CHANGING IS IMPORTANT

 “...Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya;dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” (Q.S.Ar-Ra’du:11)


Hidup itu perubahan. Tentu perubahan dari kondisi yang jelek menuju kondisi yang lebih baik. Perubahan dari sikap permisif ke sikap persuasif. Perubahan dari sikap paganis ke sikap humanis. Perubahan dari idealisme materialisme ke idealisme spirituslisme. Perubahan dari sikap feodal ke sikap demokratis. Perubahan tersebut membutuhkan semangat juang, yaitu HIJRAH atau berpindah dari kondisi yang negatif ke kondisi yang positif. 

Kita harus memahami identitas diri agar hidup kita berfaedah. Dengan demikian, hidup kita akan terarah dan keberadaan kita akan membawa berkah. Bukankah Nabi Isa as., telah menyatakan sesuatu yang berfaedah sebagaimana diabadikan dalam QS. Maryam: 31. (“Dan aku dijadikan berkah (kebaikan) di mana saja aku berada, dan Dia berwasiat kepadaku untuk (mengerjakan) shalat dan zakat selama aku masih hidup”).

Berdasarkan firman Allah dalam QS. Maryam :31, hidup yang penuh berkah dapat kita capai apabila:

Mampu menegakkan sholat, yaitu mengerjakan shalat dengan benar dan tepat, serta mengaplikasikan nilai-nilai shalat dalam kehidupan sehari-hari. 

Mampu menunaikan zakat. Zakat merupakan amal yang memiliki dimensi sosial spiritual. Upaya yang kita lakukan dalam spirit perubahan ini telah mencapai nishab dan haulnya. 

Itulah spirit perubahan. Sadarilah, bahwa semangat perubahan itu dapat memberi manfaat jika diperkokoh dengan nilai transendental vertikal serta nilai transendental horizontal: sholat dan zakat. 

Demikianlah seharusnya dalam setiap perubahan yang hendak kita lakukan. Lakukan kajian dengan matang dari berbagai kemungkinan. Sebab hidup adalah kemungkinan-kemungkinan itu sendiri. Setelah itu, laksanakanlah dan bertawakallah kepada Allah. Perubahan itu perlu, sebab orang yang berpikir dan melibatkan Allah dalam pikirnya senantiasa berupaya untuk berubah ke arah yang lebih baik, yaitu perubahan yang bersendikan ketundukan pada Sang Pemilik Semesta.

Perubahan memang penting dan wajar, namun jika selalu berubah-ubah dengan gegabah perubahan itu harus direnungkan kembali. 


Ditulis oleh Ihza Della Priskila 

Mahasiswi STEI SEBI

Sumber: Buku Guru Kehidupan: Memetik Hikmah Menebar Maslahah karya Agus Salim


Post a comment

0 Comments