Ibunda Guru pertama bagi para Guru-guru

Seperti yang kita sering dengar dalam sebuah pepatah “Buah yang jatuh tidak akan jauh dari pohonnya”, dengan artian sifat anak tidak jauh berbeda dengan Ayah atau Ibunya , Khususnya ibu adalah Madrasatul ula sang buah hati, kelak akan sekolah dimanapun, maka keuletan, kecerdasan, motivasi dan perangai sang ibu menjadi faktor utama dalam mengukir masa depan anak.

Ibunda Guru pertama bagi para Guru-guru

Oleh Sebab itu, begitu tepat sang Hafidz Ibrahim bersenandung dalam syairnya :

"Ibu laksana sekolah, jika disiapkan dengan baik maka lahir generasi berperangai baik."
"Ibu laksana taman, jika rajin disiram maka daun dan buahnya akan bertumbuh lebat."
"Ibu laksana guru pertama bagi para guru-guru cendekia hebat, yang prestasinya tersebar disegenap ufuk"

Aku tidak pernah melihat tempat makhluk yang paling pas untuk mendidik anak selain pangkuan ibu.
Begitu berpengaruhnya sosok ibu dalam diri anak-anaknya , bahkan Rasulullah SAW Sendiri menggambarkan betapa mulianya seorang ibu dalam sebuah hadist :

Dari Abu Hurairah r.a beliau berkata : “ Seseorang datang kepada Rasulullah Saw dan berkata. “ Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi Saw menjawab, ‘Ibumu!’ dan orang tersebut kembali bertanya, ‘kemudia siapa lagi?’ Nabi Saw menjawab, ‘Ibumu!’ orang tersebut bertanya kembali, ‘kemudian siapa lagi?’ Nabi Saw menjawab, ‘Ibumu!’. Orang tersebut kembali bertanya, ‘kemudia siapa lagi?’ Nabi Saw menjawab, ‘kemudia ayahmu.” (HR.Bukhori no.5971 dan Muslim no.2548).

Dibalik pria yang agung ada seorang ibu yang suri teladan, maka ketika ada sesosok yang menjadi ulama cendekia, tokoh ternama dan termashyur atau pahlawan ksatria maka tengoklah ibunya yang berperan penting dibalik mereka semua .

Hanna Ibunda Maryam 

Sebagaimana kita tau sebagai umat muslim, terdapat surah Ali Imran didalam Alquran, dan dapat kita fahami Semulia itu keluarga Ali Imran hingga Allah SWT mengabadikan kisahnya dalam Alquran , agar kita bisa memetik dan meneladani keluarga Ali Imran dalam mendidik anak-anaknya agar Allah Swt ridho, dan mereka selamat dunia akhirat .

Ketika Hanna dikaruniai seorang anak, sejak mengandungpun ia sudah berusaha “ meyerahkan” pemeliharaan anaknya hanya pada Allah Swt agar mendapat sebaik-baiknya pemeliharaan, dalam sebuah nazarnya ia berdoa :

"(Ingatlah), ketika istri 'Imran berkata: "Ya Tuhanku, Sesungguhnya aku menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat (di Baitul Maqdis). karena itu terimalah (nazar) itu dari padaku. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui." (Q.S. Ali Imran: 35)

Hanna pun selalu berusaha memberikan yang terbaik pada buah hatinya, ketika melahirkan dan ia dapati anaknya perempuan, ia tetap bersyukur dan menamai anaknya dengan nama yang baik .

Allah berfirman:
"Maka saat istri 'Imran melahirkan anaknya, diapun berkata: "Ya Tuhanku, sesunguhnya aku melahirkannya seorang anak perempuan; dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu; dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan. Sesungguhnya aku telah menamai Dia Maryam dan aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau daripada syaitan yang terkutuk." (Qs. Ali Imran: 36)

Hanna tak henti-hentinya berharap agar kelak anaknya menjadi sholiha dan selamat dunia akhirat, dan ia mencarikan sebaik-baiknya lingkungan untuk buah hatinya .

"Maka Tuhannya menerimanya (sebagai nazar) dengan penerimaan yang baik, dan mendidiknya dengan pendidikan yang baik dan Allah menjadikan Zakariya pemeliharanya” (Qs. Ali Imran: 37)

Begitulah kasih sayang Hanna pada buah hatinya Maryam, yang bisa kita fahami hasil didikan nya membawa Maryam menjadi wanita yang Allah Muliakan dibanding wanita lain didunia ini. 

Dialah pemuka kaum wanita disurga, Dari Aisyah r.a bahwa Rasulullah SAW bersabda :
Pemuka wanita ahli surga ada empat : Maryam bin Imran, Fatimah bin Rasulullah Saw, Khadijah bin Khawailid, Asiyah”. (HR.Hakim 4853)

Siti Fatimah Ibunda Hasan dan Husain 

Harus kita fahami dibalik kehebatan Sayyidina Hasan dan Sayyidina Husain karena mereka terdidik dibawah asuhan ibunda yang baik perangainya, sesuci dan setakwa Fatimah al-bathul ( ahli ibadah), fatimah sesosok wanita yang begitu sabar, ikhlas, dan tentunya ia juga didikan dari ibunya Siti Khadijah seorang wanita yang amat istimewa penghargaan ini karna peranannya menjadi pebisnis yang sukses, disiplin dalam didikannya terhadap Fatimah sendiri, hingga karakter mulia ini berhasil turun menurun kepada cucu-cucunya. 

