KOMUNIKASI ORGANISASI/TIM DALAM PERSPEKTIF ISLAM

Komunikasi Efektif Dalam Al-Qur'an. Selama manusia hidup dalam masyarakat, maka selama itu pula komunikasi memegang peranan penting. Al-Qur'an menyebut komunikasi sebagai salah satu fitrah manusia. Dalam analisa terhadap ayat Al-Qur'an yang memuat masalah komunikasi, ditemukan bahwa Al-Qur'an mempergunakan berbagai kata kunci, diantaranya kata "al-bayan". Al-Syaukani dalam menjelaskan kata kunci "al-bayan" mengartikannya sebagai kemampuan berkomunikasi. Selain itu, kata kunci yang dipergunakan Al-Qur'an untuk berkomunikasi adalah "al-qaul".


Secara historis, komunikasi terlahir dari kreativitas ilmuwan barat yang mendasarkan pada kajian empiris peristiwa yang terkait dengan penyampaian pesan seseorang/ komunikator melalui media simbol-simbol yang dipertukarkan kepada orang lain/ komunikan untuk mencapai tujuan tertentu/ efek. Hal yang senada dengan  definisi komunikasi ini adalah makna dakwah dalam ajaran Islam yang merupakan aktivitas seorang muslim dalam mengajak orang lain dalam menjalankan ajaran Islam rahmtan lil alamin, baik kepada orang Islam sendiri maupun mengajak non-muslim.
Komunikasi Islam berarti memfokuskan pada proses penyampaian pesan dari seorang kepada orang lain melalui beragam media/ saluran  yang bertujuan mencapai kebaikan berdasarkan ajaran Islam rahmatan lil alamin. Mendasarkan pada makna ini, maka konstruksi komunikasi Islam menganut beberapa prinsip penting.

Pertama, prinsip qoulan sadida sebagaimana termaktub dalam QS An Nisa ayat 9 yang dimaknai sebagai perkataan/ pembicaraan yang baik. Kalimat yang baik itu biasanya terkait dengan materi atau isi pesan maupun  tata bahasa yang disampaikan dari satu orang kepada orang lain melalui berbagai media komunikasi. Bagi ilmuwan komunikasi Islam, menjadi tantangan untuk mengkonstruksi materi pesan yang baik agar menjadi catatan amalan yang baik pula.

Kedua, prinsip qaulan ma’rufa yang dijelaskanmaknanya dalam QS. Al-Baqarah ayat 235 dan 263; QS An-Nissa  ayat 5 dan ayat 8, dan QS Al-Ahzab ayat 32. Prinsip ini mengajarkan bahwa pesan yang disampaikan oleh seorang komunikator adalah ujaran yang baik, ungkapan yang sopan-santun, tidak menyakitkan komunikan/ khalayak/ audience, dan teks yang disampaikan itu dapat memberikan manfaat atau kemaslahatan bagi banyak orang.

Ketiga, prinsip qaulan baligha, yang dimaknai sebagai penyampaikan pesan yang lugas, luwes, dan jelas maknanya. Prinsip ini dapat dipahami dari ayat 63 surat An Nisaa. Dalam hal ini, seorang komunikator muslim hendaknya dapat menyampaikan pesan melalui berbagai media, baik media massa maupun media social secara efektif, teks yang digunakan langsung mengenai sasaran, mudah dipahami/ dimengerti, tidak bertele-tele (mbulet).

Keempat, prinsip qaulan karimamerupakan pembicaraan yang mulia karena diiringi dengan bentuk penghormatan kepada sasaran yang dituju (komunikan). Hal ini dapat dimaknai dalam surat Al Isra ayat 23 yang memerintahkan kepada kita agar menyampaikan perkataan yang tidak menyakiti kepada orang tua kita, tidak membentak-bentak. Ini menjadi kewajiban kita dalam berkomunikasi keluarga, yakni dengan orang tua kita.

Kelima, prinsip qaulan maysura dapat dimaknai sebagai pesan komunikasi yang mudah diterima/ diserap, mudah dimengerti, dan mudah dicerna maksud dari pesan yang disampaikan.Sebagaimana disebutkan dalam QS Al Isra ayat 28 yang menyatakan betapa pentingnya menyampaikan ucapan yang mudah dimengerti oleh khalayak, baik disampaikan melalui media maupun secara langsung.
Keenam, prinsip qaulan layina. Prinsip ini dapat dimaknai sebagai perbincangan yang nyaman di dengar, penuh kerendahan sehingga dapat menyentuh perasaan komunikan. Seorang komunikator  memperhitungkan betul agar produk teks pembicaraannya dapat di dengar dengan enak dan masuk ke dalam benak komunikan. Dalam surat Thaha ayat 44 dikisahkan tentang ungkapan Nabi Musa dan Harun kepada Raja Fir’aun yang disampaikan dengan lemah lembut, bukan kasar.

