Konsep gadai syariah dalam maqasid syariah

Gadai syari’ah sering diindetikan dengan Rahn  yang secara Bahasa di artikan al- tsubut wa al- dawam ( tetap dan kekal) sebagian ulama lughat memberi arti al- hab ( tertahan ). Sedangkan definisi Rahn menurut istilah yaitu menjadikan suatu benda yang mempunyai nilai harta dalam pandangan syar’a untuk kepercayaan suatu utang , sehingga memungkinkan mengambil seluruh atau sebagian utang dari benda itu.



Landasan hukum yang di gunakan para ulama untuk membolehkannya rahn yakni bersumber pada al-qur’an (2): 283 yang menjelaskan tentang diizikannya bermuamalah tidak secara tunai. Dan hadist yang diriwaytkan oleh Bukhori dan Muslim dari Aisyah binti Abu Bakar, yang menjelaskan bahwa Rasulullah SAW pernah membeli makanan dari orang yahudi dengan menjadikan baju besinya sebagai jaminan.

Fatwa diatas menjelaskan tentang fungsi rahn sebagai jaminan ( tautsiq ) yang berlaku pada akad qardh atau transaksi tidak tunai ( muajjal ) yang menjadi maksud dan tujuan disyariatkannya rahn. Hal ini sesuai dengan standar syari’ah AAOIFI yang menegaskan bahwa syarat rahn hanya berlaku untuk akad-akad muadhah seperti jual beli, oleh Karena itu rahn tidak boleh diterpakan dalam akad-akad amanah seperti mudhrabah dan musyarakah kecuali jika syarat itu digunakan sebagai bukti komitmen mudharib ( pengelola ) dan syarik terhadap syarat yang telah disepakati.

Muhammad Shalikul hadi mengutip pendapat Basyir ( 2003 ) bahwa jenis barang gadai yang dapat digadaikan sebagai jaminan adalah semua jenis barang bergerak dan tak bergerak, sehingga barang yang dapat digadaikan bisa semua barang asal memenuhi syarat :
1. Merupakan benda bernilai menurut hukum syara’
2. Ada wujudnya ketika perjanjian terjadi
3. Mungkin diserahkan seketika kepada murtahin.

Adapun perbedaan pendapat para ulama dalam hal pemeliharaan barang gadai. Ulama syafi’iah dan Hanabilah berpendapat biaya pemeliharan barang gadai tanggung jawab pemberi gadai karena barang tersebut merupakan miliknya dan akan kembali padanya. Sedangkan ulama Hanafiah berpendapat bahwa biaya pemeliharaan barang gadai menjadi tanggungan penerima gadai yang mana dalam posisinya sebagai penerima amanat. Berdasarkan pendapat diatas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa biaya barang gadai adalah hak rahn dalam kedudukannya sebagai pemilik yang sah. Akan tetapi jika harta atau barang jaminan tersebut menjadi kekuasaan murtahin dan diizinkan maka biaya pemeliharaan jatuh pada murtahin.

Kesimpulannya ialah dalam pandangan islam pegadaian diperbolehkan oleh syariat islam. Dan tentunya harus sesuai dengan yang digariskan dalam al-qur’an dan As-sunnah. Seterusnya, bukan tidak mungkin bahwa segala sesuatu yang bersifat konvesionalnya yang ternyata banyak menyimpan persoalan dijawab dengan menerapkan prinsp-prinsip syari’ah. Bunga bukalah satu-satunya jalan yang tepat untuk mendapatkan keuntungan. Tetapi dengan memberdayakan akad-akad syari’ah pendapatan atau laba pun dapat di peroleh dan tentunya hasil yang didapatkan pun bersih dan halal.

Post a Comment

0 Comments