SEBERAPA EFEKTIF WORK FROM HOME ?

Ditengah maraknya wabah covid-19 ini pemerintah menganjurkan untuk para pekerja untuk melakukan work from home. Kebijakan tersebut dilakukan agar orang-orang tidak lagi keluar rumah sehingga penyebaran virus corona bisa diantisipasi. Berdasarkan fakta, virus corona dapat dengan mudah tersebar karena adanya interaksi. Interaksi tersebut bisa melalui kontak fisik ataupun kontak dengan benda-benda yang ada di sekitar. Sehingga untuk mengurangi meluasnya penyebaran virus tersebut masyarakat harus melakukan social distancing yang kemudian memunculkan kebijakan work from home. Tetapi kondisi work from home seringkali membuat orang menjadi mager alias malas melakukan aktivitas. Bawaannya pengen rebahan terus.


Bagaimana kondisi karyawan saat diterapkannya WFH? Sebagian orang beranggapan bahwa WFH dapat menyebabkan burnout. Burnout dapat didefinisikan dengan tiga hal yaitu merasa kehabisan energi, meningkatnya jarak mental seseorang terhadap pekerjaannya, dan perasaan negatif atau sinis terhadap pekerjaan yang dilakukan. Artinya seseorang dapat dikatakan burnout bila ia mulai merasa tertekan secara mental dengan mulai menghindari pekerjaannya. Sikap menghindari ini tak hanya sekadar malas tapi menumbuhkan rasa benci terhadap pekerjaan itu sendiri.

Mengapa orang yang bekerja di rumah pun merasakan burnout? Ternyata karena 52% dari mereka justru bekerja di jam yang lebih panjang. Atasan mereka menganggap dengan bekerja di rumah mereka justru lebih santai. Tidak perlu berdesakkan di dalam angkutan umum atau mempersiapkan penampilan rapi karena bisa bekerja di atas tempat tidur dengan laptop. Padahal beban kerjanya tetap sama. Laporan yang dikerjakan tetap menumpuk. Email dan conference call tetap berlangsung silih berganti.Sebanyak 40% pekerja mengaku merasa ditekan untuk berkontribusi lebih. Mereka dianggap bekerja lebih nyaman di rumah sehingga tidak memiliki alasan untuk tidak bekerja lebih banyak.
Cara kerja dari rumah ini cenderung mengakibatkan pegawai tidak termotivasi dan kurang kompetitif. Bagi sebagian orang, melihat orang lain bekerja dikantor adalah sebuah motivasi tersendiri.

Lingkungan dengan situasi yang kompetitif di kantor juga menjadi acuan bagi sebagian orang untuk melangkah lebih maju lagi. Belum lagi hal yang menjadi berat adalah apabila kedekatan seorang pegawai dengan keluarganya juga bisa menjadi gangguan. Hal ini biasanya terjadi karena tidak dipatuhinya agenda jam kerja dirumah yang telah ditetapkan karena justru lebih fokus kepada keluarga. Terlebih jika telah memiliki beberapa orang anak, karena jelas biasanya tidak mungkin mengabaikan mereka begitu saja. Batasan terhadap jam kerja yang tidak dipatuhi membuat akhirnya tidak jarang seseorang lebih banyak menghabiskan waktu untuk anak daripada untuk pekerjaan. Dalam hal ini seseorang yang telah memiliki anak sedari awal harus menyiapkan bahan untuk tetap dekat dengan keluarga/anak tetapi tetap efektif bekerja.

Kita tidak tahu kapan pandemi ini akan berakhir. Karena itu berusaha menerima realita adalah salah satu cara terbaik untuk mempersiapkan mental dalam bekerja dari rumah. Merasa frustasi atau lelah adalah hal yang normal.

Post a comment

0 Comments