya demi Allah dan Rasul-Nya, maka niat tersebut akan sampai pada apa yang Allah dan Rasul ridhai. Namun jika niat berlandaskan pada hal yang bersifat duniawi, maka mungkinkita dapati tapi tanpa disertai keridhaan Allah dan Rasulnya.

Seperti pada kisah Ummu Qais, suatu ketika Ummu Qais berhijrah menjadi pribadi yang lebih baik. Kemudian seorang pemuda tampak menyukainya, pemuda itu kemudian mengikuti langkah Ummu Qais dalam berhijrah, kemudian menikahinya. Alangkah disayangkan, hijrah pemuda tersebut hanya demi wanita yang ia cintai, bukan kepada apayang seharusnya.

Sebagai seorang yang berproses hijrah, menjadilah istiqomah. Jangan sampai memundurkan langkah yang sudah susah payah tersusun maju. Jangan sampai menjadi mantan Muhajir, orang yang hanya pernah berhijrah kemudian hilang jejaknya. Sesungguhnya hijrah bukan hanya dilakukan satu kali kemudian menjadi baik seterusnya, tetapi hijrah adalah tentang berproses, jatuh bangun dan lika-liku hijrah adalah pemanisnya.

Hijrah dibagi menjadi 4 bagian:

• Hijrah Maknawiyah
- Hijrah I’tiqadiyah (Keyakinan), yaitu apabila seseorang futur, maka segeralah berpindah dan menyadari kefuturan itu.
- Hijrah Fikriyah (Pemikiran), jangan sampai terfikir dalam benak hati bahwa tak perlu sulit-sulit menapaki lika-liku hijrah jika seorang PSK saja mampu menjadi ahli surga tersebab kebaikannya dalam memberi minum seekor anjing yang kehausan.

Hijrah Makkaniyah (Tempat), sebagaimana yang telah dilakukan oleh nabi Muhammd ketika hijrah dari Mekkah ke Madinah, nabi Ibrahim dan Isa A.S

• Hijrah Syu’uriyah (Perasaan/Kesenangan)
Hijrah kesenangan ini terpaku pada sesuatuyang kita senangi saja. Seperti halnya ketika membeli pakaian syar’i, mungkin alasan sebenarnya membeli pakaian tersebut adalah hanya mengikuti trend fashion pada saat itu. Jangan sampaimenjadi hedonis.

• Hijrah Sulukiyah (Tingkah Laku)
Menurut konsep Islam, dalam memunculkankeyakinan atau keimanan pada diri adalah dengan 3 hal, yaitu dilisankan, diniatkan, dan diamalkan dalam perbuatan.

Peran Wanita Dalam Islam

Terdapat  3 peranan wanita menurut Islam:

1. Mar’atus Shalihah (Wanita Shalihah)
Sebagaimana yang telah dikisahkan pada saat Fathimah rela membersihkan kotoran-kotoran yang lekat pada tubuh Rasul, disebabkan oleh perbuatan kaum kafir. Juga keteladanan Asma dalam membawakan bekal untuk Rasul dan ayahnya, Abu Bakar saat keduanya berada dalam Gua Hira.

2. Zaujatul Muthi’ah (Istri yang ta’at)
- Khadijah yang telah rela menginfakkan seluruh hartanya di jalan Allah sampai wafat.
- Fathimah yang memiliki tangan yang kasar karena keta’atannya dalam mengurus suami dan rumah tangganya. Hingga saat Ali menawaran pembantu, Fathimah justru berkata “Pekerjaaanku semakin ringan ketika aku mengingat Allah”

3. Ummul Madrasah (Pendidik Pertama)
Asma binti Abu Bakar dahulu menashihati anaknya pertama kali dengan menggebu-gebu, kemudian pada nashihat kedua suaranya semakin pelan. Tanda bahwa seorang ibu boleh memarahi anaknya karena telah melakukan kesalahan, tetapi tetap kewajiban seorang ibu adalah mendidik dan menashihati buah hati mereka dengan cara yang Allah ridhai.

Article by : Fatimah Azahro, STIE SEBI

Post a Comment

0 Comments