Imam Shadiq meriwayatkan dari kakek-kakeknya bahwa Hasan bin Ali bin Abi Thalib berkata, “Di setiap malam Jumat, ibuku beribadah hingga fajar menyingsing. Ketika ia mengangkat tangannya untuk berdoa, ia selalu berdoa untuk kepentingan orang lain dan ia tidak pernah berdoa untuk dirinya sendiri. Suatu hari aku bertanya kepadanya, ‘Ibu, mengapa kau tidak pernah berdoa untuk diri Anda sendiri sebagaimana kau mendoakan orang lain?’ ‘Tetangga harus didahulukan, wahai putraku,’ jawabnya singkat.”

Ibunda Imam Syafi’i

Bernama Fatimah binti Ubaidillah Azdiyah, Beliau Berasal dari suku Al-Azd di Yaman. Garis keturunan beliau masih bersambung dengan Rasulullah Saw dari Ubaidillah bin Hasan bin Husein bin Ali bin Abi Thalib, Fatimah sendiri merawat anaknya sendirian setelah kepergian suaminya tersebut, tak mudah menjadi single parent dengan kehidupan yang serba kekurangan dari segi materi ,namun hal itu tidak menjadi problem yang berarti bagi Fatimah untuk tetap melanjutkan mimpi dan semangatnya, termasuk menjaga kekhalalan nafkah yang ia berikan pada syafi’I kecil, bahkan sejak dalam kandungan sudah protektif mengkonsumsi apapun agar tidak ada secuil syuhbat pun memasuki tubuh anaknya.

ketika beranjak besar pun ia selalu berusaha memfasilitasi sebaik mungkin tempat menuntut ilmu sang anak, agar bisa tetap belajar pada ulama-ulama terbaik, Fatimah semakin menyadari keceerdasan yang luar biasa anaknya diusia yang amat belia (15 tahun) , Syafi’I kecil usia 7  tahun sudah mengkhatamkan hafalan quran dengan fasih dan mutqin, bahkan telah 16 kali menghkhatamkannya ketika dalam perjalanan dari mekah menuju Madinah, tidak cukup sampai disitu berselang setahun kemudian Imam Syafi’I telah membabat habis kitab Almuthawatha karya Imam malik yang berisikan 1.720 hadits pilihan.

Fathimah telah mengabulkan keinginan Imam Syafi’i untuk menuntut ilmu ke luar kota Mekkah. Walau dengan berat hati dan rela menanggung resiko kerinduaan yang teramat sangat dalam jangka waktu yang lama Fathimah menyuruh Syafi’i untuk tidak pulang sebelum ia menjadi seorang yang ‘alim dalam agama. “Nanti kelak, kita berjumpa di akhirat saja!” Begitulah kira-kira pesan terakhir Fathimah sebelum melepas kepergian anak yang begitu dicintanya tersebut untuk menuntut ilmu.

Pesan ini, tentunya begitu diingat dan dita’ati oleh Imam Syafi’I, sampai pada suatu ketika bertahun-tahun kemudian, ada sebuah perkumpulan majelis ilmu di Masjidil Haram, hingga terdengar kabar ada seorang ulama cendekia yang mebuat kagum setiap orang atas ilmu-ilmunya berasal dari Iraq dan hal itu mengundang keingintauan Fatimah siapakah sosok ulama tersebut? Dan hal tersebut diketahui jawabannya melalui seorng pemuda rombongan dari Iraq.ia berkata: “Ulama tersebut adalah Muhammad Idris Asy Syafi’I” seketika itu Fatimah menangis .

setibanya mereka di kampung halaman mereka, Iraq. Lalu Fathimah pun berkata “Tolong sampaikan pada Syafi’i, bahwasanya saat ini, aku telah ridha dan mengizininya untuk pulang.” Mendengar hal tersebut, Imam Syafi’i pun merasa sangat bahagia, dan terharu karena pada akhirnya ia masih berkesempatan untuk menemui ibunya di dunia ini.

Bahkan, Imam Ahmad bin Hambal pada suatu ketika juga pernah memberikan pujian terhadap Imam Syafi’i yang merupakan gurunya tersebut dengan sebuah sya’ir yang berbunyi : 

"كان الشافعى كالشمشى للدنيا وكالعافية للبدان"

Ia ibarat matahari bagi bumi, dan kesehatan bagi badan. Adakah yang bisa menggantikan keduanya? "

Benarlah, menurut satu riwayat yang mengatakan, bahwasanya pada suatu malam di dalam tidurnya ketika Fathimah sedang mengandung Imam Syafi’i, ia pernah bermimpi melihat satu bintang keluar dari perutnya, yang kemudian bintang tersebut melambung tinggi mengangkasa, dan sesaat kemudian bintang tersebut tiba-tiba terpecah di angkasa dan kembali jatuh berpencar menyinari begitu banyak negeri dengan cahaya yang sangat terang benderang. Menurut pen-ta’bir mimpi yang ditanyai Fathimah pada saat itu, bahwa ia akan melahirkan seorang anak laki-laki yang cahaya ilmu pengetahuannya akan terang benderang menyinari seluruh permukaan bumi. 

Hasan Al-Banna berkata, “Wanita merupakan tiang negara, jika baik wanita di dalam suatu Negara tersebut, maka baiklah ia seluruhnya. Akan tetapi sebaliknya, jika tidak baik wanita yang ada didalamnya, maka hancurlah ia seluruhnya.”

Maka kita sebagai wanita khususnya yang sudah hidup pada akhir zaman, jika cita citamu adalah mencetak ulama akhir zaman, paksakan beribadah dan paksakan tinggalkan dosa, karena kecil kemungkinan, seorang ulama lahir dari Rahim wanita yang malas beribadah dan gemar berbuat dosa.

Article by : Intan Pratiwi, STIE SEBI

Post a Comment

0 Comments