PENYIMPANGAN YANG TAK DI SADARI


Ilmu merupakan hal yang sangat penting dan tidak boleh di abaikan dalam kehidupan manusia pada saat ini. Hal ini dikarenakan dengan ilmu manusia mampu mengangkat harkat dan martabat dirinya menuju pada peradaban budaya dan pola pikir yang lebih maju, dinamis, dan ilmiah. Melalui ilmu yang didapat dalam proses pendidikan itu dapat membentuk kepribadian dan akhlak seseorang. Dalam kehidupan sehari-hari akhlak merupakan sesuatu hal yang sangat penting dalam bertingkah laku. Akhlak merupakan salah satu faktor yang dapat diketahui apakah aqidah seseorang itu baik. Dengan akhlak yang baik seseorang tidak akan terpengaruh kepada hal-hal negatif. Dalam Agama Islam akhlak di ajarkan kepada semua pemeluknya agar berguna bagi diri pribadi dan orang lain tentunya

Sebetulnya kita selaku ummat islam tidak perlu mencari-cari contoh siapakah orang yang dapat kita jadikan contoh dalam berakhlak dan beraqidah. Allah swt. Telah menjelaskan dalam Al-Quran bahwa nabi Muhammad adalah sebaik-baik contoh suri tauladan yang harus kita ikuti jejak akhlak dan aqidah beliau. Sebagaimana yang allah abadikan dalam Al-Quran
“sungguh, telah ada pada (diri) rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan yang banyak mengingat Allah” (Q.S Al-Ahzab ayat 21)

 Dari ayat tersebut jelaslah bahwa dalam berkehidupan kita di dunia ini telah ada contoh yang baik yaitu Nabi Muhammad saw yang mana beliau memiliki akhlak yang mulia yaitu berupa penerapan terhadap apa yang telah Allah wahyukan kepadanya yaitu berupa Al-Quran. Sebagaimana yang dijelaskan dalam hadits yang diriwayatkan Ummul Mukminin Aisyah Radhiallahu anhu ketika di Tanya oleh sahabat Hisyam Bin Amir radiallahu anhu tentang bagaimana akhlak Rasulullah, maka Aisyah berkata ;
“bukankah kau sering membaca Al-Quran?” beliau menjawab “ya”, Aisyah berkata : “akhlak Rasulullah adalah Al-Quran” (H.R. Muslim)
Maka dapat di tarik kesimpulan bahwa Jika kita ingin mencontoh perilaku dan akhlak Rasulullah maka kita kembali lagi kepada Al-Quran yang meenjadi pedoman bagi umat manusia

 pada era modern saat ini tidak dapat kita pungkiri perkembangan zaman sangatlah pesat. Baik dari budaya, sosial, teknologi, peradaban, dan lain sebagainya berkembang begitu luar biasa dan itu merupakan sebuah keniscayaan yang tidak dapat kita tolak selaku manusia yang moderat. namun,  anehnya ada beberapa golongan dari umat islam yang menyikapi hal ini dengan hal yang berlebihan. Ada yang beranggapan bahwa perkembangan zaman, dengan perkembangan aqidah, dan perkembangan pembawa Risalah atau Nabi banyak yang beranggapan sampai saat ini masih ada. Padahal Allah dengan tegas berfirman dalam Al-Quran yang artinya
“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki diantar kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup Nabi-Nabi. Dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu”       (QS Al-Ahzab ; 40)

Dari ayat tersebut jelaslah bahwa Rasulullah adalah penutup para nabi. Namun masih banyak orang yang mengaku sebagai nabi dan Rasul setalah Rasulullah terutama di Indonesia.  Tentu hal ini merupakan sebuah permasalahan, karena hal tersebut masuk kepada ranah aqidah yang menyimpang dalam Islam. Dan tidak dapat kita pungkiri Indonesia merupakan salah satu negara yang sangat pesat perkembangannya dalam permasalahan “aliran sesat”

Salah satu contoh yang belum lama terjadi merupakan kejadian nyata adanya di daerah Bogor. Dengan tokoh utama yaitu Ahmad Musadeq. Ia mulai terkenal karena mengaku sebagai Nabi dan Rasul pada 23 juli 2006. Musadeq menjadi Nabi dan Rasul aliran Alqiyadah Al-Islamiyah.

