Manfaat Dzikir Bagi Hati


Seperti halnya kehidupan tanpa air, maka ketika hati tanpa dzikir akan menyebabkan hati kita kering. Seringkali tanpa disadari kita merasakan hampa dan merasa ada sesuatu yang kurang dalam hidup, namun sebenarnya hal itu merupakan sinyal dari hati kita untuk diisi dengan dzikir atau mengingat Allah SWT. Selain akan membuat hati kita menjadi tentram dan damai, ada tiga manfaat yang akan kita rasakan dalam kehidupan.

Imam Al-Ghazali telah memaparkan manfaat dzikir bagi hati, yaitu :
1. Kebahagiaan setelah kematian
Kematian sudah menjadi rahasia umum bagi setiap manusia. Akan ada waktu-waktu dimana kita akan meninggalkan dunia ini. Harta, anak, istri, suami dan segala yang kita miliki tidak akan kita bawa. Namun, ketika hidup hati kita senantiasa berdzikir kepada Allah, maka hal itu akan memberikan manfaat yang luar bisa bagi kita. Dalam kata lain, dzikir demi dzikir yang kita lakukan akan memberikan syafa’at atau pertolongan bagi diri kita.

2. Senantiasa diingat oleh Allah SWT.
Dalam suatu hadits dikatakan bahwa, “Ketika kita selangkah mendekati Allah, maka Alah akan sehasta mendekat kepada kita.” Dalam arti, semakin kita dekat dengan Allah, maka Allah akan semakin dekat dengan kita. Begitu juga dengan dzikir yang kita lakukan, semakin sering kita dzikir (mengingat) Allah, maka Allah akan lebih sering mengingat kita. Ringan diucapkan, namun besar ganjarannya bukan?

3. Diliputi kebaikan demi kebaikan
Dalam hal ini ada sebuah kisah yang sangat menyentuh. Dikisahkan tentang seorang penjual roti dengan Imam Ahmad. Pada zaman dahulu, seorang penjual roti ini sering mengamalkan dzikirnya setiap saat dengan beristighfar. Setiap pekerjaan yang dia lakukan selalu dibarengi dengan istighfar. Kemudian, pada suatu waktu Imam Ahmad ingin pergi ke suatu daerah tanpa sebab.

Maka berangkatlah Imam Ahmad Kemudian beliau sampai di suatu Mesjid untuk beristirahat. Tidak lama beliau istirahat datanglah pengurus mesjid tersebut dan menyuruh Imam Ahmad untuk pergi. Karena tidak tahu harus kemana beliau berjalan tanpa tujuan. Lalu bertemulah beliau dengan penjual roti dan diajaklah beliau kerumahnya. Kemudia Imam Ahmad selalu mendengar penjual roti itu beristighfar. Ketika menggiling gandum dan selama proses pembuatan roti.

 Kemudian bertanyalah beliau kepada penjual roti, “Wahai hamba Allah, mengapa engkau selalu beristighfar?” “saya beristighfar karena saya sangat ingin bertemu dengan Imam Ahmad.” Jawab penjual roti tersebut. “Masya Allah, saya Imam Ahmad wahai hamba Allah. Pada awalnya saya sangat ingin pergi ke daerah ini tanpa sebab, namun rupanya karena istighfarmu itulah sehingga mendorong saya untuk sampai kesini.” Si penjual roti begitu bahagia dan terharu karena impiannya telah Allah makbulkan dengan ucapan istighfarnya.

 Dari kisah diatas dapat disimpulkan bahwa dzikir bisa membantu kita meraih apa yang diinginkan atas izin Allah SWT. Seorang penjual roti selain mendapat pahala dari Allah karena istighfarnya, beliau juga mendapatkan salah satu impiannya untuk bertemu dengan Imam Ahmad.

Menakjubkan bukan?
 Maka dari itu, dzikir apapun yang terucap oleh hati dan mulut kita sama sekali tidak akan merugikan diri, justru Allah akan melipat-lipatkan pahala yang berganda atas dzikir yang telah kita ucapkan. Karena pada hakikatnya dzikir merupakan kebaikan yang akan membawa kita pada keselamatan dunia dan akhirat.

Dzikir yang diucapkan oleh hati dan mulut kita akan mengantarkan kita pada jalan hidup yang benar dan terhindar dari hal-hal yang dapat membuat Allah tidak suka kepada kita. Kita akan senantiasa dijauhi dari perbuatan dosa dan didorong dalam perbuatan kebajikan ya Allah ridhai.



Oleh: Mutiara Sani, Mahasiswi STEI SEBI

Post a comment

0 Comments