DAMPAK PANDEMI CORONA BAGI PEDAGANG KECIL

Diawal tahun 2020 ini Indonesia dihantam oleh wabah virus corona, tidak hanya menyerang kesehatan manusia wabah ini juga menghantam berbagai sendi perekonomian. Penyebaran virus yang sangat cepat ini menyebabkan semua aktivitas diluar rumah dikurangi bahkan ditiadakan. Akhirnya pemerintah pun menerapkan sosial distancing (jarak sosial) dengan harapan untuk memutuskan rantai penularan virus tersebut dan dalam kadar ekstrem melakukan langkah lockdown akan berdampak pada perlambatan aktivitas ekonomi (supply and demand). Risiko terganggunya sektor ekonomi yang dapat terjadi sewaktu-waktu harus mulai disadari oleh pemerintah dengan memetakan potensi sub-sektor yang terdampak dan pengambilan alternatif kebijakan yang tepat.



Dengan keadaan seperti ini yang entah sampai kapan berakhirnya wabah virus corona menjadikan masyarakat kecil khawatir akan kebutuhan pangan. Mungkin kebijakan untuk tetap “dirumah aja” tidak berpengaruh bagi para karyawan diperusaahan tertentu yang diberikan kompensasi atau diberikan kemudahan untuk WFH (work from home), lantas bagaimana nasibnya para pekerja harian seperti ojek online, pedagang keliling, dan lainnya. Kasus ini terjadi dikota kota besar dan sudah ditetapkan sebagai zona merah. Apakah sama kondisinya pada masyarakat daerah?

Berhubung saya tinggal didaerah tepatnya dikabupaten lampung tengah provinsi lampung. Saya telah melakukan survei dan mengunjungi pedagang nasi uduk didekat rumah saya. pemilik dagangan tersebut adalah Bi Parmi itulah nama panggilan akrab dari tetangga sekitar. Bi Parmi hidup sebatang kara, usianya sudah 50 tahun lebih dan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dia biasa berjualan ba’da subuh hingga pukul 8 pagi. Pelanggannya setianya adalah pelajar sekolah dari SD, SMP dan SMA untuk bekal makanan. Dan target penjualan perhari memang tidak terlalu banyak hanya 20 porsi saja perhari. Ditengah wabah corona ini Bi Parmi harus berjualan hingga jam 9 pagi atau lebih 1 jam dari kondisi sebelumnya untuk menghabiskan seluruh dagangannya,”saya biasa jual sampe jam 8 itu udah abis semua mas, tapi sekarang gara gara sekolah pada libur penjualan jadi menurun mas”,kata Bi Parmi ketika saya menanyakan tentang hasil penjualan.

Ternyata imbas wabah corona ini disektor ekonomi berlaku juga didaerah daerah walaupun tidak se ekstrim dikota kota besar yang sudah ditetapkan sebagai zona merah. Nah sebagai langkah yang harus dilakukan bagi pedagang atau umkm lainnya untuk bertahan agar penjualan tidak semakin terus menurun ialah dengan memberikan layanan antar, dengan demikian pelanggan tetap bisa membeli tanpa harus keluar rumah dan target penjualan pun akan terselamatkan.

Oleh : Faqih Abdurrahman Fathin

Post a comment

0 Comments