Modal Bisnis tanpa Pesimis

Bisnis itu butuh modal, modal itu terbagi menjadi dua (2). Modal materi dan modal kreatifitas. Allah swt. Memberikan kita selaku manusia ialah kemampuan untuk berfikir. Luar biasa hebatnya lagi, sebelum kita terlahir kita sudah dianugrahkan kemampuan untuk memetakan kehidupan.


Sebagai sebuat contoh Nabi Adam as. Sebelum ditugaskan oleh Allah swt. Menjadi seorang khalifah dimuka bumi ini, beliau Telah diberikan bekal terlebih dahulu oleh Allah swt. ialah bekal  pengetahuan.

(Q.s Al-Imran : 31)
"Dan Allah mengajarkan kepada Adam pengetahuan, mampu menyebutkan semua benda yg ada disemesta."

Jadi kemampuan nabi Adam as. Ialah mampu menyebutkan semua benda yg ada di alam semesta ini. Perlu diingat nabi Adam as. ialah seorang manusia, juga seorng nabi tetapi bukan seorang rasul karna Adam as. tidak membawa risalah untuk umat karna  pada saat itu belum ada umat dikarenakan Adam as. Adalah manusia pertama dimuka bumi ini. Sedangkan seorang nabi ialah pembawa risalah untuk dirinya dan orng terdekat. Adam adalah manusia dan adam adalah nabi sebagai nabi, beliau langsung diajakarkan oleh Allah pengetahuan, sementara kita hanyalah anak cucu adam (banii adam).

Kita memiliki persamaan dan perbedaan dengan adam as.
Persamaannya adalah nabi adam seorang manusia yg dibekali pengetahuan begitu juga kita sebagai manusia yg dibekali pengetahuan hanya perbedaannya adalah karna nabi Adam as. Ialah seorang Nabi, yg  melekat fitrah kenabiannya ialah pengetahuan yg langsung diajarkan oleh Allah swt. Kalau kita bukan nabi, melekat fitrah kemanusiaan dan ditanamkan potensi kemanusiaan. Oleh karna itu, Kalau kita ingin mengeluarkan potensi tersebut kita mesti belajar makanya turun Q.s al-alaq : 1 "iqraa" (bacalah), fitrah manusia  adalah untuk mencari, belajar, dan terus kejar.

Jadi kita diciptakan Allah swt. Ternyata dalam keadaan cerdas, tidak ada manusia bodoh.
Kemudian ada reset terbaru dari universitas california, paling kecil otak manusia mampu mencapai 100 juta GB. Jadi manusia itu sudah terlahir luarbiasa bahkan 90% manusia cerdas, 5% manusia genius, dan 5% manusia terlambat.
Jadi, pada dasarnya pintar itu adalah sebuah anugrah dan bodoh itu pilihan.

Kemudian, bagaimana cara kita menggunakan akal kita dalam teori bisnis, turun banyak ayat dan silahkan gunakan modal2 yg dimiliki. Jika punya modal materi yaitu hartanya cukup silahkan gunakan itu. Jika ingin punya bisnis maka liat dulu bagaimana kemampuan kita, apa objeknya, bagaimana pembagian waktunya, lalu berapa kapasitasnya. Turunkan dulu semuanya sehingga kita tahu batas serta capaian kemampuan kita. Jangn ujuk2 punya angan ini, angan itu tanpa mengukur kemampuan.

Bagaimana cara menggunakan modal-modal dalam berbisnis

Pertama Ukur kemampuan apa yg dimiliki oleh kita, sebagai contoh ingin mendapatkan objek bisnis nilainya 50jt. Terntukan dari segi waktunya?, dari segi  tempatnya?, dari segi perangkat kebutuhannya?, siapa yg menggunakannya?,  siapa yg bisa berperan mewujudkan ini?, timnya seperti apa?, biayanya berapa?.

Barulah dari semua perangkat tersebut misal membutuhkan investasi 20jt. Dari 50jt berarti diperoleh estimasi keuntungan 30jt. Modal yg dipunya misal cuma 5jt maka tidak bisa menutupi 20jt.

Lalu bagaimana cara menutupinya?,. Cara pertama dengan cara kreatifitas misal anda ingin mendirikan koperasi maka ajak orang orang untuk bergabung tidak harus 20jt itu yg di minta tetapi tanya apa yg mereka miliki dan bisa mereka berikan untuk modal koperasi baik makanannya, mejanya, kursinya, ataupun tendanya. kemudian terkumpul itu semua dan terjadi perserikatan yg dinamakan syirkah (persatuan untuk meuwujudkan sesuatu). Terhitung modal disitu dan bisa dibagikan persentasi keuntungan secara keseluruhan.

Itulah yg dilakukan Abdurrahman bin Auf ra. Beliau adalah orang paling kaya dibumi mekah. Ketika beliau ketahuan oleh orang Quraisy akan hijrah ke madinah untuk masuk islam. Beliau dibiarkan masuk islam dan tidak dieksekusi hanya semua harta kekayaannya dirampas oleh kaum Quraisy dan hanya d sisakan saja pakaian yg melekat dibadannya. Itu semua dilakukan untuk memberikan pelajaran kepada kaum Quraisy yg ingin masuk islam sehingga merasa takut akan kesengsaraan dan juga sebagai bentuk ancaman.