Komunikasi organisasi adalah suatu komunikasi yang terjadi dalam suatu organisasi tertentu. Ciri dari komunikasi organisasi ini adalah berstruktur atau berhirarki. Komunikasi ini mempunyai struktur yang vertikal dan horizontal, dan sebagai akibatnya dapat pula berstruktur keluar organisasi. Struktur yang terakhir ini jika organisasi tersebut melakukan interaksi dengan lingkungannya. Kalau dalam organisasi dikenal istilah adanya struktur formal dan informal maka dalam komunikasinya juga dikenal dengan adanya komunikasi formal dan informal. Komunikasi formal mengikuti jalur hubungan formal yang tergambar dalam susunan atau struktur organisasi. Adapun komunikasi informal atau aras informasinya sesuai dengan kepentingan dan kehendak masing-masing pribadi yang ada dalam organisasi tersebut. Proses hubungan komunikasi informal tidak mengikuti jalur struktural, sehingga bisa saja terjadi seseorang yang mempunyai struktur formal berada dibawah, berkomunikasi dengan seseorang yang berada di tingkat pimpinan. 

1. Fungsi Komunikasi Dalam Organisasi Menurut Sendjaja, dalam organisasi baik yang bersifat komersial maupun yang bersifat sosial proses komunikasi dalam organisasi atau lembaga tersebut harus memiliki empat fungsi yaitu : 

a) Fungsi Informatif Organisasi, dapat dipandang sebagai suatu sistem pemrosesan informasi (information-processing system).

 Maksudnya adalah seluruh karyawan/pegawai dalam suatu organisasi berharap dapat memperoleh informasi yang lebih banyak, lebih baik dan tepak waktu. Informasi yang didapat memungkinkan setiap anggota organisasi dapat melaksanakan pekerjaannya secara bai dan tepat, informasi pada prinsipnya dibutuhkan oleh setiap orang yang memiliki perbedaan posisi dan kedudukan dalam suatu organisasi. Orang-orang tersebut dalam tataran manajemen membutuhkan informasi untuk membuat suatu kebijakan organisasi ataupun untuk upaya mengatasi konflik yang terjadi didalam organisasi, Sedangkan karyawan (bawahan) membutuhkan informasi tentang jaminan keamanan, jaminan sosial dan kesehatan, izin cutí dan sebagainya. 

b) Fungsi regulatif Fungsi regulatif ini berkaitan dengan peraturan-peraturan yang berlaku dalam suatu organisasi. Pada semua lembaga atau organisasi, ada dua hal yang berpengaruh terhadap fungsi regulatif ini, yaitu:

 1) Atasan atau orang-orang yang berada dalam tataran manajemen yaitu mereka yang memiliki kewenangan untuk mengendalikan semua informasi yang disampaikan. Di samping itu mereka juga mempunyai kewenangan untuk memberikan instruksi atau perintah, sehingga dalam struktur organisasi kemungkinan mereka ditempatkan pada lapis atas (position of authority) supaya perintah- perintahnya dilaksanakan sebagaimana semestinya. Namun demikian, sikap bawahan untuk menjalankan perintah banyak bergantung pada : Keabsahan pimpinan dalam penyampaian perintah, Kekuatan pimpinan dalam memberi sanksi, Kepercayaan bawahan terhadap atasan sebagai seorang pemimpin sekaligus sebagai pribadi, Tingkat kredibilitas pesan yang diterima bawahan.

 2) Berkaitan dengan pesan atau message. Pesan-pesan regulatif pada dasarnya berorientasi pada kerja. Artinya, bawahan membutuhkan kepastian peraturan-peraturan tentang pekerjaan yang boleh dan tidak boleh untuk dilaksanakan. 

c) Fungsi Persuasif Dalam mengelola suatu organisasi, baik kekuasaan maupun kewenangan tidak selalu membawa hasil sesuai seperti yang diharapkan. Karena itu, seorang pimpinan harus bisa melakukan persuasi terhadap bawahan dari pada selalu memberikan perintah, sebab pekerjaan yang dilaksanakan secara suka reía oleh karyawan atau pegawai akan menghasilkan kepedulian yang lebih besar bila dibandingkan jika seorang pimpinan sering memperlihatkan kekuasaan ndan kewenangannya. 

d) Fungsi Integratif Setiap organisasi berupaya menyediakan saluran komunikasi yang memungkinkan para karyawan atau pegawai dapat melaksanakan tugas dan pekerjaan dengan baik. Ada dua saluran komunikasi formal seperti penerbitan khusus dalam organisasi tersebut (newsletter, buletin dan lain- lain), dan laporan kemajuan organisasi, juga melalui saluran komunikasi informal seperti percakapan antarpribadi ketika waktu jam istirahat kerja, pertandingan olah raga maupun berupa kegiatan berdarmawisata. Pelaksanaan aktivitas seperti ini akan menumbuhkan keinginan untuk berpartisipasi yang lebih besar dalam diri karyawan terhadap organisasi. 

