KONSEP PERKEMBANGAN MAQASHID SYARIAH

Para akademisi dan praktisi lembaga perbankan dan keuangan, tidak cukup hanya mengetahui fikih muamalah dan aplikasinya saja, tetapi yang lebih penting adalah memahami ilmu ushul fiqh. Semua ulama sepakat bahwa ushul fiqh menduduki posisi yang sangat penting dalam ilmu-ilmu syariah. Abdul Wahhab Khallaf menegaskan bahwa, maqâshid syariah dapat dijadikan sebagai alat bantu untuk memahami redaksi al Qur‟an dan al Sunnah, menyelesaikan dalil-dalil yang bertentangan, dan yang sangat penting lagi adalah untuk menetapkan hukum terhadap kasus yang tidak tertampung oleh al Qur‟an dan Sunnah secara kajian kebahasaan. 

MAQASHID SYARIAH


Metode istimbath seperti qiyas, istihsan dan maslahah mursalah adalah metode metode pengembangan hukum Islam yang didasarkan atas maqâshid syariah. Qiyas misalnya, baru bisa dilaksanakan bilamana dapat ditentukan maqâshidnya yang merupakan alasan logis (illat). Contoh, diharamkannya minuman khamar (QS. Al Maidah: 90). Dari hasil penelitian ulama ditemukan bahwa maqâshid syariah dari diharamkannya khamar ialah karena sifat memabukkannya yang merusak akal pikiran.

Secara ontologi maqāsid al-syarī„ah dilihat sebagai motivasi al-Syāri„ (al-gharad/al-bā„ith/al-muharrik), namun dibatasi dalam hal pensyariatan. Secara epistemologis. Maqāsid dalam wilayah pensyariatan masih dalam jangkauan pengetahuan manusia. Secara epistemologis manusia bisa membuktikan kebenaran maqāsid al-Syāri berdasar maslahat yang terwujud dari hukum Cikal bakal lahirnya maqâshid syariah diawali oleh al Juwaini. 

Di tangan al-Juwaini banyak bermunculan istilah-istilah baru maqâshid semisal: al-kulliyyât, al-mashâlih al-„âmmah, al-istishlâh dan sebagainya. Al-Juwaini juga sebagai ulama yang pertama membagi konsep “kemaslahatan” menjadi tiga: al-dlarûriyyât (primer), al-hâjiyyât (sekunder) dan al-tahsîniyyât (tersier). Di tangan beliau inilah lahir kaidah: al-hâjah al-‟Âmmah tunzal manzilah al-dlarûrah al-khamsah (kebutuhan yang bersifat umum menempati posisi lima kemaslahatan primer)

3 Imam Al-Syatibi (w.790 H), dalam kitab Al-Muwafaqat, mengatakan, mempelajari ilmu ushul fiqh merupakan sesuatu yang dharuri (sangat penting dan mutlak diperlukan), karena melalui ilmu inilah dapat diketahui kandungan dan maksud setiap dalil syara’ (Al-quran dan hadits) sekaligus bagaimana menerapkan dalil-dalil syariah itu di lapangan. Menurut Al-Amidy dalam kitab Al-Ihkam fi Ushulil Ahkam, Siapa yang tidak menguasai ilmu ushul fiqh, maka diragukan ilmunya, karena tidak ada cara untuk mengetahui hukum Allah (syariah) kecuali dengan ilmu ushul fiqh.” .

Tema terpenting dalam ushul fiqh adalah maqashid syariah. Maqashid syariah adalah jantung dalam ilmu ushul fiqh, karena itu maqashid syariah  menduduki posisi yang sangat penting dalam merumuskan ekonomi syariah, menciptakan produk-produk perbankan dan keuangan syariah.

Para ulama ushul fiqh sepakat bahwa pengetahuan maqashid syariah menjadi syarat utama dalam berijtihad untuk menjawab berbagai problematika kehidupan ekonomi dan keuangan yang terus berkembang. Maqashid syariah tidak saja diperlukan untuk merumuskan kebijakan-kebijakan ekonomi makro (moneter, fiscal ; public finance), tetapi juga untuk menciptakan produk-produk perbankan dan keuangan syariah serta teori-teori ekonomi mikro lainnya. Maqashid syariah juga sangat diperlukan dalam membuat regulasi perbankan dan lembaga keuangan syariah.

Penerapan maqashid syariah ini merupakan penjabaran dari maqashid (tujuan) besarnya yaitu hifdzul mal (menjaga dan memenuhi hajat dan maslahat akan harta).

Menjaga dan memenuhi hajat akan harta tersebut adakalanya dari sisi bagaimana mendapatkanya (min janibi al-wujud) atau dari sisi memelihara harta yang sudah dimiliki (min janibi al-‘adam).

Artikel : SYAHRIJAL

Post a Comment

0 Comments