KONSEP DASAR ASURANSI SYARIAH

Dunia asuransi erat kaitannya dengan risiko, pada dasarnya dalam meng hadapi suatu kejadian berisiko seseorang dapat melakukan setidaknya lima hal berikut, yakni menghindari, mengurangi, menanggung sendiri, membagi risiko atau mentransfer risiko. Untuk mengatasi hal ini dibutuhkan apa yang disebut dengan manajemen risiko (risk management) yang bertujuan untuk mengendalikan kemungkinan hal buruk di masa mendatang.


Meskipun asuransi berhubungan erat dengan risiko, tidak semua risiko itu dapat dijamin oleh asuransi. Untuk dapat dijamin oleh asuransi, setidaknya risiko tersebut harus mengandung beberapa hal, diantaranya risiko yang dikhawatirkan terjadi di banyak orang yang sama (the law of large number), kerugian yang terjadi secara tidak disengaja (accidental loss), kejadian dari musibah tersebut dapat diidentifikasi (circumstances of loss should be identifiable), risikonya besar tapi bukan bencana alam (large but noy catastrophic loss), preminya masuk akal (affordable loss) dan kerugiannya bisa diperhitungkan (calculable loss).

Asuransi syariah, yang dalam bahasa Arab dikenal dengan istilah takaful, berasal dari akar kata kafalah, yang berarti menjamin (memberikan jaminan), mengamankan atau bertanggung jawab. Secara literal (harfiah), takaful berarti solidaritas, tanggung jawab bersama atau saling menjamin satu sama lain yang didasarkan pada perjanjian bersama (mutual agreement).

Sejalan dengan cita-ita Islam tentang kesejahteraan (welfare) dan kedermawan, sistem asuransi syariah (takaful) ini adalah usaha bersama (kolektif) yang memungkinkan sebuah komunitas untuk mengumpulkan sumber daya bersama-sama untuk membantu anggota masyarakat pada saat dibutuhkan karena kecelakaan atau kerugian.

Tidak mengherankan bila dalam sekumpulan orang-orang muslim akan berlaku budaya saling bahu-membahu, tolong menolong memberikan perlindungan sebagaimana digambarkan dalam hadist yang diriwayatkan dari Ibn Umar RA bahwa Rasulullah SAW bersabda, “seorang muslim itu adalah saudara muslim lainnya. Ia tidak boleh menzalimi dan menyusahkannya. Barang siapa yang mau memenuhi kebutuhan saudaranya, maka Allah pun akan berkenan memenuhi kebutuhannya. Siapa yang melapangkan satu kesusahan seorang muslim, maka Allah akan melapangkan satu kesulitan diantara diantara kesusahan-kesusahan di hari kiamat nanti. Serta siapa yang menutup aib seorang muslim, maka Allah akan menutup aibnya di hari kiamat”. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Pada hakikatnya, semangat yang terkandung dalam sebuah perusahaan asuransi tidak bisa dilepaskan dari semangat sosial dan saling tolong-menolong. Manusa tidak dapat meramalkan atau melakukan prediksi mengenai sesuatu yang akan terjadi di masa mendatang, bahkan di esok haripun tidak mengetahui apa yang akan terjadi. Risiko di masa mendatang dapat terjadi baik terhadap kehidupan seseorang (jiwa) maupun harta benda (kerugian) dan perlu dilakukan pengalihan risiko kepada pihak lain yaitu melalui asuransi.

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), aset asuransi syariah mencapai Rp41,96 triliun pada 2018. Aset tersebut berasal dari asuransi jiwa syariah senilai Rp34,47 triliun, asuransi umum syariah Rp5,62 triliun dan reasuransi syariah Rp1,86 triliun. Artinya aset pada tahun ini ditargetkan menembus Rp48,15 triliun.

Hadirnya perusahaan asuransi syariah menjadi alternatif bagi masyarakat muslim yang menginginkan ketenangan dan kenyamanan dalam hal memilih perlindungan dirinya dan keluarganya serta merupakan bentuk dari ketakwaan kepada Allah.

Suatu akad berasuransi syariah harus memenuhi ketentuan terkait hak dan kewajiban antara peserta dan perusahaan, cara dan waktu pembayaran kontribusi, jenis akad, serta kejelasan antara pengelolaan akad yang bersifat hibah (tabarru’) dan komersial (tijari). Dalam hal ini, setidaknya terdapat beberapa perbedaan antara asuransi syariah dengan konvensional, yakni keberadaan DPS, akad nya berdasarkan konsep tolong menolong, investasi sesuai syariah, tidak mengenal dana hangus, klaim diambil dari dana kebajikan (tabarru’) seluruh peserta, keuntungan dibagi sesuai akad antara peserta dan perusahaan asuransi menggunakan sistem pembagian risiko (sharing of risk), berbasis kas (cash basis) dalam perhitungan surplus defisit underwriting, serta dibebani kewajiban pembayaran zakat atas keuntungan yang diperolehnya. 

Artikel : Annisa Fadhillah

Post a Comment

0 Comments