Cerpen Tentang Pengagum Rahasia Yang Berjudul "PENCURI PAGI"

Cerpen Tentang Pengagum Rahasia

Cerpen pengagum rahasia adalah tema untuk sebuah cerita pendek yang akan saya bagikan kali ini. Cerpen ini merupakan sebuah cerita fiksi yang di buat oleh penulis untuk menggambarkan sebuah kisah perjalanan cinta seorang remaja. Dimana ia hanya mampu menjadi seorang pengagum rahasia tanpa mampu mengungkapkan nya. Oke langsung saja simak cerpen yang berjudul : 

PENCURI PAGI

Bunga itu ku petik dari pekarangan sebelah yang nampak cantik. Aku berlarian menuju gerbang sekolah setelah hujan pagi hari mulai mereda. Kau memakai jaket ungu disana, di depan motor vespa. Ah, kau cantik. Bunga yang kupetik seolah menari nari di saku celanaku dan ia membawaku berjalan mendekatimu. Hanya mendekati, tak mampu berhadapan pasti.

Setiap hari, aku mengagumimu seperti pelangi yang tak kunjung bosan mewarnai sepi. Aku mencuri setangkai bunga setiap hari hanya untuk menyimpannya dibawah mejamu. Di deret kedua dari pintu masuk. Lantai pertama sebelah TU. Dan kau tersipu. Ya, itulah yang membuat aku nekat mencuri bunga setiap hari dari pekarangan sebelah karena bagiku senyummu lebih berharga dari apapun. Dan senyummu adalah satu satu nya kebutuhanku yang paling ku mau. 

Kau jadi terbiasa mengecek bawah mejamu dan senyum itu akan tergores sempurna beriringan dengan tanganmu yang mengusap pelan mahkota bunga dan menciumnya mesra. Ah, andai itu aku. Aku akan menciummu dengan benar seperti melipat kado untuk ibu guru di tahun terakhir. Kalau perlu, akan ku pelajari dulu bagaimana cara berciuman dengan benar dan mesra, agar semua orang cemburu, dan yang paling penting agar kau mau menciumku lagi setelah yang pertama berlalu.

Tapi itukan hanya imajinasi. Karena si pangeran akan berontak hebat. Bayangkan saja, kekasihnya mencium bunga pemberian orang lain yang diam-diam menjadi pengagum rahasia. Ah, rahasia apanya, aku mencintainya terang-terangan. Buktinya, aku mencintainya sejujur-jujurnya diriku. Aku mengaku bahwa aku mencintainya, ya walaupun aku hanya baru memberi tau diriku sendiri. Itu sih salah mereka tidak bertanya padaku, jadi tidak ku jawab apa aku mencintainya atau tidak. 

Si pangeran akan berontak. Mendorong meja meja kelas dan mengancam laki laki yang tampan dan terkenal. Kali ini aku selalu bersyukur bahwa wajahku tak setampan dan tak mirip dengan artis mana pun. Aku selalu aman dari lolongan si pangeran. Bodo amat, yang penting kekasihnya senang dengan bunga curian dari pekarangan sebelah.

Begitulah aku setiap hari. Menikmati senyum manisnya yang menusuk nusuk hati. Menikmati debaran yang tak kunjung henti, meski dia bukan milikku bahkan mungkin hingga mati. Begini maksudku, bayangkan saja dia mau dengan laki laki seperti aku. Yang mencuri bunga hanya untuk menyenangkan pujaan hatiku, terlebih dia punya kekasih yang lebih keren dari pada aku. Kekasihnya memang berengsek, tapi setidaknya ia bukan pencuri seperti aku. Meskipun hanya bunga, yang ku petik setiap harinya.

Pikirku begini. Mengapa aku mengungkapkannya saja secara langsung bahwa aku mencintainya. Lalu ku janjikan ia bahwa aku akan menanam banyak bunga di pekarangan rumahnya, dan aku akan bertengkar dengan si pangeran hingga biru biru mewarnai wajahku. Diterima atau tidaknya aku tak jadi masalah, yang penting aku sudah mengungkapkan dan aku bukan pencuri.

Nyata nya, disini lah aku. Masih mencuri bunga dengan rasa takut akan tertangkap sang pemilik pekarangan setiap pagi. Rasa takutku akan kalah oleh keinginanku untuk melihat senyumnya karena bunga bunga curianku ini. Aneh, bunga bunga yang kucuri setiap hari tidak membuat pekarangan ini kehabisan bunga. Jumlah yang seakan tetap sama.

“Adinda. Aku mencintaimu! Bunga dariku setiap pagi menjadi saksi bisu. Ku mohon, jadilah untukku. Untuk bunga yang akan selalu kau cumbu” teriakku hari itu, saat ia baru saja melakukan ritual pagi nya, yaitu mencium bunga pemberianku sambil melukiskan senyum yang menusuk nusuk kanvas hidupku. Semua orang terpana oleh keberanianku, aku tau si pangeran akan segera menghukumku namun jawaban adinda lebih penting dari apapun resiko yang nantinya genting. 
“sialan kamu. Dasar pencuri bunga tak tahu malu! Lalu mengembalikannya ke mejaku seolah kamu ini sang perindu. Asal kamu tau, aku harus menanam kembali bunga bunga ke pekarangan setiap kali pulang sekolah. Aku jadi kehabisan waktu!”

Aku malu. Ku harap ada tinju. Dan si pangeran mengabulkan itu.

Cibinong, 13 Juni 2019
Oleh: Umi Hani Tadzkia

Post a Comment

0 Comments