PENTINGNYA BERASURANSI SYARIAH




Seperti yang telah diketahui secara umum, asuransi merupakan suatu kerja sama yang dilakukan oleh dua pihak untuk memenuhi suatu jaminan. Dimana salah satu pihak diwajibkan untuk membayar iuran atau yang biasa disebut dengan premi yang digunakan apabila seseorang mengalami suatu kerugian atau terjadinya suatu peristiwa yang menyebabkan risiko yang tinggi. Sedangkan pihak lainnya berperan sebagai wakil atau perantara para peserta untuk mengatasi keterjadian yang dialami oleh seluruh peserta itu sendiri.

Pada saat ini, era modern sudah semakin canggih dan maju, namun hal itu tidak menghalangi aturan syariat Islam untuk mengikuti alur zaman tanpa keluar dari unsur sara’. Islam pun menciptakan asuransi bagi umat yang diwadahi oleh perusahaan asuransi syariah. Ibnu Abidin sebagai ulama pertama kalangan Muslim dalam asuransi modern yang mempunyai pemikiran terkait dengan asuransi modern.
 
Asuransi syariah hampir sama dengan asuransi umum, yang membedakannya adalah dari pelaporan akuntansinya dimana antara laporan pengelola dan peserta dipisah agar tidak tercampur atas dana masuk dan keluarnya. Sebelum itu, asuransi syariah merupakan akad kerja sama antara satu peserta dengan peserta lainnya. Dengan kata lain, dalam pengumpulan dana baik berupa kontribusi (premi), investasi, dan surplusnya akan dikembalikan kepada peserta kembali bukan untuk pengelola. 

Pengelola hanya sebagai perantara atau wakil dalam mengalirkan dana yang telah dititipkan oleh para peserta. Namun disamping itu dari mana perusahaan asuransi syariah mendapatkan pendapatan? Hal itu diperoleh dari biaya administrasi dan biaya yang terkait dengan asuransi yang diajukan oleh para peserta. Namun di perusahaan asuransi syariah diberlakukan jika laporan keuangan menyatakan adanya surplus maka hak itu untuk para peserta bukan untuk pengelola.

Dalam asuransi syariah, terdapat beberapa akad syariah yang digunakan sebagai suatu transaksi antara pihak peserta dan pengelola. Diantaranya hibah, mudharabah, musyarakah, mudharabah musytarakah, wakalah bil ujroh dan wakaf. Akad - akad tersebut tentunya memiliki peran yang berbeda-beda tergantung dari asuransi yang diajukan oleh para peserta. Akad-akad tersebut juga telah disahkan oleh MUI dalam Fatwa DSN – MUI.

Adapun kerangka acuan asuransi syariah terdapat dalam 4 poin, yaitu : Fatwa DSN yang terkait dengan akuntansi asuransi syariah, PSAK syariah revisi 108 tahun 2016, FAS (Financial Accounting Syariah) dan PSAK umum. Tidak hanya mengenai asuransi saja, namun hal ini juga berkaitan erat dengan standar keuangan yang mengacu pada kerangka acuan dasarnya yang telah diatur dalam PSAK dan AAOIFI.
Selain itu, perbedaan antara asuransi konvensional dengan asuransi syariah terletak pada pengelolaan risiko, yakni : pengelolaan risiko yang dilakukan oleh asuransi konvensional segala risiko yang terjadi di transfer kepada seluruh peserta.

 Sedangkan asuransi syariah memiliki kebijakan sharing of risk yakni jika terjadi suatu risiko diantara peserta maka hal itu menjadi tanggung jawab semua dengan berbagi risiko meski hanya satu orang yang mendapat risiko tersebut. Peran Muslim dalam berasuransi dapat terlihat dengan sikap saling toleransi dan saling membantu.

Mengapa asuransi syariah penting? Karena kebijakan yang dibuat oleh perusahaan asuransi syariah sangat sesuai dengan naluri umat Islam untuk saling toleransi dan tolong menolong yang tedapat dalam Q.S. Ali-Imran / 3 : 104,
”Dan hendaklah diantara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.”
Dari ayat diatas dapat disimpulkan bahwa orang-orang yang menyeru kepada kebaikan termasuk orang yang beruntung. Selain mendapat pahala dari Allah SWT., kita bisa saling membantu dalam kebaikan khususnya dalam berasuransi.




Oleh:Mutiara Sani, Mahasiswi STEI SEBI

Post a comment

0 Comments