PERBEDAAN ASURANSI KONVENSIONAL DAN SYARIAH

Sudah banyak tulisan-tulisan yang memuat terkait pengertian dari jaminan atau yang sering kita dengar dengan asuransi. Akan tetapi banyak dari kalangan masyarakat kita yang masih enggan untuk beralih kepada asuransi syariah (takaful) karen ketidak-tahuan mereka tentang “apa itu perbedaan antara asuransi konvensional dan asuransi syariah”. Insyaallah dalam tulisan ini, saya akan sedikit menjelaskan terkait perbedaan asuransi konvensional dan asuransi syariah.


Untuk dapat melihat perbedaan asuransi konvensional dan syariah, kita dapat melihatnya dalam dua hal, yaitu pertama, perbedaan yang terletak dari garis awal mula asuransi dan perkembangannya, dan yang kedua, perbedaannya secara konsep dan implementasinya. 

Perbedaan awal mula praktik dan perkembangannya didalam asuransi konvensional dan asuransi syariah, pertama, asuransi konvensional berasal dari kebiasaan masyarakat Babilonia (tahun 4000 – 3000 SM) sedangkan pada asuransi syariah berasal dari kebiasaan suku Arab kuno (sebelum tahun 570 M). Kedua, perkembangan asuransi konvensional dimulai sejak adanya praktik dari Kontrak Bottomry, sedangkan asuransi syariah dimulai sebelum praktik aqilah. Ketiga, pada asuransi konvensional, Kontrak dilakukan berdasarkan riba (suku bunga) sesuai Bottormy, sedangkan Doktrin aqilah pada asuransi syariah dilakukan berdasarkan kerjasama antar suku. Keempat, pada asuransi konvensional, perkembangan prinsip dan praktiknya masih menggunakan bunga (riba), sedangkan tidak dalam asuransi syariah,  pada asuransi syariah perkembangan praktiknya berdasarkan prinsip mudharabah dengan teknik bagi laba (rugi).

Demikianlah, ada 4 point yang merupakan perbedaan awal mula praktik dan perkembangan pada asuransi konvensional dan asuransi syariah. Didalam point yang kedua yaitu perbedaan asuransi konvensional dan syariah berdasarkan konsep dan implementasinya terdapat lima perbedaan, sebagai berikut :

1. Premi
Pada asuransi konvensional, premi di akui sebagai pendapatan bagi perusahaan, sedangkan pada asuransi syariah, premi merupakan hak / milik peserta (pemegang polis) secara kolektif.

2. Investasi
Didalam praktik asuransi konvensional, hasil dari investasi itu akan menjadi hak dan kewajiban bagi perusahaan. Jika laba, makan akan menjadi hak perusahaan dan jika rugi, maka menjadi kewajiban perusahaan untuk menanggungnya. Sedangkan dalam asuransi syariah, hasil dari investasi tersebut akan dibagi untuk perusahaan asuransi dan peserta (pemegang polis) sesuai dengan proporsinya yang telah ditentukan pada kontrak takaful.

3. Klaim
Dalam asuransi konvensional, ketika peserta (pemegang polis) melakukan klaim maka perusahaan asuransilah yang akan menanggung semua biaya klaim tersebut. Sedangkan dalam asuransi syariah, dana yang dipakai untuk menanggung klaim tersebut diambil dari dana peserta (pemegang polis) secara kolektif.

4. Pada akhir periode
Pada asuransi konvensional ketika akhir periode peserta (pemegang polis) tidak mengajukan klaim, maka dana tersebut menjadi hak perusahaan. Sedangkan pada asuransi syariah dana tersebut tidak akan dikembalikan, karna pada kontrak takaful telah disepakati bahwa akad yang dipakai adalah akad hibah.

5. Surplus 
Surplus maupun devisit dalam asuransi konvensional akan diakui dan ditanggung seluruhnya oleh perusahaan, sedangkan dalam asuransi syariah, jika ada surplus maka akan dibagikan sesuai dengan kontrak takaful terkait pembagian proporsi surplus. Baik untuk peserta (pemegang polis), perusahaan asuransi, ataupun untuk cadangan dana tabarru’ periode berikutya.

Artikel : Fithri Lathifah 

Post a Comment

0 Comments