2. Saluran Komunikasi dalam Organisasi. Saluran komunikasi formal organisasi merupakan saluran komunikasi yang mengalir dalam rantai komando atau rantai tanggung jawab tugas yang telah ditentukan oleh organisasi. Menurut J. L. Gibson, Donnely & Ivancevich, terdapat tiga jenis komunikasi formal dalam organisasi, yaitu: Komunikasi Vertikal, Komunikasi Horizontal (komunikasi lateral/menyamping), dan Komunikasi Diagonal (komunikasi silang).  

Menurut teori organisasi klasik, komunikasi dipandang sebagai alat bagi manajemen untuk melakukan pengawasan terhadap karyawan. Sementara itu, teori organisasi nen-klasik atau teori tradisional dalam komunikasi organisasi memandang komunikasi sebagai proses yang melibatkan pihak manajemen dan karyawan. Dan, teori organisasi modern memandang komunikasi sebagai alat untuk mengintegrasikan organisasi dan hubungan antara subsistem.

Dari cara pandang inilah dapat diketahui keterikatan antara teori organisasi dengan beragam tipe komunikasi yang ada dalam organisasi seperti komunikasi vertikal, komunikasi horisontal, komunikasi diagonal, komunikasi formal, komunikasi informal, komunikasi non verbal, komunikasi verbal atau komunikasi lisan, dan komunikasi tertulis . Hal ini disebabkan teori organisasi tersebut menjelaskan besarnya peran komunikasi dalam organisasi seperti membina dan mengelola hubungan antar anggota organisasi dan hubungan antara organisasi dengan lingkungannya guna mencapai hasil yang maksimal bagi organisasi.

Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya bahwa menurut teori organisasi klasik, komunikasi merupakan alat manajemen untuk mengkomunikasikan pembagian kerja dan melakukan pengawasan. Dan karena itu, pihak manajemen menggunakan saluran komunikasi formal dan vertikal dari atas ke bawah atau downward communication untuk melakukan pembagian kerja dan pengawasan. Sementara itu, menurut teori organisasi transisional, komunikasi tidak hanya digunakan untuk pembagian tugas atau kerja melainkan juga untuk membina hubungan dengan anggota organisasi maupun dengan pihak-pihak di luar organisasi. Karenanya, komunikasi tidak hanya mengalir dari atas ke bawah melainkan juga dari bawah ke atas dan ke samping atau komunikasi horisontal.

Adapun isi komunikasi menurut teori organisasi klasik lebih menitikberatkan pada hal-hal yang berkaitan dengan tugas atau pekerjaan. Sementara itu, menurut pandangan teori transisional, isi komunikasi tidak hanya menekankan pada hal-hal yang berkaitan dengan pekerjaan melainkan juga komunikasi inovasi dan komunikasi sosial. Komunikasi inovasi lebih menitikberatkan pada interaksi tentang bagaimana sebuah pekerjaan dapat diselesaikan dengan  lebih baik. Sedangkan komunikasi sosial dalam organisasi lebih menitikberatkan pada peran komunikasi dalam membina hubungan antar anggota organisasi serta pihak-pihak di luar organisasi.

Tidak sedikit saluran komunikasi dalam organisasi yang digunakan yakni komunikasi tertulis, komunikasi tatap muka, maupun komunikasi bermedia. Dalam teori organisasi klasik, saluran komunikasi yang banyak digunakan dalam organisasi adalah komunikasi tertulis seperti pamflet, memorandum, buku pegangan, surat-surat, pernyataan kebijakan, prosedur, dan penyajian berita secara elektronik. Saluran komunikasi tertulis ini biasanya digunakan untuk menyebarluaskan keputusan-keputusan serta kebijakan-kebijakan yang dibuat oleh organisasi. Karena menyangkut keputusan, kebijakan serta aturan yang dibuat organisasi khususnya pihak manajemen, maka jenis komunikasinya pun berupa komunikasi vertikal dari atas ke bawah dalam bentuk tertulis.

Sementara itu, dalam teori organisasi modern, komunikasi lebih banyak menggunakan saluran komunikasi tatap muka atau komunikasi interpersonal. Saluran komunikasi ini memungkinkan terjadinya umpan balik yang sifatnya segera serta adanya lebih banyak petunjuk nonverbal. Karena itu, komunikasi tatap muka lebih sesuai untuk memuaskan kebutuhan manusia, dalam hal ini pegawai.

