REGENERASI SETENGAH HATI

REGENERASI SETENGAH HATI

Entah sudah berapa puluh kali saya mendengar kisah regenerasi setengah hati. Baik langsung maupun tidak langsung. Tentang proses suksesi kepemimpinan perusahaan dari generasi satu ke generasi kedua. Ada yang tidak bisa kita lawan di kehidupan yaitu putaran waktu. Kita tidak bisa menahan putaran jarum jam, kita tidak bisa menghentikan perjalanan waktu.

Konsekuensi dari putaran waktu ini adalah MATI. Iya. Saya dan Anda hanya berjalan menuju kematian. Karena saat kita dilahirkan ke dunia, kita membawa jatah waktu yang misterius jumlahnya. Maka setiap waktu berjalan, sebenarnya kita berjalan menuju kematian. Karyawan menuju kematian, begitu juga owner nya. Owner juga menuju kematian. Tidak ada yang hidup selamanya. Ini yang harus disadari sama-sama. Teramat sering terjadi, generasi pertama bisnis terlambat melakukan regenerasi. Atau bahkan tidak melakukan regenerasi sama sekali. Banyak faktor :

“ saya yang punya perusahaan”
“saya yang merintis ini semua”
“saya yang tanggung jawab kalo ada apa-apa”
“saya yang ngerti perusahaan”
“saya yang dipercaya customer, gak bisa diwakilkan”
Terus saja begitu. Saya, saya… saya…

Akhirnya tidak ada proses regenerasi. Jika pun ada sifatnya setengah hati. Yang pada akhirnya hanya menzalimi generasi kedua yang sebenarnya bisa memiliki kehidupan yang lebih baik ketimbang terjebak dalam ketidak jelasan hidup.

1. Jabatan diberikan, tetapi otoritas tidak ada.
Urutan pertama kezaliman yang bisa dilakukan oleh generasi pertama adalah memberikan jabatan posisi, tapi meng kebiri banyak otoritas. Generasi kedua banyaknya hanya jadi hiasan di jajaran eksekutif, tetapi keputusan anggaran, belajan, pengangkatan SDM, sampai strategi lapangan yang kecil-kecil adalah hak papa mama yang katanya duduk di “KOMISARIS”

Sikap ini bisa difahami. Terkadang generasi kedua belum siap. Tidak setekun generasi pertama. Kemampuannya berbeda. Tetapi mau sampe kapan? Jika generasi pertama, anda harus memilih apakah perusahaan kemudian dilanjutkan oleh darah keluarga atau SDM professional dilur lingkaran keluarga. Tidak boleh ada kegamangan memilih. Kasihan generasi kedua.

2. Keputusan bisa di veto ditengah jalan,
Hal kedua yang paling sering mengganggu adalah intervensi keputusan, saat keputusan tersebut sudah dilakukan. Sebuah keputusan yang sudah dibuat oleh generasi kedua dengan timn nya bisa diobrak abrik kapan saja. Suka – suka Papa Mama yang punya perusahaan. Akhirnya manajemen tidak punya kepastian, apakan sebuah kebijakan bisa di jalankan atau tidak.

Semua keputusan bisa diubah sewaktu-waktu, tergantung intuisi sang bos. Tanpa perlu melalui mekanisme meeting manajemen yang rigid. Akhirnya perubahan kebijakan teramat cepat. Menggati pemikiran dengan imajinasi memang mudah. Tetapi mengubah gerak teknis manajemen perusahaan tidak bisa serta merta. Banyak elemen yang harus disesuaikan.

3. Babak belurnya kehormatan
Wajar jika mayoritas SDM menghormati generasi pertama. Beliau yang memulai. Beliau yang merintis. Beliau yang berhasil tekun berbuat. Maka munculah wibawa dari sang owner di mata karyawannya. Di sinilah muncul loyalitas, kepercayaan, rasa hormat, sehingga, hadirlah ritme kerja yang mendukung tercapainya tujuan. Lalu apa jadinya jika seorang anak yang sedang menduduki jabatan direktur dimaki-maki oleh ayahnya didepan umum. Didepan karyawannya. Didepan manajemennya. Dibodoh-bodohi, diungkap kesalahnnya, kelalaiannya. Apa jadinya?

Bagaimana posisi beliau di mata karyawannya?  Jika sanga pemilik yang katanya sedang proses regenerasi menghantam hal paling prinsipil dalam diri manusia: kehormatan. Akhirnya karyawan berpendapat : “wajar perusahaan down, yang memimpin anaknya bos, gak ngerti apa-apa, di bego-bego in juga sama bapaknya.” Jika ini sudah terjadi, maka bagi saya generasi pertama sedang  membunuh pelan-pelan bisnisnya.

Post a Comment

0 Comments