Ia menafsirkan kitab suci dengan caranya sendiri dan tidak mewajibkan para pengikutnya sholat dan puasa. Musadeq mengaku mendapatkan wahyu ketika ia bertapa di Gunung Bunder Bogor Jawa Barat selama 40 hari 40 malam. Musadeq akhirnya diamankan polisi dan mengaku bertaubat pada tanggal 9 november 2007. Namun, Musadeq kembali muncul lewat organisasi dan aliran Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) yang belum lama ini heboh di tanah air. Musadeq menjadi Nabi dan Rassulnya para pengikut Gafatar.

Musadeq ini hanya satu contoh krisis akidah pada masyarakat sekitar (bogor) yang mengakui bahwa musadeq adalah Nabi merupakan sebuah cerminan bahwa minimnya pengetahuan agama yang ada di negeri kita ini. Sehingga banyak sekali yang mengikuti aliran tersebut. Itu hanya satu contoh saja, belum lagi masih banyak orang-orang yang mengaku sebagai nabi dan rasul di negeri kita ini. 

Dengan terjadinya kejadian tersebut, maka sudah sepatutnya rakyat Indonesia menutup diri dari ajaran-ajaran baru yang sesat seperti Al-Qiyadah al islamiyah dan sebagainya. Namun, bukan berarti menutup diri dengan dunia luar yang mana informasi terus berkembang tuk menambah pengetahuan kita. Dan mari kita berdoa agar kita dan keluarga kita terhindar dari ajaran-ajaran atau aliran sesat yang ternyata masih berkembang subur di daerah kita.

Permasalahan aliran sesat merupakan satu permasalahan, namun permasalahan yang sangat genting. Belum lagi masalah masalah-masalah kesyirikan seperti percaya kepada dukun, benda keramat, sihir dan lain sebagainya yang sampai saaat ini praktik-praktik tersebut nyata adanya di tengah-tengah masyarakt kita. Namun praktik-praktik tersebut sulit terdeteksi karena banyak juga diantara mereka yang praktik ibadahnya sama seperti masyarakat yang aqidahnya murni kepada Allah swt. Namun di samping ia beribadah kepada Allah ia juga meminta pertolongan selain Allah seperti kepada jin. 

Hal seperti ini sering terjadi di daerah saya, dan dengan mata kepala saya sendiri saya menyaksikan bahwa banyak seseorang yang percaya bahwa ada yang dapat mendatang manfaat dan kemudharatan selain dari Allah. Banyak sekali praktik-praktik jimat yang terjadi di daerah saya bahwa banyak para pengusaha yang menjaga asset usahanya dengan menaruh jimat di dalam usahanya tersebut. Padahal Allah swt dengan tegas melarang bagi manusia percaya pada sesuatu selain Allah yang dapat mendatangkan kekuatan
“dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka; ‘siapakah yang menciptakan langit dan bumi?’ niscahya mereka menjawab; ‘Allah’. Katakanlah; ‘maka terangkanlah apa yang kamu seru selain Allah, jika Allah hendak mendatangkan kemudharatan kepadaku, apakah berhala-berhalamu itu dapat menghilangkan kemudharatan itu, atau Allah jika hendak memberi rahmat kepadaku, apakah mereka dapat menahan rahmat-Nya?. Katakanlah; ‘cukuplah Allah bagiku’ kepada-Nya-lah bertawakkal orang-orang berserah diri” (QS Azumar:38)

Ayat yang sangat jelas bahwa tidak ada yang dapat mendatangkan kekuatan selain Allah.  Jimat dan termasuk yang dimaksudkan dalam ayat yang mulia ini. Karena orang yang memakai jimat dan memasang rajah di dinding dan tempat lainnya, bermaksud untuk mendatangkan manfaat seperti dagangannya laris atau agar penyakitnya sembuhatau ingin menolak mudharat seperti menolak ain (mata dengki) atau wabah penyakit.

