BAGAIMANA PERKEMBANGAN STANDAR AKUNTANSI PERBANKAN SYARIAH DI INDONESIA?


Industri keuangan syariah memang selalu menjadi objek yang sangat menarik untuk dipelajari dan diulik perkembangannya. Terutama jika kita komparasikan dengan kondisi keuangan konvensional yang lebih dulu populer di masyarakat. Meskipun demikian, perkembangan perbankan syariah di Indonesia pun selalu memberikan kesan yang semakin hari semakin menunjukkan perkembangan yang semakin baik dan mulai dikenal masyarakat secara lebih luas. 

Dilansir dari (https://amp-bareksa-com) bahwa perkembangan market share Aset bank syariah terus mengalami kenaikan hingga mencapai 6,01% pada Oktober 2019. Pencapaian ini, tentunya tidak terlepas dari beberapa hal  yang mendukung peningkatan kinerja bank syariah itu sendiri. Salah satunya yaitu pencatatannya sesuai dengan prinsip syariah atau dikenal dengan istilah Akuntansi Syariah. 

Akuntansi syariah bukan lagi sesuatu yang baru di dalam kehidupan sehari-hari. Prinsip syariah memang sudah merambat di dalam berbagai segi kehidupan. Akuntansi syariah digunakan sebagai tonggak dari pencatatan transaksi, penyusunan laporan sampai pengambilan keputusan untuk perusahaan berbasis syariah. 

Dijelaskan pula  bahwa perintah Allah SWT yang disampaikan melalui Nabi SAW untuk mencatat transaksi yang bersifat tidak tunai dan kewajiban umat Islam untuk membayar zakat dan berimplikasi terhadap munculnya kebutuhan umat Islam untuk mengembangkan dan menerapkan akuntansi. 

Karena itulah, dibutuhkan adanya standar dalam pencatatannya supaya laporan tersebut bisa dipahami oleh seluruh pihak yang bersangkutan baik dari pihak internal dan pihak eksternal seperti investor dan masyarakat. 

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), standar adalah ukuran tertentu yang dipakai sebagai patokan. Jika merujuk pada pencatatan di bank syariah dapat diartikan sebagai suatu patokan yang dipakai untuk membuat laporan keuangan yang dikenal dengan istilah Standar Akuntansi Syariah (SAS). 

Kemudian SAS adalah Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) Syariah yang ditujukan untuk entitas yang melakukan transaksi syariah baik entitas lembaga syariah maupun lembaga non syariah. Pengembangan SAS dilakukan dengan mengikuti model SAK umum namun berbasis syariah dengan mengacu kepada fatwa MUI. 

Studi tentang Akuntansi syariah pada industri perbankan telah berkembang tidak hanya pada perguruan tinggi berbasis Islam saja, akan tetapi pada perguruan tinggi yang umum pun memandang bahwa Akuntansi Syariah sebagai salah satu bidang ilmu yang penting dalam mendukung karier bagi kelulusannya di industri perbankan syariah. 

Berkembangnya sistem akuntansi syariah di Indonesia memang tidak akan pernah terlepas dengan berdirinya lembaga-lembaga keuangan syariah, khususnya Bank Umum Syariah (BUS). Sebelum didirikan, Bank Syariah tentunya membutuhkan beberapa aturan seperti peraturan perbankan syariah, pengawasan, pemahaman terhadap produk-produk syariah yang akan dipraktikan dan tentunya terbebas dari adanya riba. 

Namun pada saat itu, Dewan Standar Akuntansi Syariah Ikatan Akuntan Indonesia (DSAS-IAI) yang berwenang dibidang akuntansi belum mengeluarkan ketentuan PSAK Syariah. Dengan demikian, banyak yang beranggapan bahwa perkembangan standar akuntansi syariah berkorelasi dengan perkembangan perbankan syariah. 

Keberadaan akan pemikiran akuntansi syariah adalah setelah terbentuknya standar akuntansi syariah. Pada tahun 2005, pada saat itu Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) secara resmi telah membentuk Komite Akuntansi Syariah (KAS) dan membentuk PSAK No. 59 tentang Akuntansi Perbankan Syariah dan dasar laporan keuangan syariah. 

Kemudian pada tahun 2010 IAI kembali membentuk Dewan Standar Akuntansi Syariah Ikatan Akuntan Indonesia (DSAK-IAI) untuk menggantikan KAS. KAS ini terdiri dari beberapa unsur antara lain: (1) Dewan Standar Akuntansi Keuangan-Ikatan Akuntan Indonesia (DSAS-IAI), (2) Dewan Syariah Nasional MUI, (3) Bank Indonesia, (4) BAPEPAM, (5) ASBISINDO, (6) AASI dan (7) Akademisi. 

Sementara itu, dalam upaya pengembangan perkembangan syariah di Indonesia didukung secara intensif oleh tiga lembaga sekaligus yaitu : Bank Indonesia, Dewan Syariah Nasional-Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI) dan  Dewan Standar Akuntansi Syariah ikatan Akuntansi Indonesia (DSAS-IAI). 

Standar Akuntansi Keuangan Syariah tidak terlepas dari pesatnya perkembangan ekonomi berbasis syariah yang semakin pesat. Di mana bank Syariah terus menunjukkan eksistensinya dengan menaikkan market sharenya. Dengan demikian, ketika bank syariah mengalami perkembangan maka standarnya pun akan semakin dikembangkan. 

Referensi 
http://iaiglobal.or.id/v03/standar-akuntansi-keuangan/syariah, diakses pada tanggal 25 Juli 2020.
Yaya, Rizal. Dkk. 2016. Akuntansi Perbankan Perbankan Perbankan Syariah:Teori dan praktik Kontemporer. Jakarta. Salemba Empat. 


Oleh : Siti Uswatun Hasanah , Mahasiswi STEI SEBI

Post a comment

0 Comments