Perbedaan Jual Beli dan Riba

Banyak orang yang beranggapan bahwa di atas landasan system Ekonomi Syariah Klasik adalah sama dengan sistem Ekonomi Riba/Konvensional. Padahal keduanya sangat jauh berbeda dalam pelaksanaanya. Ekonomi Syariah dibangun diatas landasan “halalnya jual beli dan mengambil keuntungan”. 

Perbedaan Jual Beli dan Riba

Sementara Ekonomi Ribawi/Konvensional dibangun diatas fondasi “ kamu juga harus memberikan keuntungan pada saya yang telah berjasa memberimu pertolongan.” Konsep Ekonomi Syariah modern dibangun di atas landasan “saya dan kamu sama-sama berhak mendapatkan keuntungan.” Setidaknya ketiga konsep ini yang untuk sementara waktu kita catat sebagai satu sisi kajian.

Jual beli menurut bahasa al-ba’i, al-ijarah dan al-mubadalah yang berarti menjual, perdagangan. Menurut istilah yang dimaksud jual beli adalah: 

1. Menukar barang dengan barang atau barang dengan uang dengan jalan melepaskan hak milik dari yang satu kepada yang lain atas dasar saling merelakan.

2. Menurut ulama Hanafiah
مُبَادَلَةُ مَالٍ بِمَالٍ عَلَى وَجْهٍ مَخْصُوْصٍ

Artinya:
Saling menukar harta dengan harta melalui cara tertentu”.
Yang dimaksud melalui cara tertentu adalah ijab dan qabul atau saling memberikan barang dan menetapkan harga antara penjual dan pembeli.

3. Menurut Sayid Sabiq
مُبَادَلَةُ مَالٍ بِمَالٍ عَلَى سَبِيْلِ التَّرَضِى
Artinya:
Saling menukar harta dengan harta atas dasar suka sama suka”.

4. Imam An-Nawawi
مُقَابَلَهُ مَالٍ بِمَالٍ تَمْلِيْكًا
Artinya:
Saling tukar harta dengan harta dalam bentuk pemindahan milik

Dalam jual beli, terjadi penundaan. Dengan modalnya, pedagang membeli barang, untuk selanjutnya dijual. Di sana ada penundaan, karena uangnya diputar. Dari usaha ini, dia mendapatkan keuntungan.
Demikian pula dalam transaksi riba. Pemilik modal memberikan utang kepada orang yang membutuhkan utang. Uangnya dimanfaatkan sepenuhnya oleh pemegang utang, dan baru dikembalikan setelah jatuh tempo. Karena penundaan ini, dia berhak mendapat keutungan (riba).

Tentu saja, ini pernyataan yang tidak bisa dibenarkan. Karena hakekat dari pernyataan ini didasari ambisi dan ketamakan mereka untuk meraup dunia. Mereka melakukan upaya pembelaan itu dengan membuat pernyataan ngawur, ‘jual beli itu seperti riba’. mereka membela riba seperti gila. Karena itulah, ketika di hari kiamat, Allah bangkitkan mereka seperti orang gila yang kerasukan setan.

Allah berfirman di ayat sebelumnya,

الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ

Orang-orang yang makan riba tidak dibangkitkan melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila.” (QS. al-Baqarah: 275)

Karena dulu ketika di dunia mereka membela riba seperti gila, di hari kiamat mereka dibangkitkan dalam kondisi seperti gila juga. Allah menetapkan kaidah, balasan sejenis dengan amal,

وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا
Balasan dari amal buruk adalah keburukan yang semisal. (QS. as-Syura: 40)

Beda Jual Beli dengan Riba

Dan jika kita perhatikan, ada banyak hal yang menjadi titik perbedaan antara jual beli dengan riba. Kita akan sebutkan beberapa perbedaan dengan asumsi telah memiliki modal dan dalam kondisi normal.

1. Orang yang melakukan transaksi jual beli, dia melakukan kerja fisik yang riil.  Mulai dari mencari barang, memindahkan barang, menyimpan barang, menawarkan kepada konsumen, menjualnya, dan mengantarkan ke konsumen. Baik dikerjakan sendiri, maupun mempekerjakan orang lain.
Berbeda dengan riba, semua orang butuh uang. Sehingga ketika ada orang yang membutuhkan utang, semacam ini tidak perlu ditawarkan. Mereka akan datang dengan sendirinya. Jika semua dilakukan dengan tertib, hampir tidak ada usaha riil di sana.

2. Orang yang melakukan jual beli, mereka menanggung semua potensi resiko kerugian dalam setiap tahapan usahanya. Dari mencari barang, hingga jaminan selama di konsumen, seperti garansi. Di sana ada keseimbangan, sebagaimana dia mendapat peluang untung, juga menanggung resiko rugi.
Berbeda dengan riba, hampir tidak ada resiko di sana. Jika semua dilakukan dengan tertib, dia selalu di posisi aman, bisa mendapat keuntungan, tanpa menanggung resiko kerugian.

3. Jual beli berbasis pada penyediaan barang atau jasa. Sehingga ada manfaat riil yang diputar di masyarakat. sehingga keuntungan yang didapatkan penjual, sebanding dengan nilai manfaat riil yang diterima konsumen.

Sementara riba berbasis pada permainan uang. Tidak ada barang atau jasa yang ditransaksikan. Uang ditransaksikan dengan uang, menghasilkan uang.

Al-Alusi mengatakan dalam tafsirnya,

الفرق بينهما أن أحد الألفين في الثاني ضائع حتما وفي الأول منجبر بمسيس الحاجة إلى السلعة أو بتوقع رواجهم

Perbedaan keduanya, nilai riba di transaksi pertama (utang) hilang sama sekali. Sementara untuk keuntungan yang pertama (jual beli), menggantikan pemenuhan kebutuhan terhadap barang atau terpenuhi kebutuhan primer mereka. (Ruhul Ma’ani, Tafsir al-Alusi, 2/375)

4. Jual beli membangun kegiatan perekonomian di masyarakat. karena mereka berlomba untuk menghasilkan manfaat riil, barang atau jasa. Jika barang dan jasa semakin melimpah, kebutuhan masyarakat akan lebih mudah terpenuhi.

Sementara riba mengajarkan masyarakat untuk menjadi pemalas, karena uang yang bekerja. Dia bisa diam, karena merasa sudah berpenghasilan. Ketika ketersediaan uang lebih banyak dibandingkan barang dan jasa, lebih mudah terjadi inflasi. (Simak Tafsir ar-Razi, 7/97)

Jual beli itu penting karena dengan jual beli seseorang bisa memenuhi kebutuhan hidupnya bahkan dapat sebagai sumber penghasilan dan mempertahankan hidupnya. Namun,sekarang ini banyak orang yang melakukan jual beli tetapi tidak menggunakan aturan dalam jual beli secara Syariah. Mereka mencari keuntungan dengan cara riba agar cepat kaya,padahal pada hakekatnya riba itu tidak menambah kekayaan namun justru menguranginya. Sementara riba mengajarkan masyarakat untuk menjadi pemalas, karena uang yang bekerja. Dia bisa diam, karena merasa sudah berpenghasilan. Ketika ketersediaan uang lebih banyak dibandingkan barang dan jasa, lebih mudah terjadi inflasi.

Artikel : Muhammad Farihin

Post a Comment

0 Comments