Teori-teori organisasi klasik lebih menekankan komunikasi formal sebagai standar profesionalisme dan birokrasi. Hal ini berbanding terbalik dengan teori organisasi modern yang lebih menekankan pada komunikasi informal atau komunikasi nonformal antara manajer dan pegawai. Mengacu pada teori organisasi modern, komunikasi jenis ini tidak hanya bertujuan untuk membentuk efektivitas organisasi melainkan juga untuk memenuhi kebutuhan manusia.

Menurut beberapa teori organisasi yang termasuk dalam teori integratif, efektivitas komunikasi dalam organisasi berkaitan erat dengan tidak hanya apa yang terjadi di dalam organisasi melainkan juga bagaimana suatu organisasi berkomunikasi dengan lingkungannya yakni dengan konsumen atau masyarakat. Dalam arti, efektivitas komunikasi dalam organisasi bergantung pada komunikasi internal dan komunikasi eksternal yang dilakukan oleh organisasi.

Komunikasi merupakan hal penting yang tidak bisa lepas dari seluruh bidang kehidupan. Tiap orang tentu pernah melakukannya, karena pada hakekatnya manusia adalah makhluk sosial yang selalu bergantung pada manusia lain. Sehingga satu-satunya cara dan alat yang digunakan agar tetap bisa saling berhubungan adalah dengan berkomunikasi satu sama lain. Baik itu melalui komunikasi sederhana maupun komunikasi yang tergolong canggih karena proses penyampaiannya melalui saluran yang disebut media massa. Al-Qur'an adalah kitab suci yang diyakini kebenarannya berasal dari Allah. Sebagai sebuah kitab maka Al-Qur'an mengandung berbagai macam bentuk komunikasi. 

Bila ditinjau dari kacamata keilmuan keislaman, Al-Qur'an berisi kabar gembira (basyiran) dan peringatan (nadhiran). Namun bila ditinjau dari ilmu komunikasi, terdapat ayat-ayat Al- Qur'an yang di dalamnya terkandung pula pernyataan yang bersifat kamunikasi juga informasi kepada sesama makhluk hidup sebagai manusia, yang dalam bahasa tersebut terdapat dalam alquran,yaitu Tabayyun. 
Tabayyun tidak hanya sebatas menjadi sebuah sikap, tetapi juga harus menjadi budaya dalam bekerja dan berorganisasi. Sebab keharmonisan, keutuhan dan keterbukaan yang diciptakan dari tabayyun akan meningkatkan produktivitas dan kinerja organisasi. sebagaimana yang telah dijelaskan dalam Al-qur’an surat Annisa’ ayat 94 dan surat Al-Hujarat ayat 6.

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu pergi (berperang) di jalan Allah, maka telitilah dan janganlah kamu mengatakan kepada orang yang mengucapkan "salam" kepadamu: "Kamu bukan seorang mukmin" (lalu kamu membunuhnya), dengan maksud mencari harta benda kehidupan di dunia, karena di sisi Allah ada harta yang banyak. Begitu jugalah keadaan kamu dahulu, lalu Allah menganugerahkan nikmat-Nya atas kamu, maka telitilah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”(An-nisa:94)

Dapat disimpulkan bahwa tabayyun merupakan pemahaman terhadap sesuatu secara teliti. Dalam Al-qur’an, tabayyun disebutkan secara jelas surat An-Nisa’ ayat 94 dan Al-Hujarat ayat 6. Dalam kedua ayat tersebut, tabayyun yang artinya adalah mencari kejelasan hakikat suatu atau kebenaran suatu fakta dengan teliti, seksama dan hati-hati. Turunnya ayat ini untuk mengajarkan kepada kaum muslimin agar berhati-hati dalam menerima berita dan informasi. Sebab informasi sangat menentukan mekanisme pengambilan keputusan, dan bahkan entitas, mekanisme keputusan itu sendiri. Bila melihat fenomena pemberitaan di media populer saat ini, baik cetak maupun elektronik, dalam konteks tabayyun kita berdasarkan surat An-Nisa’ ayat 94 dan Al- Hujarat ayat 6, Allah swt tidak memperintahkan kita agar menolak berita orang fasiq atau menerimanya, karena bisa jadi beritanya benar atau salah. Karenanya wajib diteliti terlebih dahulu agar kita tidak menyesal atas kurangnya kehati-hatian kita. Begitupun dalam komunikasi organisasi alangkah baiknya jika berkomunikasi menggunakan metode tabayyun. 

Post a comment

0 Comments