Sedikitkan utang agar merdeka

Menghentikan Kebiasaan Berhutang hutang


Diriwayatkan ada seseorang yang mempunyai hak kepada Rasulullah SAW. Namun, orang itu berbicara kasar kepada beliau. Akibatnya, para sahabat yang mendengarnya menjadi gundah. Maka Nabi SAW bersabda: Sesungguhnya pemilik hak itu boleh berkata apa saja.” Selanjutnya beliau berkata: “Belikanlah seekor unta, lalu berikanlah kepadanya.”

Selanjutnya, setelah mendapatkan unta, para sahabat berkata: “Kami tidak mendapatkan apa-apa kecuali unta yang lebih baik daripada untanya (yang dipinjam Rasul).” Lalu beliau bersabda lagi: “Belikanlah dan berikanlah (unta yang lebih baik) kepadanya, karena sesungguhnya orang yang paling baik diantara kamu adalah orang yang paling baik ketika membayar utang.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam hadits yang lain Rasulullah SAW bersabda:

Sedikitkan utang agar engkau merdeka. Dan menunda pembayaran utang bagi orang mampu adalah sebuah kezaliman. (HR. Bukhari dan Muslim)

Dua hadits Rasul di atas menggambarkan bahwa berutang akan menyebabkan kita menjadi kurang merdeka. Oleh karena itu, berutang bagi seorang muslim harus senantiasa dihindari, kecuali dengan amat terpaksa. Dan menjadi jalan terakhir apabila benar-benar terpaksa, setelah usahanya gagal. Porsi kebutuhan di kemudian hari pun akan menjadi berkurang dikarenakan ada beban utang yang harus dibayarkan.

Sebaiknya pula bagi seseorang yang ingin memulai usaha, memulai bisnis, atau memulai berdagang boleh untuk berutang apabila usaha yang dilakukan yakin akan memperoleh manfaat yang pasti, sehingga utang tersebut dapat dikembalikan pada waktunya. Sebaliknya, kepada mereka yang memiliki modal (pemberi utang), Rasulullah SAW berpesan agar bersikap murah hati dalam menagih utang. Beliau bersabda:

Allah mengasihi mereka yang bermurah hati ketika menjual, membeli, dan menagih utang.” (HR. Bukhari)
Sedangkan terhadap mereka yang berutang tetapi tidak berusaha untuk membayarnya, beliau berkata: “Siapa saja orang yang berutang, sedang dia sengaja untuk tidak membayarnya, maka dia akan bertemu dengan Allah kelak (pada hari iamat) sebagai pencuri.” (HR. Ibnu Majah dan Baihaqi)

Naudzubillah. Sungguh, tidak ada seorang pun yang ingin bertemu dengan Allah SWT kelak dalam keadaan terburuk, bukan? Maka menjadi sebuah kewajiban pula bagi keluarga yang ditinggalkan untuk melunasi perihal utang-piutang sebelum melaksanakan wasiat atau membagikan harta warisan. Karena hal itulah yang akan meringkannya ketika di alam kubur.

(cari ayat atau hadits yang berkenaan dengan keutamaan melunasi hutang sebelum melaksanakan wasiat atau membagi harta warisan)
Satu kali , gagal. Dua kali, gagal. Tiga kali, gagal. Barulah pada percobaan ke-1001 Thomas Edison menemukan lampu pijar. Pun dengan Islam yang menyadari bahwa setiap usaha tidak selalu langsung membuahkan hasil. Oleh karena itu, hidup hemat, menabung dan memaafkan mereka yang terkena musibah harus benar-benar dilaksanakan. Berdasar dengan alasan itu, maka Rasulullah SAW senantiasa berdoa:
Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari perbuatan dosa dan hutang.” Sahabat bertanya: “Ya Rasulullah, mengapa engkau banyak meminta perlindungan dari utang?” Rasul manjawab:”Karena seseorang ketika berutang, apabila berbicara berdusta, apabila berjanji sering ingkar.” (HR. Bukhari)

Semoga kita terhindar dari utang yang memberatkan hingga tak sanggup untuk membayarnya. Semoga kita termasuk hamba Allah yang mencari harta dengan jalan yang halal, membelanjakannya dengan cara sederhana serta hemat, menabungkan kelebihannya untuk di masa sulit dan ketika memiliki hajat. Aamiin. Allahu’alambishowab

Post a Comment

0 Comments