Melihat Jual Beli Follower Dalam Hukum Islam

Image From : Image Tirto.id

Transaksi jual beli merupakan kegiatan manusia yang selalu berkembang dan tidak menutup kemungkinan adanya jenis jual beli yang baru. Dengan adanya perkembangan alat dan perangkat komunikasi dan informasi yang sedemikian maju, hal ini membuat aktivitas ekonomi semakin variatif dan semakin intens dilakukan. Salah satu bentuk transaksi yang mengalami perkembangan adalah transaksi jual beli follower. Pada saat ini banyak dijumpai generasi milenial yang melakukan transaksi jual beli baik itu follower, di media sosial instagram. Hal tersebut dilakukan dengan berbagai alasan yaitu sebagai sarana promosi bisnis, untuk menaikkan personal branding hingga mempopulerkan diri sendiri. Transaksi yang dilakukan cukup sederhana yaitu dengan memesan follower dengan jumlah yang diinginkannya kepada penjual, lalu penjual akan memberikan pilihan pembayaran. Setelah melakukan pembayaran, penjual akan memproses apa yang dipesan oleh pembeli tersebut. 

Dengan kegiatan transaksi jual beli seperti itu, bagaimanakah hukum jual beli follower dalam islam ? Dalam hal ini jual beli follower dibolehkan dengan memenuhi kriteria berikut, yaitu peruntukkannya halal dan tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan, cara penjual mendapatkan pengikut halal, legal, dan tidak ada unsur-unsur terlarang, waktu penyerahan dan manfaat yang jelas, serta bisa diserahkanterimakan. Kesimpulan ini berdasarkan telaah terhadap data-data dan dokumen seputar jual beli pengikut, wawancara dengan pelaku pebisnis pengikut, serta telaah terhadap kaidah-kaidah fikih muamalah dalam fatwa dan literatur (Sahroni, 2018).

Proses pembelian follower tergolong mudah, pembeli hanya perlu memberikan username tanpa kode sandi dan dapat diproses selama waktu yang disepakati. Di antara fenomena bisnis ini, biasanya penjual mempunyai banyak akun, bisa me-like, follow dalam jumlah yang banyak, atau karena mempunyai sistem komputer otomatis (software) untuk mengarahkan follower menjadi banyak.
Ada 3 (tiga)  hal yang patut kita tahu agar jual beli follower sesuai dengan kaidah jual beli islam (syariah): Pertama, dimana peruntukannya halal dan legal. Tidak diperbolehkan untuk tujuan yang tidak halal atau bertentangan dengan syariat islam, seperti menggunakan follower tersebut untuk melakukan rekayasa dalam permintaan pasar, di mana penjual (yang tidak siap berkompetisi dengan produk-produk yang dijualnya) menggunakannya untuk memanipulasi pasar bahwa produknya itu digemari sehingga penjual dapat memberikan harga tinggi kepada calon pembeli.

Transaksi ini tidak halal sebagaimana hadis Rasulullah SAW: Dari Ibnu Umar RA, "Sesungguhnya Rasulullah SAW melarang melakukan najasy (penawaran palsu).” (HR Bukhari). Misalnya juga menyebarkan berita tidak benar dalam jual beli, dan memanipulasi data. Hal ini sebagaimana hadis Rasulullah SAW tentang larangan manipulasi.

Kedua, proses mendapatkan follower yang dilakukan oleh penjual dengan cara yang halal dan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Di antara contoh yang dilarang adalah menggunakan akun palsu atau boot dan menggunakan akun orang lain tanpa sepengetahuan atau seizinnya karena itu berarti menggunakan hak orang lain secara batil. 

Itu merupakan hal terlarang sesuai dengan firman Allah SWT: "Hai orang yang beriman! Janganlah kalian memakan (mengambil) harta orang lain secara batil kecuali jika berupa perdagangan yang dilandasi atas sukarela di antara kalian …." (QS al-Nisa': 29). Dan sebagimana hadis Rasulullah SAW: "Janganlah kamu menjual sesuatu yang tidak ada padamu." (HR Tirmidzi).

Ketiga, jika transaksi ini menggunakan jual jasa (ijarah) atau bisa dibilang jual beli manfaat atas jasa follower yang diberikan. Maka manfaat yang diperjual belikan harus jelas kualitas dan kuantitasnya beserta waktu penyerahannya dan bisa diserahterimakan. Oleh karena itu, saat jual beli harus jelas berapa banyak follower yang akan bertambah, seberapa lama jangka waktu jual beli dari mulai transasi sampai follower bertambah dan terakhir berapa harga yang disepakati oleh pembeli atau penjual. Jika syarat ini tidak dilakukan maka tidak diperkenankan karena ada unsur gharar yang dilarang sebagaimana disebutkan dalam hadis: "Rasulullah SAW melarang jual beli yang mengandung gharar." (HR Muslim). Gharar yang dimaksud adalah adanya ketidakjelasan jual beli yang dilakukan.

Oleh Bambang Tri Atmojo, STEI SEBI

Post a Comment

0 Comments