Covid-19 Melebarkan Dampak Perilaku Konsumtif Terhadap Masyarakat


Pada 2018, Badan Amal Inggris Charities Aid Foundation (CAF) menetapkan Indonesia sebagai negara dengan tingkat kedermawanan paling tinggi sedunia, disusul Australia di peringkat dan Selandia Baru. Banyaknya permasalahan yang ditimbukan oleh penyebaran Covid-19 di Indonesia membuat banyak orang bergerak dan bergotong royong membantu. Terdapat banyak platform kedemawanan yang bisa menjadi penyalur donasi. 

Sebagai contoh Dompet Dhuafa, Baznas dan masih banyak gerakan mencegah coron yang memiliki banyak program serta alternatif penyaluran donasi, antara lain kampanye APD untuk tenaga medis, sembako untuk Masyarakat dan lain sebagainya. Ada pula platform kitabisa.com yang sudah sangat familiar dan mudah digunakan untuk saling membantu.

Ada berbgai program lawan corona yang dikampanyekan masyarakat sipil, sebut saja Nutrisi Garda Terdepan, Kado untuk Pahlawan, dan lain sebagainya.  Banyak perusahaan yang membantu yang turut membantu, bahkan menggratiskan program mereka agar masyarakt tidak jenuh dan tetap produktif di rumah. Akan ada banyak tangan yang tergerak jika digerakkan dengan kebijakan yang tepat.

Perlu diperhatikan bahwa hari-hari ini kita digiring menjadi pribadi yang konsumtif yang mana banyak dari kita mendahulukan need dari pada want, contohnya dengan penggunaan masker kita seperti sedang melihat orang menyerbu makanan siap saji tengah kelaparan orang seakan tidak memikirkan bagaimana untuk membeli sesuai kebutuhannya. Perlu di garis bawahi bahwa perilaku konsumsi hari ini sangat tidak mencapai tujuan ekonomi islam, yaitu : mashlahah.

Sangat perlu menjadi pertimbangan konsumsi ditengah kelangkaan yang melanda dan pendapatan yang berkurang memilih konsumsi apa yang tepat guna dan mendatangkan mashlahah dan jangan pernah berfikir bahwa yang hanya membutuhkan dirimu sendiri perhatikan orang di sekeliling.

Merebaknya virus corona berdampak besar tidak hanya dalam bidang kesehatan, tetapi juga berdampak pada perekonomian, termasuk pada kegiatan ekonomi yang berhubungan dengan proses pembelian barang atau jasa. Aktvitas masyarakat menjadi lebih terbatas, bahkan aktivitas berbelanja juga banyak dilakukan dari rumah, melalui belanja online. Peluang ini tidak disia-siakna oleh perusahaan e-commerce atau biasa disebut juga online shop.

Tawaran menarik dari online shop ini di satu sisi sangat memudahkan, menguntungkan, dan sangat membantu konsumen yang perlu berbelanja namun tetap ikut aturan untuk tinggal di rumah. Konsumen tidak perlu bingung bagaimana berbelanja, cukup klik saja barang akan sampai di depan rumah. Cara pengiriman cepat, dan dibuat seaman mungkin. Masih ditambah pula dengan embel-embel diskon, cashback, buy one gets on free, dan lain sebagainya.

Namun di sisi lain, berbagai promosi menarik yang ditawarkan dapat membuat kita selaku konsumen menjadi “gelap mata” sehingga menjadi konsumtif, belanja berlebihan, diluar batas kebutuhan.

Perilaku konsumtif merupakan salah satu bentuk ketidaknormalan perilaku konsumsi yang tentunya harus dikurangi bahkan sebisa mungkin dihindari, terutama oleh orang-orang dengan kemampuan finansial biasa-biasa saja. Namun kenyataannya, seringkali orang-orang yang berperilaku konsumtif sampai harus terjebak hutang demi menutupi gaya hidupnya, harus berurusan dengan pihak penagih hutang, terjebak dalam gaya hidup materialistis dan hedonism sehingga menghalakan segala cara untuk mendapatkan uang.

Meskipun tidak dapat dipungkiri bahwa perilaku konsumtif secara ekonomi juga membantu menggerakkan perekonomian, antara lain menambah pemasukan pajak, membuka dan mempertahankan lapangan pekerjaan, menciptakan pasar bagi para produsen barang, dan memperbesar peluang usaha baru.

Namun sebagai konsumen, tentunya kita harus lebih bijaksana agar tidak terjebak dalam perilaku konsumtif. Jangan sampai ketika suatu saat virus Corona mereda, munculah virus baru yang bernama virus konsumtif. Jadi, mari bekerja dari rumah, belajar dari rumah, beribadah dari rumah dan berbelanja bijaksana dari rumah sesuai kaidah mashlahah bersama.

Oleh : Arsha Nurma Dewi

Post a Comment

0 Comments