Ketika keluarga abdurrahman bin auf diharuskan untuk memilih antara ikut dengan suaminya yg penuh kesengsaraan dan tidak pasti selamat atau tetap tinggal dimekkah dengan kekayaan yg berkali-lipat, kemudian keluarganya tetap tinggal dimekkah.

Abdurrahman bin auf tetap hijrah ke madinah, beliau mendapat sikap ramah umat islam ialah ketika abdurrahman bin auf tiba diMadinah beliau disambut oleh kaum Madinah. Sifat menolong dengan apa yg dibutuhkan disebut nashir jama'nya anshar. Oleh karna itu, dikenalah kaum anshar. Yg haus diberikan minuman dan yg lapar diberikan makanan. Datanglah orng paling kaya dimadinah kemudian menyambut dan berkata, "saudaraku yg mulia, saya dengar anda sebelumnya kaya kemudian jatuh faqir kalau anda ingin kaya lagi, ambilah setengah kekayaan saya". Pada dasarnya gaya itu berbanding lurus dengan kekayaan. Tidak heran ketika orang yg hartanya cukup dengan orng yg kaya akan menghasilkan gaya berbeda.

Kemudian gaya berbanding lurus dengan tekanan, jadi masalahnya ketika orng yg kaya tapi harta nya sudah terkuras habis kemudian gaya nya masih banyak. Tentunya ini akan menimbulkan banyak tekanan dalam dirinya.

orang kaya ini mengira, abdurrahman bin auf demikian, padahal beliau sudah mendapatkan pembekalan dari nabi saw. bahwa sepanjang punya kemampuan jangan gantungkan diri kita pada orng lain, tetaplah menjadi manusia yg tawakal, ikhtiar dulu.
Kemudian apa kata beliau (abdurrahman bin auf) " jazakallah khairan, semoga Allah berikan pahala melimpah kepada anda. Cukup tunjukkan padaku dimana letak pusat bisnis".

MasyaAllah..
Beliau adalah seorang pebisnis, beliau tau cara untuk berbisnis. Beliau tidak punya modal sama sekali. Ketika beliau ingin menjual kambing, beliau tidak punya uang untuk membeli kambing maka cari penjual kambing. Beliau pasarkan(salurkan).

3 bulan seperti itu, beliau jadi orang paling kaya ketiga diMadinah. Selama 1 tahun kemudian beliau menjadi orang paling kaya dimadinah. Bahkan pernah disebutkan saking kayanya beliau, kapaknya saja terbuat dari emas.

Pernah ada suasana ramai diMadinah (dak dik duk, dak dik duk). Sayyidatina aisyah, saat itu setelah sepeninggalan nabi saw. Keluar dan bertanya, "suara apa itu?" orang-orang berkata "itulah kafilah dagang Abdurrahman bin auf", 600 ekor unta lengkap dengan emas dan berlian yg melekat padanya. Kemudian, datang seorang kafilah, dan sayyidatina aisyah berkata "saya mendengar abdurrahman bin auf akan masuk syurga dengan merangkak". Maksud merangkak disini ialah akan ada banyak harta yg dihisab sebelum masuk syurga.

Walaupun banyak diperselisihkan kualitas hadist di atas, tetapi makna yg dapat dipetik ialah ketika Abdurrahman bin Auf mendengar hal itu, kemudian berkata "saya sedekahkan semua harta itu untuk kepentingan lillahirabbil 'alamin, 600 unta beserta emas dan berlian yg ada padanya.

MasyaAllah,...
Begitu kedermawanan abdurrahman bin auf kepada islam, dan ketakutannya kepada Allah swt. Qs. Al-imran : 133-134
Intisarinya ialah " ada orang takwa yg tinggalnya disyurga seluas langit dan bumi."
Kemudian apa amalannya?
"orang yg gemar bersedekah baik lapang maupun sempit".
Kalau memungkinkan memmbangun relasi. Makanya umat itu harus kenal satu dengan yg lain, jamaah bukanlah hanya untuk berkumpul, setiap orang itu yg datang ke masjid untuk berkenalan dengan lainnya dan saling perhatian.

Saling bantu, kenalan, liat dan penuhi kebutuhannya. datang ahli suffah ajak diskusi, ada mahsiswa ketemu dosen, konsultasi. Datang orang sakit yg gk bisa berobat ke rumah sakit ketemu dokter, kasi obat atau resep. Selesai masalah.

Jadi, spirit jamaah bukan hanya kumpul rame-rame. Jika dipraktekkan dahsyat..., akan kuat ikatan, dan terjalin ukhuwah islamiyyah.

Oleh karena itu, bisnis memang butuh modal tetapi keterbatasan modal materi bukanlah menjadi hal yg utama. Karena manusia telah dianugrahkan kecerdasan oleh Allah swt. Sejak sebelum lahir untuk memetakan kehidupan. Kemudian kembalilah kepada fitrah seorang manusia yg sudah ditanamkan kecerdasan dalam dirinya, sehingga ketika ingin mengeluarkan kerdasan yg tertanam maka terus mencari, dan terus belajar serta terus kejar

Article By : Arya Makbulah, STIE SEBI

Post a Comment

0 Comments