KEMUDAHAN DAN RESIKO KARTU KREDIT SYARIAH

KEMUDAHAN DAN RESIKO KARTU KREDIT SYARIAH

“Dan berikanlah haknya kepada kerabat dekat, juga kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan, dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu secara boros). Sesungguhnya orang-orang yang pemboros itu adalah saudara setan dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhannya.” (QS. Al-Isra [17] : 26-27).

Dengan perkembangnnya zaman yang identik dengan kepraktisannya dalam melakukan sebuah transaksi mendorong pihak perbankan untuk menyediaan berbagai fasilitas untuk memudahkan nasabah dalam melakukan transaksi. Tidak terkecuali dengan dikeluarkannya produk kartu kredit syariah yang tentu saja tujuannya adalah untuk mempermudah nasabah dalam bertransaksi di merchant yang menyediakan penerimaan pembayaran dengan mengunakan kartu kredit syariah.

Maraknya penggunaan kartu kredit dalam suatu transaksi menimbulkan fenomena pada masyarakat yang semakin konsumtif. Hal ini dapat kita lihat melalui perkembangan kartu kredit di Indonesia. Berdasarkan data dari Alat Pembayaran dengan Menggunakan Kartu (APMK), pertumbuhan kartu kredit sangat meningkat. Tercatat hingga April tahun 2016 kartu kredit yang beredar mencapai 16.896.126 kartu. Angka ini mencapai peningkatan sejak tahun 2009, yang saat itu hanya mencapai 12.259.295 kartu.

Selain pertumbuhan kartu kredit konvensional, pertumbuhan ini juga terjadi pada kartu kredit syariah. Menurut Direktur Syariah Banking Bank CIMB “pertumbuhan kartu pembiayaan syariah cukup baik, dilihat dari sisi penambahan jumlah nasabah dan transaksinya. Pada tahun 2017 total jumlah kartu pembiayaan yang beredar sekitar 275.000 keping”.

Kartu Kredit Syariah atau Syariah Card adalah kartu yang berfungsi seperti Kartu Kredit yang hubungan hukum (berdasarkan sistem yang sudah ada) antara para pihak berdasarkan prinsip Syariah sebagaimana diatur dalam fatwa Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia No.54 tahun 2006
Menurut kaidah fiqh “Pada dasarnya, semua bentuk muamalah boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkannya.” Selain itu ada juga kaidah yang menyebutkan bahwa “Kesulitan dapat menarik kemudahan”.

Nah, sekarang mari kita lihat apa saja sih kemudahan yang bisa didapatkan dadri kartu kredit syariah ini?

1. Terhindar dari Debu-Debu Riba
Seperti yang kita ketahui, bahwa riba itu dosa yang berat dan sangat mengerikan, bagaimana tidak? Dosa riba bukan saja untuk pelakunya, akan tetapi semua yang terlibat dalam transaksi itu. Melihat bahwa kartu kredit termasuk transaksi riba, yang status akadnya batil dan diharamkan dalam islam, maka bank syariah mengeluarkan produk kartu kredit syariah. Adapun akad-akad yang digunakan adalah sebagai berikut:

Menurut Fatwa DSN-MUI No.54/DSN-MUI/X/2006 Akad yang digunakan dalam Syariah Card adalah:

a. Kafalah; dalam hal ini Penerbit Kartu adalah penjamin (kafil) bagi Pemegang Kartu terhadap Merchant atas semua kewajiban bayar (dayn) yang timbul dari transaksi antara Pemegang Kartu dengan Merchant, dan/atau penarikan tunai dari selain bank atau ATM bank Penerbit Kartu. Atas pemberian Kafalah, penerbit kartu dapat menerima fee (ujrah kafalah). 

b. Qardh; dalam hal ini Penerbit Kartu adalah pemberi pinjaman (muqridh) kepada Pemegang Kartu (muqtaridh) melalui penarikan tunai dari bank atau ATM bank Penerbit Kartu. 

c. Ijarah; dalam hal ini Penerbit Kartu adalah penyedia jasa sistem pembayaran dan pelayanan terhadap Pemegang Kartu. Atas Ijarah ini, Pemegang Kartu dikenakan membership fee.

2. Sebagai Alat Pembayaran yang Praktis

Karena kartu kredit syariah atau syariah card banyak dibutuhkan oleh masyarakat hanya untuk digunakan sebagai alat pembayaran atau pembiayaan konsumen yang praktis, aman dan fleksibel dalam bertransaksi semata, bukan sebagai komoditi atau produk penghasil keuntungan bagi bank syariah.

3. Adanya Limit Transaksi

Penggunaan kartu kredit syariah pada Bank Syariah telah memberikan batasan dari besaran pembelanjaan atas transaksi yang dilakukan oleh pihak pengguna kartu. Ada batasan maksimal yang telah ditetapkan oleh pihak penerbit kartu bagi nasabah yang akan melakukan transaksi agar nasabah dapat menghindari perilaku konsumtif yang berlebih-lebihan (israf) yang berdampak pada ketidakmampuan nasabah membayar tagihan. 

Selain kemudahan-kemudahan yang dapat kita rasakan, dalam kartu kredit ini juga masih ada resiko yang harus diperhatikan, diantaranya:

1. Mudah Berbuat Israf (Perilaku Konsumtif)

Dengan adanya tawaran melalui pemasaran yang dikemas secara apik dan menarik perhatian masyarakat, ditambah kerjasama produsen dan distributor barang dan jasa dengan bank penyedia produk berupa kartu syariah, dapat meningkatkan keinginan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan konsumsinya di luar batas kemampuan dan kebutuhan. Kemudahan akses ke bank dan transaksi secara non-tunai secara cepat dan mudah akan berdampak pada keinginan mendapatkan barang dan jasa secara berlebihan.

2. Tidak Adanya Sistem Kontrol

Dalam produk kartu kredit syariah ini tidak adanya sistem krontrol yang memastikan apakah pemegangnya menggunakan kartu kreditnya untuk membelanjakan barang-barang yang halal saja atau tidak, karena selama ini ketika seorang nasabah menggunakan kartu kredit syariah untuk transaksi dengan cara menggeseknya, maka yang tercatat adalah nama merchant bukan nama item barang yang dibeli. Hal ini menjadikan kartu kredit syariah pada penggunaannya rentan terjadi penyelewengan.

Itulah kelebihan dan resiko dari kartu kredit syariah yang harus kita perhatikan. Berpikirlah terlebih dahulu sebelum melakukan sesuatu, karena itu sesuatu yang penting. Supaya tidak kecewa pada akhirnya.

Post a Comment

0 Comments