PANDEMI MERAJALELA, MASYARAKAT MERANA??

Ditengah maraknya penyebaran covid-19, tidak sedikit masyarakat yang merasakan kesulitan. Terutama dalam hal ekonomi. Sudah hampir seluruh wilayah Indonesia terkena dampaknya sehingga disetiap daerah harus menerapkan lockdown. Sangat mengkhawatirkan, ketika negara harus melakukan lockdown untuk sementara waktu. Dampak perekonomian bagi kelompok menengah ke bawah akan sangat besar. Ekonomi mereka yang setiap harinya hanya ditopang oleh pendapatan pada hari itu juga. Pemasukan menjadi sangat rentan karena ketika mereka tidak bekerja, maka pendapatan mereka juga tidak ada. 



Dampak itu terasa bukan hanya di daerah perkotaan saja, di daerah pedesaan juga sangat amat terasa. Sejak diputuskannya perintah untuk melockdown daerah masing2, saat itulah pintu akses satu-satunya menuju desa Trans Aliaga, Padang Lawas, Sumatera Utara ditutup. Tidak diperbolehkan masyarakat luar untuk masuk, begitupun masyarakat dalam tidak diperbolehkan untuk keluar. Sehingga memutuskan untuk menutup pasar yang ada di pedesaan tersebut, karena semua pedagang berasal dari luar daerah. 

Bagaimana kondisi perdagangan di daerah tersebut? Salah satu pedagang kecil di daerah tersebut bernama Bi Ani. Beliau berjualan sembako,sayuran,dan makanan-makanan ringan. Bi Ani biasa membeli dagangannya dari pasar. Karena pasar di tiadakan, Bi Ani mulai kesulitan, ditambah lagi makanan-makanan yang biasa beliau buat dan jual mulai sedikit pembeli, dikarenakan semakin banyak orang yang ikut berjualan makanan untuk memenuhi perekonomian mereka. Mereka menjual makanan melalui online, dan siap antar. Sedangkan Bi Ani yang sudah berumur 55 tahun tidak paham menggunakan media sosial. Saya sedikit berbincang kepada beliau, dan beliau mengatakan “saya sekarang bingung mau jualan apa,bahan-bahan udah mulai habis,dagang makanan juga gak laku, orang-orang pada gak keluar rumah, tinggal duduk diam dirumah, pesan makanan langsung sampai”.

Saya berinisiatif membantu Bi Ani dengan cara meng-online kan dagangan beliau, memposting dagangan makanan ringan yang beliau buat sendiri. Saya juga membantu beliau menanam sayuran dari stok lama yang masih tersisa, yang mana nantinya sayuran tersebut dapat dijual kembali. Dan Alhamdulillah sekarang keuangan beliau tidak seburuk sebelumnya. Mungkin sedikit hal yang dapat saya sharing kepada teman-teman semua, bahwa masih banyak orang-orang yang membutuhkan bantuan. Mungkin tidak berupa materi, tapi bisa juga berupa ide dan usaha.

“Belas kasihan mengikat kita satu sama lain. Bukan karena rasa kasihan, tetapi sebagai manusia yang belajar bagaimana mengubah penderitaan menjadi harapan untuk hari esok”.

Oleh : Diah Nurmakfiroh

Post a comment

0 Comments