Prinsip Kesederhaan Dalam Hidup



Seorang muslim di kehidupan dunia ibarat seorang musafir yang berada di tengah jalan lalu bertemu dengan sebuah pohon yang rindang, maka berteduhlah ia di bawah pohon rindang tersebut untuk menghilangkan penatnya sejenak. Apabila penatnya sudah hilang, ia kembali melanjutkan perjalanan menuju tempat yang dituju. Agar perjalanannya nyaman, maka barang yang dibawa sebaiknya seringan mungkin, yang dibutuhkan saja. Demikianlah permisalan hidup di dunia bagi seorang muslim, sebagai tempat singgahan sementara. 

Sebagai seorang khalifah, tentulah Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Umar bin Khattab dapat hidup dengan mewah. Namun dengan penuh kesadaran, Abu Bakar dan Umar memilih hidup sederhana seperti Rasulullah SAW. Karena memang Rasulullah SAW adalah suri tauladan bagi umat islam di muka bumi.

Setelah menjadi khalifah, Umar bin Khattab tidak lagi memiliki waktu untuk berdagang. Padahal, dari berdagang itulah kebutuhan diri dan keluarganya terpenuhi. Maka, suatu hari dia berbicara di depan rakyatnya: “Saudara-saudara, aku telah kalian percaya untuk memangku jabatan sebagai khalifah, sehingga aku tidak lagi dapat mencari nafkah untuk keluargaku. Apakah akan dibiarkan anak istriku telunta-lunta?” 

Para sahabat utama, seperti Ali bin Abi Thalib, Utsman bin Affan dan sahabat yang lainnya terdiam. Merka berpikir keras mencari jalan keluar. Akhirnya, diusulkanlah untuk memberikan imbalan serta tunjangan bagi khalifah yang nilainya sebesar imbalan yang diberikan kepada raja-raja sebagaimana di negeri lainnya. Dana imbalan itu akan diambil dari harta baitul mal. Namun, Ali bin Abi Thalib yang diminta pendapatnya menyatakan keberatan, katanya:”Saya tidak suka bila seorang khalifah hidup berlebihan seperti para kaisar dan raja-raja.”

Mendengar pendapat yang demikian, Khalifah Umar berkata: “Bagus, engkau telah mewakili pendapatku, bagiku tunjangan itu cukup untuk hidup sederhana saja.”

Demikianlah, akhirnya khalifah mendapat tunjangan hidup yang sederhana, sehingga beliau dapat dengan tenang memimpin pemerintahan. Di bawah kepemimpinannya banyak kemajuan yang dicapai, kehidupan rakyat cukup makmur, wilayah kekuaaan Madinah meluas hingga Mesir. Pendapatan negara pun kian membesar dengan penggalian sumber-sumber penghasilan dari berbagai pajak, zakat, serat perdagangan antarnegara. Namun, meski demikian, kehidupan Khalifah dan keluarganya amat sangat sederhana bila dibandingkan dengan kepala negara lain yang berkunjung ke Madinah. Maka, para sahabat utama seperti Ali bin Abi Thalib dan Ustman bin Affan mengusulkan agar tunjangan khalifah dinaikkan dua kali lipat. Apalagi Ustman sering kali berhubungan dengan para utusan mancanegara yang serba mewah.

Namun, karena kesibukan khalifah yang menyukai hidup sederhana seperti dua pendahulunya (Nabi Muhammad SAW dan Abu Bakar Ash-Shiddiq), hal tersebut tidak berani diungkapkan kepada Khalifah Umar secara langsung. Alhasil, Hafsah putri Umar sekaligus janda Rasulullah SAW itulah yang dimintai tolong untuk menyampaikan usulan itu kepada ayahnya. Tetapi dengan pesan jangan dikatakan siapa yang mempunyai usulan tersebut.

Ternyata, dugaan para sahabat benar. Amirul Mukminin, Umar bin Khattab marah mendengar usulan yang disampaikan Hafsah tersebut. Dengan menatap Hafsah, Umar bertanya kepadanya: “Hafsah, selama engkau menjadi istri Rasulullah, makanan apa yang biasanya beliau makan?”

Mendengar pertanyaan yang demikian, Hafsah menunduk, matanya berkaca-kaca. Terbayang kembali kehidupan Rasulullah yang amat sederhana. Maka, dengan terbata-bata Hafsah manjawab: “(Beliau Rasulullah SAW biasa memakan) roti tawar yang keras, yang memakannya harus dicelupkan terlebih dahulu di air minumnya.”

Selanjutnya, Umar bertanya lagi: “Hafsah, pakaian apa yang paling mewah yang pernah beliau pakai?
Hafsah semakin menunduk, dengan mata yang semakin berkaca-kaca dia menjawab: “Selembar jubah berwarna merah yang warnanya sudah meluntur. Itulah yang dibangga-banggakannya untuk menerima tamu kerhormatannya.” “Apakah Rasulullah SAW tidur di atas tilam yang empuk?” Tanya Umar lagi.Hafsah menangis dan menjawab: “Tidak. Rasulullah tidur hanya beralaskan selembar selimut tua, yang bila musim panas tiba dilipatnya selimut itu menjadi empat lapis supaya agak nyaman ditiduri. Bila musim dingin tiba, dilipatnya selimut itu menjadi dua lapis, untuk alas dan penutup badannya.”

Setelah mendengar jawaban Hafsah tentang kehidupan Rasulullah SAW, selanjutnya Umar berikrar: “Hafsah, aku, Abu Bakar dan Rasulullah adalah tiga musafir yang menuju cita-cita yang sama. Karena itu harus menempuh jalan yang sama. Musafir pertama, Rasulullah SAW, telah tiba di tempat tujuan sebagai pelopornya. Musafir kedua, Abu Bakar Ash-Shiddiq, telah mengikuti jalannya dengan saksama sehingga dia telah berkumpul bersama musafir yang pertama. Apakah sebagai musafir ketiga, bila aku tidak meniti jalan yang sama dapat bergabung dengan mereka? Tidak Hafsah, katakanlah kepada mereka yang mengusulkan kenaikan gajiku itu, bahwa Umar bin Khattab lebih memilih berkecukupan di akhirat daripada bermewah-mewah dalam fatamorgana (kehidupan dunia yang sementara).” 

Apa yang diikrarkan Umar bin Khattab sejalan dengan firman Allah SWT dalam QS. Al-Ankabut [29]: 64 yang artinya : “Dan tiadalah kehidupan ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya (negeri) akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.”

Dan, Khaifah Umar bin Khattab telah memilih akhirat dibandingkan dengan kemewahan dunia. Karena akhirat itulah kehidupan yang abadi, yang penuh dengan kenikmatan. Itulah Syurga.
-

Post a Comment

0 Comments