SOCIOPRENEUR PADA ZAMAN SAHABAT NABI


Thomas W. Zimmerer (1996;51) mengungkapkan bahwa kewirausahaan merupakan proses penerapan kreativitas dan inovasi untuk memecahkan masalah dan mencari peluang yang dihadapi setiap orang dalam kehidupan sehari-hari. Inti dari kewirausahaan adalah kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda melalui pemikiran kreatif dan tindakan inovatif demi terciptanya peluang.

Seiring dengan berkembangnya zaman, ilmu bisnispun mengalami perkembangan. Salah satu perkembangan itu adalah ilmu tentang sociopreneur. Endy J Kurniawan (owner salma dinar), mengidentifikasi sociopreneur sebagai enterpreneur yang care terhadap sosial development dan menjadikan social asset-nya sebagai aktivitas marketing produknya, misalnya pemberdayaan komunitas, CSR (corporate social responsibility) dengan fokus nonprofit, bisnis itu adalah impactnya. Sociopreneur merupakan enterpreneur yang bukan hanya melakukan bisnis semata, melainkan enterpreneur yang juga memandang manfaat sosial dari bisnis yang ia lakukan.

Teori sociopreneur memang baru muncul di zaman modern seperti saat ini. Tetapi kenyataanya, ilmu sociopreneur sudah ada sejak zaman para sahabat. Dimana saat itu banyak sahabat nabi yang menjadi seorang enterpreneur. Salah satu dari banyaknya sahabat yang menjadi enterpreneur adalah Utsman bin Affan. Utsman bin affan dikenal sebagai saudagar yang kaya dan sangat dermawan. Beliau adalah seorang pedagang kain yang kaya raya, juga memiliki kekayaan ternak lebih banyak dari pada orang arab lainnya pada saat itu.

Berbisnis dengan Allah tidak akan pernah membawa kerugian. Sebagai contoh, ketika kota madinah dilanda panceklik sehingga kesulitan mendapatkan air bersih. Satu-satunya yang tersisa adalah sumur milik seorang yahudi yang bernama sumur Raumah. Umat muslim dan penduduk madinah harus mengantri untuk membeli air bersih dari sumur yahudi tersebut. Rasulullah SAW menghimbau agar ada dari kaum muslim untuk membebaskan sumur tersebut. Setelah mendengar perintah Rasulullah SAW, Utsman bin affan tergerak hatinya untuk membebaskan sumur yahudi. Utsman bin affan pun mendatangi orang yahudi tersebut untuk bernegosiasi. Utsman menawarkan harga yang sangat tinggi untuk membeli sumur sang yahudi. sang yahudi menolak tawaran utsman karena hanya dari sumur itulah sumber penghasilan sang yahudi. disinilah kecerdikan negosiasi bisnis utsman bin affan yang menunjukan bahwa utsman bin affan adalah enterpreneur sejati. Utsman bin affan pun menawarkan kepada sang yahudi untuk membeli sumur tersebur dengan setengah harga dengan sistem kepemilikan bergantian per-hari.

Sang yahudi menerima tawaran utsman bin affan. Dia berfikir dengan sistem seperti ini, ia bisa mendapatkan uang yang banyak sekaligus ia tidak kehilangan sumur miliknya. Hari pertama sumur tersebut disepakati milik utsman, kemudian beliau mengumumkan kepada penduduk madinah bagi siapa yang mau mengambil air di sumur raumah tersebut dan mempersilahkan nya secara gratis, juga mengingatkan agar mereka yang mengambil air bisa mengambil dalam jumlah yang cukup untuk 2 hari karena keesokan nya sumur tersebut akan menjadi milik yahudi. keesokan harinya, si yahudi mendapati sumur miliknya sepi dari pembeli karena penduduk madinah masih mendapati air yang cukup. Sang yahudi pun mendatangi utsman bin affan dan memintanya untuk membeli kembali setengah kepemilikan sumur raumah. Utsman bin affan pun membelinya sehingga kepemilikan sumur raumah tersebut menjadi sepenuhnya milik utsman bin affan. Umat muslim pun secara bebas bisa menggunakan sumur raumah untuk memenuhi kebutuhanya.

Setelah beberapa waktu kemudian, banyak tumbuh pohon kurma disekitar sumur tersebut dengan jumlah yang  terus bertambah setiap harinya dan dipelihara oleh Bani utsmaniyah, lalu disusul pemeliharaannya oleh pemerintah arab saudi. Dari hasil panen yang didapatkan dari kebun kurma pemerintah arab saudi menjual hasil kebun kurma tersebut ke pasar – pasar. Setengah dari  keuntungan yang diperoleh diperuntukan untuk anak yatim dan fakir miskin, setengah nya lagi disimpan dalam bentuk rekening di salah satu bank atas nama Utsman bin affan.

Dari hasil tabungan tersebut dipergunakan untuk pembangunan hotel di dekat Masjid Nabawi dengan omzet yang dihasilkan sekitar 50 juta setiap tahunnya. Kemudian setengah keuntungan yang didapat diperuntukan untuk anak yatim dan fakir miskin dan setengahnya lagi di tabung di rekening.

Dari kisah ini bisa kita lihat bahwa sahabat, utsman bin affan bukan hanya seorang enterpreneur. Bisnis yang utsman bin affan lakukan bukan hanya sekedar untuk mendapatkan keuntungan, tetapi bisnis yang utsman bin affan lakukan juga berdampak terhadap kesejahteraan penduduk madinah.

Artikel by : Ripa Syamrotul Puadah

Post a comment

0 Comments