Pentingnya Akad dalam Setiap Transaksi

 “Hai orang-orang yang beriman, penuhilah akad-akad itu” (QS. Al-Maidah [03]: 01)

Pentingnya Akad dalam Setiap Transaksi

Persoalan muamalah adalah persoalan yang amat sedikit dikaji secara serius, karena selama ini banyak anggapan bahwa persoalan muamalah adalah persoalan dunia yang sama sekali tidak terkait dengan nilai-nilai ketuhanan. Anggapan seperti ini tentu saja tidaklah benar, karena sebagai seorang muslim, apa pun aktivitas yang dilakukan sehari-hari harus terkait dengan nila-nilai ketuhanan. Dalam berbagai transaksi jual beli, jasa, dan lain sebagainya, seorang muslim harus melaksanakannya sesuai dengan tuntunan yang telah disyariatkan oleh Allah SWT.

Tahukah bagaimana kedudukan muamalah dalam Islam? Sesungguhnya dua sisi syariah Islam ialah ibadat dan muamalat. Keduanya terkait laksana satu tubuh dan keduanya satu tujuan, (yaitu dalam rangka ibadah dan ketaatan kepada Sang Khalik Allah Swt). (Samir Abdul Hamid Ridwan, Aswaq al-Awraq al-Maliyah, IIIT, Cairo, 1996, hlm. 166). Jadi, muamalah juga sangat penting untuk dipelajari dan dikaji lebih dalam lagi.

Salah satu pilar dari ekonomi syariah adalah akad (kontrak) karena seluruh produk dan  kegiatannya syarat dengan akad dan dengan seluruh ketentuannya dalam fikih Islam. Di samping itu, produk dan kegiatan ekonomi syariah yang dinamis menurut desain akad juga harus dinamis berdasarkan subtansi dan maqashid akad yang khas, tidak hanya copy-paste terhadap fitur-fitur produk konvensional, tetapi keinginan tersebut bisa terealisasi jika produk dan kegiatan tersebut dibangun di atas konsepsi akad yang kuat dan jelas.

Maka pengetahuan tentang akad transaksi menjadi penting bagi mufti, regulator, industri ekonomi Syariah. Oleh karena itu, dibutuhkan pengetahuan secara penuh mengenai fikih muamalah untuk dapat mengetahui ketentuan hukum produk dalam  kegiatan ekonomi syariah.

Lafal Akad berasal dari lafal Arab al-‘aqd yang berarti perikatan, perjanjian. Menurut terminologi fikih akad didefinisikan dengan “Pertalian ijab (pertanyaan melakukan ikatan) dan qabul (pernyataan penerimaan ikatan) sesuai dengan kehendak syariat yang berpengaruh pada obyek perikatan.

Pencantuman kalimat yang sesuai dengan kehendak syariat maksudnya adalah bahwa seluruh perikatan yang dilakukan oleh dua pihak atau lebih tidak dianggap sah apabila tidak sejalan dengan kehendak syara’. Misalnya, kesepakatan untuk melakukan transaksi riba, menipu orang lain atau merampok kekayaan orang lain. Sedangkan pencantuman “berpengaruh pada objek perikatan” maksudnya adakah terjadinya perpindahan pemilikan dari satu pihak (yang melakukan ijab) ke pihak lain (yang menyatakan qabul). 

Setiap akad harus memenuhi rukun dan syarat sahnya. Rukun akad yang dimaksud adalah unsur-unsur yang harus ada dan merupakan esensi dalam setiap kontrak. Jika salah satu rukun tidak ada, maka menurut hukum perdata Islam maka kontrak dipandang tidak pernah ada. Sedangkan syarat adalah satu sifat yang mesti ada pada setiap rukun, tetapi bukan merupakan esensi akad. Menurut mayoritas ulama, rukun akad terdiri atas tiga unsur yaitu:

1. ’Aqidain (dua pihak yang melakukan kontrak). Pelaku akad itu bisa dua orang atau banyak orang, bisa pribadi (syakhsiah haqiqiyah) atau entitas hukum (syakhsiah i’tibariyah), baik sebagai pelaku langsung atau sebagai wakil dari pelaku akad.

2. Ma’qud ‘alaih (Objek Akad). Yaitu harga atau barang yang menjadi objek transaksi seperti objek transaksi jual beli (bai’), hadiah dalam akad hibah, barang yang digadaikan dalam akad Rahn, utang yang dijamin dalam akad kafalah.

3. Shighat (Pernyataan ijab dan qabul). Shighat adalah ijab dan qabul (serah terima) baik diungkapkan dengan ijab qabul maupun ijab saja yang menunjukan qabul dari pihak lain (secara otomatis). Ijab artinya ungkapan pertama dari salah satu pihak yang memiliki keinginan untuk melakukan akad. Sedangkan qabul artinya ungkapan yang kedua dari pihak lain setelah melakukan ijab dan menunjukkan persetujuannya terhadap pihak lain tersebut.

Mengapa akad begitu penting dalam transaksi? Akad merupakan salah satu aspek yang sangat penting untuk dikaji dalam rangka merespon perkembangan ekonomi syariah dewasa ini, khususnya bagi para akademisi dan pemerhati ekonomi syariah. Karena akad tersebut yang menentukan sah dan tidaknya transaksi yang dilakukan. Selain itu, yang perlu diperhatikan adalah implikasi hukum terhadap para pihak yang melakukan transaksi setelah akad tersebut terbentuk.

Article by : Siti Uswatun Hasanah, STIE SEBI

Post a Comment

0 Comments