Penerapan Zakat di Sudan yang Berhasil Mengurangi Kemiskinan

Penerapan Zakat di Sudan yang Berhasil Mengurangi Kemiskinan

Permasalahan ekonomi sering kali berdampak negatif terhadap kehidupan sosial masyarakat seperti, kemiskinan dan pengangguran. Kemiskinan merupakan permasalahan bagi setiap negara, golongan, sampai pada masing-masing individu. Zakat sangatlah mungkin menjadi alternatif program pemerintah sebagai sumber dana untuk mengatasi kemiskinan (Anwar, 2018). 

Zakat merupakan rukun islam yang ketiga yang wajib diamalkan oleh setiap muslim. Mengenai hakikat zakat, Al-Ghazali menyebutkan ada tiga hal yakni (1) sebagai ujian derajat kecintaan kepada Allah SWT, (2) pembersihan dari sifat bakhil dan (3) pengungkapan rasa syukur (Nurjanah, 2014).

Menurut Yusuf Qardhawi zakat adalah salah satu elemen peretas kemiskinan, dan hal tersebut dibuktikan oleh Negara Sudan yang berhasil mengurang tingkat kemiskinan dengn zakat. Menurut (BI, 2016) dalam buku yang berjudul pengelolaan zakat yang efektif terdapat Negara Sudan yang mewajibkan pembayaran zakat bagi warganya dan berhasil menjadikan zakat sebagai salah satu alat pemberantas kemiskinan.

Sudan adalah negara yang terletak di Timur Laut Benua Afrika dengan garis pantai sepanjang 853 km yang menghadap Laut Merah. Dengan luas 1.886.068 km persegi, Sudan merupakan negara terbesar ketiga di Benua Afrika. 

Dalam sejarah Sudan, zakat pertama kali dikelola oleh negara pada masa kerajaan Mahdia pada tahun 1884 hingga berakhir dinasti tersebut pada tahun 1898. Sejak runtuhnya dinasti tersebut, pengumpulan zakat dilakukan secara individu dan penyalurannya langsung diserahkan ke orang yang membutuhkan.

Pada tahun 1984 dikeluarkanlah Undang-Undang Zakat 1404 dimana kewajiban mengelola zakat merupakan tanggung jawab negara melalui Direktorat Pajak, meskipun masih bersifat sukarela. Uniknya, pada masa itu tarif pajak yang dikenakan kepada non muslim sama dengan tarif zakat. 
Pada tahun 1986 pemerintah Sudan mewajibkan pembayaran zakat dengan dikeluarkan UU Zakat nomor 1406 da lahirnya Dewan Zakat yang idnependen yang langsung bertanggung jawab kepada Presiden yang berhubuungan langsung dengan Kementrian Sosial. Dewan Zakat yang dibentuk masing-masing daerah berhasil menghimpun dana zakat yang langsung didistribusikan di wilayah masing-masing. Namun hal tersebut dinilai belum signifikan, karena belum ada sanksi bagi yang tidak menunaikan. 

Barulah pada tahun 1990 pemerintah Sudan mengeluarkan UU Zakat 1410 yang dengan tegas mengeluarkan sanksi bagi yag tidak membayar zakat yaitu denda maksimal dua kali lipat dari zakat yang harus dibayarkan atau hukuman satu tahun penjara.

Selain itu, pemerintah Sudan juga mengeluarkan Zakat Act 2001 yang membahas seluruh aspek zakat secara detail, salah satunya zakat penghasilan yang dibedakan antara zakat atas upah dan zakat atas gaji. Pada tahun 2003 jumlah zakat yang diperoleh mencapai 19,2 miliar sudan atau meningkat 690 kali lipat dari tahun 1990 yaitu 27,8 juta sudan. Dan pada tahun 2008 dana zakat yang terhimpun mencapai 128 juta dollar AS. 

Beberapa karakter utama regulasi zakat di Sudan mengatur beberapa hal, antara lain :
  1. Perluasan kategri harta yang wajib dizakati seperti hasil sewa dan profesi.
  2. Kewajiban membayar zakat bagi warga negara Sudan yang beragama Islam, baik sedang berada di Sudan maupun diluar Sudan.
  3. Penerapan sanksi bagi yang tidak mau membayar zakat
  4. Penghimpunan zakat dan pajak dilakukan di satu atap, dan distribusi zakat didelegasikan kepada Departemen Keuangan dan Perencanaan Ekonomi Nasional.

Pengelolaan Zakat di Sudan telah banyak membantu kondisi fiska; negara. Salah satunya dalah keberanian pemerintah memberikan pendidikan dari tingkat dasar sampai menengah keatas secara gratis. Di bidang kesehatan, Sudan juga telah menggratiskan biaya berobat kepada seluruh warganya.
Pada tahun 2013, sebagian zakat yang terhimpun dari sektor perdangan dan pertanian, rata-rata masing-masing 45% dan 39 %, sedangkan zakat peternakan menyumbang 7%, zakat profesi menyumbag 5% dan zakat atas mineral dan tambang menyumbang 1,4%.

Artikel Oleh : Rahma Nufaisa

Post a Comment

0 Comments