Hadirnya Pandemi, Ketidakstabilan Ekonomi Terjadi : Zakat bisa jadi solusi?


Covid-19 sudah membuka banyak mata bahwa keadaan sekarang memerlukan banyak perhatian khusus disegala aspek kehidupan. Wabah yang sedang melanda Indonesia bahkan Dunia ini telah menjadi pusat perhatian. Negara tak henti nya berjuang demi mengembalikan situasi seperti normal kembali. Kehadiran wabah ini telah menghambat di seluruh aspek kehidupan, tak terlepas ekonomi sekalipun. Karenap social distancing menyebabkan pembatasan pada aktivitas manusia, walau sekarang sudah memasuki new normal. Pembatasan di sektor pendidikan, wisata, ekonomi, bahkan para pekerja banyak yang di PHK karena masalah ini. 

Beberapa lembaga riset kredibel dunia memprediksi dampak buruk penyebaran wabah ini terhadap ekonomi global. Untuk Indonesia sendiri, Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati memprediksi pertumbuhan ekonomi dalam skenario terburuk bisa mencapai minus 0,4%. Di antara solusi yang dapat ditawarkan dalam kerangka konsep dan sistem ekonomi dan keuangan dosial Islam adalah zakat.
Kementerian Agama RI menjelaskan zakat adalah harta yang wajib disisihkan oleh seorang muslim atau badan yang dimiliki oleh seorang muslim sesuai dengan ketentuan agaman untuk diberikan kepada yang berhak menerimannya. Berdasar dari pengertian Kementerian Agama RI diatas, bahwa zakat ternyata tidak hanya berlaku pada individu namun juga melekat kewajibannya terhadap badan/lembaga/institusi.

Yusuf Al-Qardhawi (dalam Nawawi, 2010:76) menyatakan bahwa pemerintah Islam diperbolehkan membangun pabrik-pabrikatau perusahaan-perusahaan dari uang zakat untuk kemudian kepemilikan dan keuntungannya digunakan bagi kepentingan fakir miskin,sehingga kebutuhan mereka dapat terpenuhi sepanjang masa.

Pemerintahpun telah mengatur dalam UU. No.23 Tahun 2011 Tentang Pengelolaan Zakat. Dalam UU. No.23 Tahun 2011 tersebut bahwa zakat dapat dikelola oleh Pemerintah maupun masyarakat Muslim. Supaya zakat dapat berfungsi secara optimal maka perlu dipertimbangkan bagaimana cara menghimpun, mendistribusikan serta memberdayakan zakat tersebut supaya seperti yang menjadi tujuannya. Kita dapat melihat dari penjelasan di atas bahwa kita dapat menggunakan zakat sebagai solusi bagi kebermanfaatan masyarakat.

Penyaluran bantuan langsung tunai yang berasal dari zakat, infak dan sedekah, baik yang berasal dari unit-unit pengumpul zakat maupun dari masyarakat. Khusus untuk zakat yang ditunaikan, penyalurannya dapat difokuskan kepada orang miskin yang terdampak COVID-19 secara langsung, sebagai salah satu yang berhak menerimanya (mustahik). Poin ini adalah yang memiliki potensi besar bagi perekonomian masyarakat.

Pada akhirnya, jika program-program di atas, khususnya bantuan langsung tunai, zakat, infak, wakaf, baik untuk masyarakat maupun sektor usaha atau UMKM, betul-betul dapat digalakkan, maka upaya tersebut diharapkan dapat meningkatkan kembali aggregate demand dan aggregate supply ke kanan (dalam kurva demand and supply) diikuti dengan pembangunan pasar daring yang fokus kepada UMKM yang mempertemukan permintaan dan penawaran, sehingga surplus ekonomi terbentuk kembali dan membantu percepatan pemulihan ekonomi.
Zakat dapat dijadikan sebagai salah satu bentuk modal bagi usaha kecil. Dengan demikian, zakat memiliki pengaruh yang sangat besar dalam berbagai hal kehidupan umat, di antaranya adalah pengaruh dalam bidang ekonomi. Pengaruh zakat yang lainnya adalah terjadinya pembagian pendapatan secara adil kepada masyarakat Islam. Dengan kata lain, pengelolaan zakat secara profesional dan produktif dapat ikut membantu perekonomian masyarakat lemah dan membantu pemerintah dalam meningkatkan perekonomian negara.
Daftar Pustaka :
https://www.kemenkeu.go.id
http://www.kemenag.go.id



Oleh: Erianty Putri Rahayu ,
Mahasiswi Manajemen Perbankan Syariah Sekolah Tinggi Ekonomi Islam (STEI) SEBI


Post a comment

0 Comments