Dan  pada masyarakat Indonesia yang masih meminta pertolongan pada selain Allah. Seperti hal yang lumrah terjadi ketika pada pemilihan desa, pemilihan camat dan lain sebagainya. Banyak diantar mereka yang menggunakan jasa dukun dengan anggapan bahwa dengan bantuan dukun dapat menjadikan mereka sebagai pemimpin yang terpilih. Atau pada praktik lain seperti pada pertandingan olahraga (sepak bola), banyak pula diantara mereka yang menggunakan jasa jin atau dukun untuk memenangkan mereka. Dan ini merupakan suatu bisnis yang menjanjikan bagi para dukun karena bayaran yang didapat dari jasa mereka itu tidak biasa dianggap kecil. Contoh misalnya pada praktik jasa dukun pada pilkades, jasa perdukunan itu dapat mencapai 10-20jt perdukun. Coba bayangkan jika seorang dukun tidak hanya pilkades saja namun ia memegang pula bisnis dukun pada praktek pertandingan sepak bola. Uang yang di dapat cukup besar

Dan ini merupakan salah satu faktor yang mnyebabkan jasa perdukunan masih berkembang di daerah-daerah. Karena memang uang yang besar dan permintaan yang cukup banyak. Namun kesyirikan tetaplah kesyirikan yang telah Allah jamin tempatnya adalah neraka jahanam. Baik praktik jimat atau sebagainya. Padahal nabi telah menjelaskan dalam hadits
Nabi shalallahu’alaihi wa sallam pernah melihat di lengan seorang pria gelang yang dinampakkan padanya. Pria tersebut berkata bahwa gelang itu terbuat dari kuningan. Lalu Beliau berkata; “untuk apa engkau memakainya?” pria tadi menjawab; “(ini dipasang untuk mencegah dari) wahinah (penyakit yang ada di lengan atasnya). Nabi shalallaaaaahu alaihi wa sallam bersabda: ”gelang tadi malah membuatmu semakin lemah. Buanglah! Seandainya engkau mati dalam keadaan masih mngenakan gelang tersebut, engkau tidak akan beruntung selamanya’ (HR. Ahmad 4:445 dan Ibnu Majah no. 3531)

Namun tidak hanya permasalahan aqidah yang sangat memprihatinkan. Permasalahan akhlak pun sangat perlu perhatian khusus bagi para aktivis dakwah. Bagaimana akhlak yang berkembang pada masyarakat dapat dikatakan ada sebagian masyarakat kembali kepada zaman jahiliyah. Terkhusus bagi para penerus bangsa yaitu para pemuda yang perlu sekali kita dekati. Banyak sekali permasalahan dikalangan pemuda saat ini seperti
Pergaulan bebas
Narkoba
Minuman
Pacaran

Kalau kita lihat kebobrokan akhlak yang terjadi pada kalangan pemuda tidak dapat di salahkan hanya terhadap pemuda itu sendiri. Namun pengaruh perkembangan zaman dan budaya berperan sangat besar dalam kemunduran akhlak pemuda di Indonesia. Tak adanya perhatian yang cukup pada keluarga menyebabkan para pemuda tadi yang masih dalam tahap pencarian jati diri ini memaksa mereka mencari kebahagian di dunia luar. Masih banyak lagi permasalahan yang saat ini khususnya terjadi dikalangan pemuda. Dan itu merupakan tugas kita bersama dalam menghadapinya. Dan saya menarik solusi dari problematika aqidah akhlak di daerah yaitu:

Kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah Rasulullah SAW dalam mempelajari Aqidah dan Akhlak yang benar. Sebagaimana para Salaf Shahih mengambil dan mempelajari aqidah dan akhlak  mereka dari keduanya. Begitu juga dengan mengaji aqidah akhlak golongan-golongan/ aliran-aliran sesat dan mengenal syubhat mereka, untuk kita bantah dan kita waspadai, karena siapa saja yang tidak mengenal keburukan / kejahatan, ia akan dikhawatirkan terjerumus ke dalamnya, tanpa ia sadari. 

Dan juga perlu perhatian pada masyarakat bahwa aqidah itu sangat penting dalam kehidupan berketuhanan dengan memurnikan tauhid hanya pada Allah swt.
Tumbuhkan situasi keluarga yang hangat dan Islami.

Oleh: Putri Ana Sari , Mahasiswi STEI SEBI

Post a comment

0 Comments